Bir Tawil, Tanah yang Tak Diinginkan Negara Mana Pun
Pada peta Mesir, Bir Tawil ditampilkan sebagai milik Sudan. Pada peta Sudan, itu muncul sebagai bagian dari Mesir.
Tetapi tiga tahun kemudian, Inggris memutuskan batas yang disepakati tidak benar-benar mencerminkan penggunaan sebenarnya dari wilayah itu oleh suku-suku asli di daerah tersebut.
Sehingga, mereka menyusun batas baru.
Sebidang tanah kecil di sebelah selatan paralel 22, diputuskan oleh Inggris harus dikelola oleh Mesir.
Karena, itu adalah rumah bagi suku Ababda yang nomaden, yang memiliki hubungan lebih kuat dengan Mesir daripada Sudan.
Wilayah yang kemudian disebut sebagai Bir Tawil.
Sementara wilayah yang lebih besar, Hala'ib, yang letaknya di sebelah utara dari paralel 22 tepat di sebelah Laut Merah, diserahkan kepada Sudan.
Itu karena wilayah tersebut lebih dekat dengan orang-orang Beja yang secara kultural lebih dekat ke Sudan.
Baca: Polsek Simpang Kiri Ungkap Aksi Curanmor, Dua Pelaku Diringkus
Masalah baru muncul setelah Sudan mencapai kemerdekannya pada tahun 1956.
Pemerintah Sudan yang baru menyatakan perbatasan nasionalnya sebagai yang ditetapkan dalam proklamasi kedua, membuat segitiga Hala'ib menjadi bagian dari Sudan.
Mesir, di sisi lain, menegaskan kedaulatan telah ditetapkan dalam perjanjian 1899, yang menetapkan perbatasan adalah paralel ke-22. Ini membuat segitiga Hala'ib adalah untuk Mesir.
Konflik perbatasan unik ini telah berdampak pada sebidang tanah Bir Tawil.
Baik Mesir maupun Sudan tidak ingin menegaskan kedaulatan apa pun atas Bir Tawil, karena hal itu akan melepaskan hak mereka terhadap segitiga Hala'ib.
Pada peta Mesir, Bir Tawil ditampilkan sebagai milik Sudan. Pada peta Sudan, itu muncul sebagai bagian dari Mesir.
Dalam prakteknya, Bir Tawil secara luas diyakini bukan milik siapa pun — tanah tak bertuan.
Baca: Kata Irwandi, Saya Ingin Terbang
Beberapa orang telah mencoba untuk mengklaim Bir Tawil, seperti Dmitry Zhikharev dan temannya Mikhail Ronkainen yang membentangkan bendera Rusia di sana pada 2014 lalu.
Pun dengan pengusaha India, Suyash Dixit, mencapai Bir Tawil tahun 2017 lalu dan menancapkan benderanya sendiri.
Artikel ini tayang pada Intisari Online dengan judul : Bir Tawil: Tanah yang Tak Diinginkan Negara Mana Pun, Tak Seperti Saudaranya
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/bir-tawil_20181025_161807.jpg)