Breaking News:

Cerpen

Rendezvous

SENJA basah, petang hari yang diterpa gerimis. Udara dingin. Hawa dingin mulai menyelinap ke dalam tubuh

“Mantap,” ujarku. “Kukira engkau tak lagi pernah menyentuh novel. Aku pun sudah tamat baca karya Andrea Hirata, Laskar Pelangi itu.”

“Kalau baca novel, aku ingat kamu,” tegasnya, “tapi tak tahu di mana bisa menghubungimu.”

Aku terdiam dan terperanjat bukan buatan. Engkau masih mengingatku, batinku.

Pelahan malam mulai jatuh. Sesekali di langit kilat menyambar-nyambar, garis-garis cahaya menerangi sejenak udara yang lembab dan basah, menerangi Jakarta yang dihuni belukar beton. Hujan masih gagah berkuasa. Orang-orang menahan gigil yang mulai menusuk. Terpikir olehku, jika hujan berlangsung agak lama, Jakarta pun akan dilanda banjir. Jika banjir tiba, kasihan orang Jakarta. Rupa-rupanya beberapa kanal banjir, seperti BKT-Banjir Kanal Timur-masih merana dan tersiksa menampung dan menyalurkan air di perutnya. Lampu-lampu jalan telah dinyalakan. Lampu-lampu taman, toko, gedung, hotel, perkantoran, dan lain-lain juga mulai terang benderang. Jakarta pun bermandikan cahaya.

Mobil Honda HR-V putih yang dikendarainya pun tiba jua di bilangan Monas. Dari jauh tampak bus-bus DAMRI berderet di sekitar Stasiun Gambir itu. Ia berputar-putar mencari tempat parkir. Mobil-mobil agak padat di area parkir Stasiun Gambir itu.

“Maaf aku tak bisa mengantarmu ke Bandara Soeta,” ujarnya.
“Tidak apa-apa. Aku senang sekali kau mau mengantarku ke sini. Aku tahu engkau sebenarnya sibuk.”
“Tidak untukmu.”
“Terima kasih.”
“Sama-sama.”
Ia tersenyum. Namun, kali ini kulihat senyumnya kelihatan merana. Di wajahnya kutangkap ada warna kepiluan, laksana menggantung suatu beban.

“Sampaikan salamku untuk istrimu….”
“Ya. Terima kasih. Sampaikan juga salam hangatku untuk suamimu.”
“Ia pastilah istri yang berbahagia bersamamu….”
“Insya Allah,” kataku. Namun, lalu serta merta aku tersentak dan tersadar, “Hei, ada apa denganmu?”

Aku menepuk bahunya, pelahan. Kulihat, bulir-bulir kecil air matanya meleleh di pipi putih bersihnya. Ia menangis. Aku terkejut. Sesekali ia membetulkan jilbabnya. Syalnya bergantung tidak beraturan. Ia memegang-megang ujung hidung bangirnya yang tiba-tiba menjadi basah oleh ingus.

“Kita masih tetap sahabat, ‘kan?” tanyanya, bagaikan sebuah pinta. Kata-katanya seperti merana, pilu.
“Ya,” ujarku, dengan anggukan yang keras, memastikan. “Hingga aku menutup mata. Hingga kita menghadap-Nya kelak.”
“Terima kasih….”
Ia menyeka air mata dan ingusnya dengan sapu tangannya. Kemudian, ia pun bercerita.
“Suamiku sebenarnya sedang di penjara….”. Ia lantas menyebut nama suaminya. Rasanya aku pernah mendengar nama itu. Ia orang beken.
Dari dulu, ia sering berbagi cerita denganku. Ia bisa berterus terang kepadaku tentang berbagai hal walaupun sejatinya kami tidak berpacaran sama sekali.
Aku terhenyak. “Mohon maaf, …. Kasus apa?”

“Ia semula aktif di salah satu partai politik. Karena suatu persoalan ia dan beberapa temannya tersangkut kasus korupsi. Mereka dinyatakan bersalah dan kini masuk bui.”

Ia diam. Ia melihat keluar kaca depan mobil bagai menerawang jauh. Pandangannya seperti kosong.

“Aku sudah mengingatkannya agar jangan ikut partai politik. Bisnis saja. Bisnis kami pun sudah terbilang sukses. Manusia tak pernah puas ya. Benar kata Nabi, orang baru puas kalau sudah mati. Tetapi, ia tetap berkeras. Aku tak kuasa menahannya. Aku mencintainya dan aku tak sanggup melihatnya gundah jika aku menahannya. Doakanlah aku agar aku dan anak-anak kuat menjalani semua ini. Doakan pula agar suamiku cepat keluar.”

Aku mengangguk. “Ya, pasti,” ujarku.
“Aku serasa limbung menjalani perusahaan kami tanpa suamiku di sisiku. Aku menguat-nguatkan diri. Aku bersyukur engkau meneleponku dan kita bisa bertemu kembali, aku bisa berbagi beban denganmu.”

“Kuatkanlah dirimu. Aku dan keluargaku akan selalu berdoa untukmu. Banyak-banyaklah bertahajud.”

“Terima kasih….”
“Kalau engkau sumpek di Jakarta, kadang mudiklah ke kampung kita. Aku dan istriku akan menjemputmu.”

“Terima kasih, engkau baik sekali. Dari dulu engkau baik sekali padaku….”

Aku tersenyum.

“Selamat jalan,” ujarnya, “Sekali lagi, sampaikan salamku untuk istri dan anak-anakmu. Kapan-kapan ajaklah ia ke Jakarta, ke rumahku.”
Aku jadi terharu. “Terima kasih.”
Ia membuka pintu mobil, mempersilakanku, menyalamiku. Kulihat, air matanya kembali titik. Ia menyekanya dengan jempol kirinya. Aku tak tahu apa yang sedang berkecamuk di dalam dadanya. Ia melambaikan tangannya. Perlahan mobilnya menjauh. Gelap malam mulai paripurna. Jakarta pun kian deras diterpa hujan.

Bandara Soeta, Jakarta-Aceh, September 2017

* Muhammad Muis, adalah bahasawan, pencinta dan penikmat sastra, dan Kepala Balai Bahasa Aceh

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved