Ghufran, Hafiz Tampan Asal Subulussalam yang Jadi Imam Tetap di Masjid Jamik Unsyiah
Dia adalah Muhammad Ghufran Zakira, mahasiswa Fakultas Teknik Kimia diangkat menjadi imam tetap di masjid kampus.
Penulis: Khalidin | Editor: Yusmadi
“Semua ini berkat kegigihan ayah, dia begitu sabar dan gigih mendorong kami untuk menjadi penghafal alquran, padahal kami bukan dari keluarga ustaz,” tutur Ghufran.
Kembali soal Ghufran, mengenyam pendidikan nonformal Taman Kanak-Kanak (TK) Aisyah Bustanul Athafal dan bersekolah di Sekolah Dasar (SD) Negeri 6 Subulussalam.
Setamat di SDN 6 Subulussalam, Ghufran pun melanjutkan ke SMPIT-SMAIT Alfityan Medan, Sumatera Utara.
Namun, kata Ghufran, sejak SD dia mulai mendapat bimbingan membaca dan menghafal alquran melalui seorang guru private Ustaz Adnan Abdullah.
Makanya, saat masih duduk di Sekolah Dasar, Ghufran sudah mampu menghafal 5 juz alquran.
Dari sembilan imam di Masjid Jamik Ghufran satu-satunya termuda dan masih berstatus mahasiswa.
Selain itu semuanya dosen yang sudah berusia serta setidaknya menyandang gelar sarjana S2. Selain di masjid jamik, ghufran juga sering menjadi imam di sejumlah masjid seperti masjid putih, Masjid Oman (Baitul Makmur), masjid di Sibreh dan masjid RSUZA.
Bahkan, salah satu dokter spesialis di Masjid RSUZA meminta agar bisa menjadi imam tetap di masjid itu.
Saat libur puasa atau Idul Fitri, Ghufran pun tak jarang harus kembali balik ke kampus karena dia mendapat sejumlah jadwal imam di berbagai masjid di Banda Aceh dan Aceh Besar.
Seperti bulan Ramadhan lalu, Ghufran mendapat jadwal padat sebagai imam.
Lagi-lagi, dari sederet nama imam di jadwal tersebut hanya Ghufran yang berstatus mahasiswa.
”Tapi ayah saya selalu berpesan agar tidak menjadi orang munafik. Artinya saya diingatkan selalu untuk singkron antara antara amanah sebagai imam dan gelar hafiz dengan perilaku sehari-hari,” tambah Ghufran.
Baca: Kampung Acheh di Malaysia Undang Lima Imam dari Aceh, Menjaga Tradisi Indatu
Ghufran pun mengaku, sandangan hafiz menjadi kenikmatan baginya dan diakui kerap mendapat kemudahan.
Dia sendiri mengaku jika setiap anak memiliki potensi yang sama untuk menghafal, yang penting, manfaatkan waktu dengan baik, kesiapan mental, dan juga kesabarannya itu yang terpenting.
Seperti dirinya, meski menempuh pendidikan di sekolah umum bukan dayah khusus namun tetap bisa menjadi hafiz.
Padahal, lanjut Ghufran dia harus bekerja keras membagi waktu antara belajar dan menyiapkan setoran hafalan.
Nah, bagaimana kiat-kiat menjadi penghafal alquran, simak penuturan Ghufran Zakira dan penjelasan sang ayah di tulisan berikutnya. (*)