Selasa, 28 April 2026

Opini

Bahasa Aceh; Ejaan Sakit dan Kematian Bahasa

DALAM keseharian, kita di Aceh seringkali memandang negatif pada orang Aceh atau anak yang ibu-bapaknya orang Aceh

Editor: bakri
Kepala Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi, Kemenag RI, Choirul Fuad Yusuf (kiri) dan Rektor UIN Ar-Raniry, Prof Dr H Farid Wajdi Ibrahim MA menandatangani naskah kerja sama penerjemahan Alquran dalam bahasa Aceh, Jumat (24/3) di kampus tersebut. FOTO-HUMAS UIN AR-TANIRY 

Oleh Septhia Irnanda

Literature together with language preserves and protects a nation’s soul (Tulisan bersama-sama dengan bahasa menjaga dan melindungi jiwa sebuah bangsa). - Aleksandr Solzhenitsyn

DALAM keseharian, kita di Aceh seringkali memandang negatif pada orang Aceh atau anak yang ibu-bapaknya orang Aceh asli, tapi tidak bisa berbicara Bahasa Aceh. Begitu pula saat ada orang Aceh yang kita jumpai berbicara Bahasa Aceh dengan aksen yang tidak fasih. Namun ironisnya, tidak ada seorang pun yang keberatan saat orang menulis Bahasa Aceh dengan standar penulisan yang tidak baku. Tidak ada yang marah saat ejaannya salah, namun semua protes saat pengucapannya salah. Semua berteriak lantang tentang pentingnya menjaga eksistansi bahasa endatu ini, namun tidak ada yang benar-benar menghargai dan menghormati kabakuan penulisannya. Sepertinya kita ingin membiarkan Bahasa Aceh tetap menjadi bahasa Spoken saja di dunia percakapan dan tidak benar-benar berniat mengangkatnya ke dunia yang sedikit lebih panjang umur, dunia tulisan.

Perhatikan bagaimana kita dengan seriusnya membahas tentang teknologi dan ilmu pengetahuan dengan Bahasa Indonesia, lalu beralih ke Bahasa Aceh hanya untuk bersenda gurau dengan teman di warung kopi. Lihat bagaimana para orang tua muda di perkotaan yang berkasih-sayang dengan anak-anaknya dalam Bahasa Indonesia, lalu saat si anak berulah, mereka beralih menggerutu dalam Bahasa Aceh. Sekecil inikah fungsi Bahasa Aceh dalam kehidupan nyata kita? Bukan tidak mungkin, suatu hari nanti fungsi Bahasa Aceh hanya tinggal pada konteks makian atau lucu-lucuan saja, seperti yang dipertontonkan dalam komedi-komedi.

Satu penyebab terbesar kepunahan sebuah bahasa adalah karena bilingualisme atau beralihnya sekelompok manusia ke bahasa kedua, meninggalkan bahasa pertamanya secara perlahan melalui beberapa tahapan generasi. Kita tentu saja tidak bisa menyalahkan atau melarang penggunaan Bahasa Indonesia demi menyelamatkan Bahasa Aceh. Sejak berabad-abad lalu, Bahasa Indonesia, yang lahir dari Bahasa Melayu Tua, telah menjadi bahasa penghubung berbagai bangsa di Asia Tenggara. Yang perlu kita lakukan adalah menyelamatkan Bahasa Aceh dengan cara meluaskan fungsi dan perannya agar bersaing dengan Bahasa Indonesia.

Telah banyak contoh-contoh kasus di berbagai belahan dunia di mana dua bahasa bisa bersama-sama tumbuh kuat. Di Kanada, Bahasa Inggris dan Bahasa Perancis sama-sama berstatus tinggi. Di Filipina, masyarakatnya bisa menulisa dan membaca dalam Bahasa Tagalog dan Bahasa Inggris. Di Cina, Bahasa Cantonese pun bisa menjadi bahasa medium belajar di sekolah, tidak hanya Bahasa Mandarin saja. Bahasa Aceh pun harusnya bisa mengakomodir bukan hanya pembicaraan “basa-basi”, namun juga topik-topik serius seperti politik, ekonomi, sains, dan sosial budaya.

Memajukan sastra
Satu cara menyelamatkan sebuah bahasa dari kepunahan adalah dengan memajukan sastranya. Sastra di sini tidak terbatas pada puisi atau pantun, namun segala macam bentuk literasi; cerita pendek, majalah, buku cerita anak, poster, komik, dan lain sebagainya. Ini semua harus ditulis dengan merujuk pada sebuah ejaan baku. Tentu saja ini bagian yang tidak mudah. Ambil contoh deretan lé, lheè, dan le. Kata-kata yang cukup tinggi frekuensi pemakaiannya ini, saat ini ditulis dengan berbagai cara oleh penuturnya.

Sedikit merepotkan memang menghabiskan sedikit waktu untuk mencari tahu ejaan bakunya di Kamus Bahasa Aceh, saat orang-orang pada akhirnya akan memaklumi dan mengerti kesalahan penulisan kita dengan bantuan konteks kalimatnya. Mungkin orang akan berkilah, toh hanya untuk komunikasi informal seperti status facebook, untuk apa repot-repot menulis dengan ejaan yang baku. Masalahnya, poster-poster dan tulisan-tulisan resmi lainnya pun penuh dengan ejaan yang tidak tepat dan tidak seragam satu dengan lainnya.

Lihat bagaimana tegasnya seorang guru Bahasa Inggris memastikan anak didiknya menulis ejaan Bahasa Inggris dengan benar. Padahal sistem penulisan Bahasa Inggris itu jauh lebih berantakan dari pada sistem penulisan Bahasa Aceh. Bunyi dan huruf yang berbeda jauh dalam tulisan membuat anak-anak SD di Inggris terpaksa menghafal huruf-per-huruf untuk kata-kata yang ejaan bunyi dan hurufnya tidak konsisten, agar bisa menulis Bahasa Inggris dengan baik dan benar. Bayangkan bila mereka boleh menulis dengan cara sesuka hati, seperti yang kita lakukan dengan Bahasa Aceh. Mungkin Bahasa Inggris tidak akan pernah menjadi bahasa resmi dunia. Ejaan yang standar itu penting dan bisa mengangkat status sebuah bahasa.

Berbicara tentang standarisasi sistem penulisan, ada dua hal penting yang harus ditempuh. Pertama, meresmikan standar yang disepakati oleh semua kalangan. Ini memang sebuah hal problematik mengingat penutur Bahasa Aceh itu sendiri terpecah kepada beberapa dialek. Kata yang sama dilafalkan berbeda oleh dua penutur dialek yang berbeda. Kata ‘petik’ diucapkan sebagai pèt oleh penutur dialek Aceh Besar, dan pet oleh penutur dialek Aceh Utara. Solusi untuk masalah ini ada dua; yang pertama, memilih dialek yang paling besar jumlah penuturnya, atau kedua, tidak berpatok pada dialek manapun; bentuk baku setiap kata dipilih dari bentuk yang paling popular di percakapan antardialek. Masalah lain yang harus dipikirkan adalah aturan penyerapan kata-kata asing dan menyesuaikan ejaanya ke dalam Bahasa Aceh standar.

Selain itu, bunyi huruf vokal yang lebih kompleks di dalam Bahasa Aceh juga harus diterjemahkan ke dalam sistem penulisan dengan penambahan huruf ekstra pada sistem alfabet Bahasa Indonesia yang telah kita kenal. Sistem penulisan yang beredar dalam dokumen-dokumen resmi saat ini menggunakan simbol monograf seperti (è, é, ô, dan ö) dan sebuah diagraf (eu). Tidak banyak yang familiar dengan simbol-simbol baru ini dan lebih memilih ‘mengakali’ alfabet Bahasa Indonesia untuk menulis kata-kata Bahasa Aceh.

Tidak familiar
Penelitian oleh Yulia (2009) menunjukkan bahwa anak-anak Aceh tidak familiar dengan simbol-simbol itu dan bunyi yang diwakilinya. Hal itu terbukti dengan tingginya angka anak yang tidak menggunakan ejaan Bahasa Aceh yang baik dan benar dalam uji spelling yang diberikan. Menyosialisasikan simbol-simbol ini melalui buku bacaan yang dikemas dengan cerita dan gambar yang menarik bisa menjadi cara yang efektif menyosialisasikan bukan hanya kosakata, tapi juga bunyi-bunyi unik dalam Bahasa Aceh yang tidak ditemukan dalam Bahasa Indonesia.

Menurut sebuah hasil penelitian di Papua Nugini, anak-anak yang diajari dan belajar menulis-membaca dengan bahasa ibunya, yaitu Bahasa Tok Pisin, terbukti belajar dengan lebih cepat dan memiliki nilai akademik yang lebih baik dari pada anak yang memulai pelajaran membacanya dengan Bahasa Inggris. Anak-anak yang belajar mengenal bunyi dan huruf melalui bahasa sehari-harinya, akan lebih bersemangat dan termotivasi untuk belajar karena mereka mengenali kosakata yang digunakan, dan lebih bebas mengekspresikan idenya dalam bahasa yang mereka kuasai dengan baik.

Mengingat saat ini masyarakat Aceh telah menukar bahasa dominannya dari Bahasa Aceh ke Bahasa Indonesia, maka semakin banyak anak-anak yang berbicara Bahasa Indonesia sebagai bahasa terkuat mereka. Akibatnya, mengajarkan Bahasa Aceh sebagai media ajar membaca tidak lagi efektif. Namun, saya rasa di daerah pedesaan masih banyak anak-anak yang terpapar kuat dengan Bahasa Aceh dalam kesehariannya sejak umur pra-sekolah. Sehingga tidak ada salahnya menyuplai mereka dengan buku-buku bacaan dalam Bahasa Aceh dengan konten yang mendidik dan gambar yang menarik untuk menumbuhkan apresiasi yang kuat pada sistem alfabet Bahasa Aceh. Tentu saja ini dilakukan berbarengan dengan memberikan bacaan berbahasa Indonesia pula, agar skill keduanya terbentuk bersamaan dan saling menunjang.

Para peneliti tentang pembelajaran bahasa percaya bahwa menjadi bilingual dapat meningkatkan kemampuan memahami tentang bagaimana Bahasa bekerja pada umumnya, yang pada akhirnya dapat mendukung pembelajaran bahasa ketiga, keempat, dan seterusnya. Keuntungan berbahasa lebih dari satu ini hanya dapat terjadi apabila si anak bilingual benar-benar menguasai kedua bahasanya, serta dapat menulis dan membaca menggunakan kedua bahasanya itu. Membaca dan menulis dalam dua bahasa membuat seseorang sadar akan perbedaan dan persamaan dari kedua bahasanya, sehingga ketika dihadapkan dengan bahasa ketiga, mereka tidak serta-merta mencampur-adukkan bahasa lama ke bahasa barunya dan akan berusaha melihat bahasa baru dengan aturannya sendiri yang unik.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved