Opini
Diplomasi ‘Zaman Now’
DINAMIKA internasional selama 2017 lalu dan awal 2018 ini, masih menunjukkan sejumlah kekisruhan diplomatik
Pembinaan hubungan bilateral seperti adanya lawatan Presiden Jokowi ke Asia Selatan dan Tengah pada awal 2018 (kunjungan ke Sri Lanka, India, Pakistan, Balandesh, dan Afghanistan) sangat berarti dalam rangka peningkatan hubungan dan kerjasama bilateral. Begitu juga dengan kegiatan saling kunjungan muhibah anggota DPR, guna menguatkan tali persahabatan antarnegara, termasuk perjalanan kepala daerah, pejabat pemerintahan, kalangan pengusaha, pertukaran pemuda/mahasiswa serta misi seni budaya, misi perdamaian dan bantuan kemanusian dengan harapan dapat semakin meningkatkan hubungan dan kerjasama konkrit guna kemajuan Nasional.
Hubungan baik bukan berarti tanpa tantangan atau gesekan, hanya saja adanya komunikasi baik tentunya tantangan dan permasalahan apa pun dapat diselesaikan dengan baik. Seperti ketersinggungan Indonesia pada SEA Games ke-29 (2017) atau sejumlah insiden bilateral dengan negara-negara tetangga dalam isu sensitif kedaulatan yang sering menimbulkan kegeraman dari seluruh komponen bangsa. Namun, hal itu selalu bisa teratasi dengan baik.
Pada akhirnya eksistensi suatu negara di forum internasional dalam aktivitas diplomatik akan sangat dipengaruhi oleh kekuatan nasional (domestik), khususnya keutuhan teritorial, kekuatan militer dan ekonomi; Jumlah penduduk (kesejahteraan) dengan stabilitas politik dan kepiawaian (soft power); serta sumber daya alam berserta letak geografis suatu negara.
Erwin Siddiq, alumnus Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh. Saat ini sebagai Diplomat RI yang bertugas di Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan (BPPK) Kementerian Luar Negeri RI di Jakarta. Email: erwinshiddiq.ui@gmail.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/kapal-perang_20171231_224905.jpg)