Opini

Teologi Bencana

SETIAP bencana ada saja pihak yang mencari sebab dan untuk siapa bencana ditujukan

Editor: bakri
SERAMBINEWS.COM/M ANSHAR

Dalam perspektif Alquran dikatakan bahwa “jika engkau bersyukur maka kami akan menambah nikmat, jika engkau kufur maka azab Kami sangat pedih.” Ayat ini memberikan gambaran kepada kita bahwa azab ada kaitan erat dengan sikap individu dalam bersyukur dan berterima kasih, serta menikmati rahmat yang ada. Aliran ini yakin bahwa bencana bersifat natural dan sekuler, namun sekaligus bisa diminta campur tangan Tuhan untuk meredakan kondisi alam yang berpotensi bencana.

Ilustrasi yang paling sederhana dari alairan ini adalah shalat Istisqa (shalat minta hujan). Kemarau panjang menyebabkan kekurangan air, sedangkan masa penghujan melimpahnya air, sehingga dilakukanlah upaya menabung air di masa sulit untuk kepentingan menghadapi alam. Namun upaya menabung air ini pun tidak mampu merentang masa kemarau itu, maka Islam menawarkan shalat Istisqa. Banyak upaya dilakukan untuk mengurangi risiko bencana ini lewat doa bersama, meningkatkan kasih sayang sesama muslim, memakmurkan masjid, dan lain sebagainya.

Meningkatkan kesadaran
Karenanya, beda dalam memahami sebab bencana membuat masyarakat beda dalam meningkatkan kesadaran dan budaya bencananya. Aliran teologis akan membuat masyarakat tergantung dengan apa yang terjadi, sedikit upaya mereka untuk sadar bahwa mereka berada di bumi yang ada potensi di atasnya. Seharusnya mereka berupaya untuk menyikapi dengan sikap dan sudut kerja budaya kesiapsiagaan. Kejadian gempa dan tsunami 2004 lalu, belum cukup kuat untuk meningkatkan kesadaran dan budaya bencana masyarakat Aceh.

Aliran kedua natural memberikan kesadaran penuh bahwa peradaban manusia harus dibangun tangguh untuk menghadapi bencana, termasuk manusianya harus berperilaku sesuai dengan potensi bencana yang ada di sekelilingnya. Misalnya masyarakat Jepang, dengan bencana gempa dan tsunami yang sering mereka alami, membuat mereka lebih ulet, disiplin dan tangguh dalam menghadapi bencana yang ada.

Aliran eskatologis menjadikan masyarakat sadar akan potensi dan budaya bencana yang harus dilakukannya, namun mereka juga bergantung kuat kepada Allah Swt untuk menjauhkan bala bencana, dengan mempersiapkan diri sekaligus memohon perlindungan yang kuasa. Inilah yang dilakukan umat Islam pada masa Rasulullah saw. Kita masih ingat bagaimana Umar mengirim surat kepada Sungai Nil agar patuh pada perintahnya; ketika Umar memukul bumi memerintah gempa untuk berhenti; Rasullulah juga mampu berperang dengan pasukan yang sedikit dengan kesiapan mental yang kuat (mitigasi), dan berdoa kepada Allah Swt agar membantu pasukan yang sedikit itu dengan para malaikat.

* Teuku Dadek, Kepala Pelaksana Badan Penganggulangan Bencana Aceh (BPBA). Email: tadadek@gmail.com

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved