KUPI BEUNGOH
Kisah Habib Teupin Wan, Ulama Pejuang yang Terlupakan
Pertempuran di Samalanga merupakan pertempuran terdahsyat lainnya dan di sana juga banyak terdapat syuhada perang Aceh
Secara geografis, wilayah Lung Keung merupakan wilayah perbukitan. Dalam strategi perang, posisi pertahanan seperti itu sangat menguntunngkan dikarenakan mudah untuk memantau dan menyerang musuh.
Intensifnya pergerakan pasukan Belanda menyebabkan para pejuang Aceh beserta Sultan Mahmud harus mundur ke Pager Ayer dan beliau kembali ke Rahmatullah akibat penyakit kolera yang dideritanya pada tahun 1874 M.
Baca: Drama Tgk Chik Di Tiro Warnai HUT RI di Pidie
Penggantinya Sultan Muhammad Daud Syah yang kemudian hari menjalankan pemerintahan di Keumala, Pidie.
Menurut H.C. Zentgraff, Habib Teupin Wan berhijrah ke Keumala setelah dilakukan operasi besar-besaran oleh pihak Belanda.
Walaupun pada saat tersebut Habib Teupin Wan masih sangat muda tetapi karakter beliau sudah menunjukkan seorang pemimpin yang memiliki visi yang sangat tegas, yakni mengusir penjajah Belanda dari Tanah Aceh tanpa tawar menawar.
Banyak tempat di wilayah mukim XXVI, dimana beliau berhasil membuat rugi serta banyak pasukan Belanda yang mati di wilayah tersebut.
Sehingga tidak mengherankan apabila Scounk Hourgronje menyebutkan beliau sebagai salah satu tokoh yang berbahaya dan disebut dengan Tengku Chik Di Tiro Kedua.
Menurut Oral Histroy, Habib Teupin Wan terus melakukan perlawanan dengan pihak Belanda bersama para pejuang lainnya setelah benteng pertahanan para pejuang Aceh dapat direbut oleh Belanda di Seulimeum pada tahun 1878 M.
Dalam catatan sejarah, pada tahun 1876 M Van Heijden menyerang Samalanga dengan mengerahkan kekuatan tiga batalion tentara.
Tiap batalion terdiri atas tiga kompi, dimana masing-masing kompi berjumlah 150 pasukan.
Baca: VIDEO: Drama Kolosal Laksamana Malahayati, Begini Sedikit Kehebatannya
Pertempuran di Samalanga merupakan pertempuran terdahsyat lainnya dan di sana juga banyak terdapat syuhada perang Aceh.
Istiqamahnya perjuangan Habib Teupin Wan tercermin dari pengabaian untuk menyerah yang disarankan oleh Tuanku Mahmud melalui suratnya pada tanggal 27 Rajab 1327 H/ 14 Agustus 1909 M.
Dimana isi surat tersebut menyerukan supaya Habib Teupin Wan, Tengku Mahyuddin bin Tengku Syeikh Saman, Tengku Di Bukit bin Tengku Syeikh Saman, Tengku Hasyem, Tengku Ulee Tutue dan Tengku Ibrahim untuk menyerah kepada Belanda.
Tetapi Habib Teupin Wan bersama ulama lainnya tidak menghiraukan surat ini dan terus berjuang untuk melepaskan Aceh dari belenggu Belanda.
Apabila ditinjau dari segi waktu pada tahun 1909 M tersebut, Habib Teupin Wan merupakan tokoh pejuang Aceh yang terlama, tentunya sudah banyak pahitnya perjuangan yang beliau lalui tetapi Allah SWT menguji beliau tidak hanya sampai di situ.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/habib-teupin-wan_20180620_012736.jpg)