Senin, 1 Juni 2026

Mengenal Sejarah Stephen Hawking, Seorang Ilmuwan Jenius Ahli Fisika

Karyanya mengenai asal-usul dan struktur alam semesta merevolusi fisika menjadi yang kita kenal sekarang.

Tayang:
Editor: Faisal Zamzami
Stephen Hawking(chemtrailsplanet) 

SERAMBINEWS.COMStephen Hawking yang meninggal pada 13 Maret 2018 merupakan salah satu fisikawan teoritis paling ternama dalam sejarah.

Karyanya mengenai asal-usul dan struktur alam semesta merevolusi fisika menjadi yang kita kenal sekarang.

“Belum pernah ada ilmuwan setelah Albert Einstein (selain Hawking) yang bisa memikat imajinasi publik dan mendekatkan dirinya dengan puluhan juta manusia di seluruh dunia,” kata Michio Kaku, profesor fisika teoritis di City University of New York seperti dilansir dari New York Times, Rabu (14/3/2018).

Hawking lahir di Inggris pada 8 Januari 1942. Dia mempelajari ilmu fisika di University College, walaupun ayahnya memintanya belajar pengobatan.

Setelah lulus, dia meneliti kosmologi di Cambridge University.

Pada awal 1963, Hawking yang saat itu mau berulang tahun yang ke-21 didiagnosis dengan amyotrophic lateral sclerosis (ALS) atau penyakit Lou Gehrig.

Dia sempat dikira hanya akan bisa bertahan hidup selama dua tahun, tetapi nyatanya bisa hidup hingga usia 76 tahun.

Namun, penyakit ALS yang diderita Hawking bukan tanpa dampak.

Ia perlahan-lahan kehilangan kemampuannya untuk bergerak dan harus memakai kursi roda. Pada 1985, Hawking harus menjalani operasi trakeostomi yang membuatnya kehilangan kemampuan untuk berbicara.

Untungnya, sebuah alat yang dibuat oleh Cambridge University membantunya untuk berkomunikasi.

Hawking bisa memilih kata-katanya hanya dengan menggerakan otot pada pipi.

Baca: Calon Anggota KIP Aceh Singkil Mulai Mendaftar, Formulir Dapat Diunduh di Akun Facebook

Baca: Setelah Jembatan Beton Ambruk Diterjang Banjir, BPBK Abdya Bangun Jembatan Darurat

  • Seorang jenius

Penyakitnya tidak mematahkan keinginan Hawking untuk mengeksplorasi alam semesta.

Selama kariernya, Hawking mencoba menguak misteri alam semesta.

Dia pun berhipotesis bahwa jika alam semesta memiliki awal, yaitu Big Bang, maka ia akan memiliki akhir juga.

Hawking bekerjasama dengan pakar kosmologi Roger Penrose dan mendemonstrasikan Teori Relativitas Umum Albert Einstein yang menunjukkan bahwa ruang angkasa dan waktu dimulai pada kelahiran alam semesta dan berakhir dengan lubang hitam.

Memadukan teori Einstein dan teori kuantum, Hawking menemukan bahwa lubang hitam tidak diam saja.

Lubang hitam justru berdesis, mengeluarkan radiasi dan partikel, sebelum akhirnya meledak dan menghilang.

Ketika menyadari hal ini, Hawking sendiri sempat tidak mempercayainya. Namun, semua kalkulasinya kembali ke hasil yang sama.

Hasil tersebut kemudian dipublikasikan pada 1974 dalam artikel berjudul “Ledakan Lubang Hitam?” di jurnal Nature dan memunculkan konsep baru bernama radiasi Hawking.

Pada 2014, Hawking merevisi teorinya dan menyatakan bahwa lubang hitam tidak ada, setidaknya lubang hitam yang kita kenal secara tradisional.

Dalam teori baru yang kontroversial ini, Hawking tidak mengakui adanya horizon peristiwa atau batas lubang hitam.

Sebaliknya, dia berkata lubang hitam memiliki horizon yang akan berubah menurut perubahan kuantum.

Selain itu, Hawking juga mengklaim bahwa alam semesta ini tidak memiliki batas.

Walaupun jumlah planetnya terbatas, seseorang bisa mengelilingnya tanpa batas dan tidak akan pernah bertemu dinding.

Baca: Kumpulan Sopir Truk di Pidie Santuni Anak Yatim, Sisihkan Penghasilan Untuk Warga Miskin

Baca: Selamatkan Air Untuk Petani Pidie, Abusyik Minta Hentikan Aksi Pembalakan Liar di Hutan Lindung

  • Dalam media populer

Selain seorang ilmuwan, Hawking adalah penulis buku populer.

Buku pertamanya yang dipublikasikan pada 1988 dengan judul A Brief History of Time telah terjual lebih dari 10 juta kopi.

Dalam buku tersebut, Hawking mencoba mengomunikasikan pertanyaan-pertanyaan tentang kelahiran dan kematian alam semesta.

Selain A Brief History of Time, Hawking juga menulis berbagai buku nonfiksi untuk masyarakat awal dengan judul A Briefer History of Time, The Universe in a Nutshell, The Grand Design, dan On the Shoulder of Giants.

Bersama putrinya Lucy Hawking, dia menulis buku fiksi tentang penciptaan alam semesta untuk remaja.

Salah satu dari buku ini berjudul George and the Big Bang. Di luar pena dan kertas, Hawking juga tampil beberapa kali di televisi, termasuk berperan sebagai dirinya sendiri di salah satu episode Star trek: The Next Generation dan Big Bang Theory.

Ia juga pernah memiliki acara miniseri edukasi berjudul Stephen Hawking’s Universe.

Dia juga pernah muncul di The Simpsons dan iklan situs pembanding asuransi GoCompare.

Suaranya dalam iklan tersebut kemudian digunakan Pink Floyd untuk lagu mereka yang berjudul Keep Talking.

Terakhir dan mungkin paling dikenal oleh masyarakat Indonesia adalah film berjudul The Theory of Everything yang membuat Hawking merefleksikan kehidupannya kembali.

Dalam akun Facebook-nya, Hawking menulis pada 2014, walaupun aku cacat parah, aku telah sangat sukses di bidangku.

Aku telah berkelana jauh dan pernah ke Antartika dan Easter Island, turun ke dalam kapal selam dan naik ke penerbangan tanpa gravitasi. “Suatu hari, aku berharap bisa ke luar angkasa,” imbuhnya. (SPACE.COM,The Guardian,nytimes.com)

Baca: Wabup Simeulue Lantik 123 Kepala Sekolah dan Pengawas

Baca: Soal Tanah Wakaf Aceh di Arab Saudi, BPKH Angkat Bicara, Ini Penjelasan Anggito Abimanyu

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Sejarah Singkat Seorang Jenius Bernama Stephen Hawking"

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved