Opini
Rahmat Kemerdekaan
17 AGUSTUS 1945, 73 tahun lalu, merupakan hari bersejarah, sarat dengan nilai-nilai herois dan religius
Bagaimana saat ini memerangi keberagaman dan perbedaan menjadi kesatuan bukan sebaliknya menjadikan perbedaan dalam permusuhan. Bagaimana Aceh yang sejak dulu sudah diperjuangkan dan dipertahankan mati-matian dari segala bentuk kezaliman dan penindasan, sehingga bersatu dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Jangan hanya karena kepentingan segelintir orang, yang sudah bersatu itu mau dipecahkan kembali. Hidup damai adalah indah, hidup dalam ukhuwah adalah berkah. Sebaliknya hidup berpisah dan firqah, menjadi kita susah. Mari kita mengantarkan bangsa dan Aceh ini kepada kehidupan yang marhamah, selamat dari berbagai bencana dan musibah, sebagaimana diisyaratkan Alquran, baldatun tayyibatun warabbun ghafur.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya, selalu bertumpu pada ajaran Islam, memancarkan nilai-nilai akhlak dan moral. Karena negara yang berpegang pada nilai-nilai akhlak, Negara itu tetap akan jaya dan megah, sepanjang masa, sebaliknya bila akhlak bangsa hancur dan dilupakan maka tunggulah tiba saatnya kehancuran, seperti disinyalir Syauqy Bey dalam syairnya, Innamal umamul akhlaqu ma baqiyat, wa inhumu dzahabat akhaquhum dzahabu.
* Dr. H. Abdul Gani Isa, SH., M.Ag., Staf Pengajar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry, dan anggota Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh. Email: aganiisa@yahoo.co.id
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/pahlawan_20180327_150119.jpg)