Breaking News:

Opini

Mudarat Merokok bagi Kesehatan

MEMANG luar biasa pengaruh rokok bila dilihat dari apa yang bisa dihasilkan dari sisi ekonomi, pemasukan devisa negara

Mudarat Merokok bagi Kesehatan
GAMBAR BAHAYA MEROKOK

Penulis mencoba mengamati di Kota Banda Aceh bahwa kebiasaan merokok di tempat-tempat umum masih merupakan fenomena yang sangat miris bagi kesehatan. Pemko Banda Aceh melalui Qanun No.5 Tahun 2016 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR), telah mengatur dan menetapkan upaya pencegahan terhadap risiko asap rokok bagi kesehatan masyarakat. Penetapan KTR tersebut didasarkan pada asas: manfaat; perlindungan; partisipasi masyarakat; dan penghormatan terhadap hak manusia untuk hidup sehat.

Adapun KTR dalam wilayah Kota Banda Aceh berdasarkan qanun tersebut di atas meliputi: Perkantoran pemerintah; Perkantoran swasta; Sarana pelayanan kesehatan; Sarana pendidikan formal dan informal; Arena permainan anak-anak; Tempat ibadah; Tempat kerja yang tertutup; Sarana olahraga yang tertutup; Tempat pengisian bahan bakar minyak (SPBU); Halte; Angkutan umum; dan Tempat umum yang tertutup lainnya.

Sebagai upaya penertiban dan pencegahan atas pelanggaran Qanun KTR tersebut, telah diatur sanksinya sebagai berikut: (1) Setiap orang yang merokok di tempat atau area yang dinyatakan sebagai KTR sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1), dipidana dengan pidana kurungan paling lama 3 (tiga) hari dan/atau denda paling banyak Rp 200.000 (dua ratus ribu rupiah).

(2) Setiap orang yang memperjualbelikan rokok di tempat atau area yang dinyatakan sebagai KTR sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) dipidana kurungan paling lama 5 (lima) hari dan/atau denda paling banyak Rp 500.000 (lima ratus ribu rupiah). (3) Tindak pidana kurungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) merupakan pelanggaran.

Pada dasarnya aturan yang dibuat oleh pemerintah dan pemerintah daerah sesungguhnya sudah bagus, namun kenyataannya pelarangan hanya sebuah larangan, tidak berjalan dengan maksimal, kalaupun diperketat para perokok tetap bermain “petak umpet” dengan petugas. Peraturan merokok di tempat-tempat umum tersebut telah dibuat dengan baik, namun pada kenyataannya hasilnya belum maksimal dan menggembirakan. Oleh karena itu, harus ada upaya nyata untuk penertibannya.

Merokok merupakan hal yang harus ditinggalkan karena rokok mengandung banyak bahayanya ketimbang manfaatnya. Rokok mengandung racun seperti nikotin, tar, gas karbon monoksida, nitrogen oksida, dan gas amoniak. Racun-racun itu akan melemahkan dan merusak organ tubuh seperti jantung, hati, paru-paru, ginjal dan organ-organ lainnya.

Dari kerusakan inilah muncul berbagai penyakit seperti kanker, impotensi, gangguan janin, serangan jantung, hipertensi dan lain-lain. Maka sangat jelas bahwa rokok merupakan barang berbahaya yang harus kita singkirkan dari kehidupan kita. Tubuh kita tidak membutuhkan rokok, karena rokok itu bukan termasuk makanan. Agar Qanun tentang KTR dapat diterapkan, maka diharapkan kepada pemerintah provinsi dan kabupaten/kota di Aceh untuk membentuk Qanun KTR disertai penerapannya secara serius.

Oleh karena sulitnya memberantas kebiasaan merokok, maka disarankan agar setiap institusi pemerintah dan swasta membuat tempat-tempat khusus untuk merokok (smooking area), sehingga dapat meminimalisir perokok pasif, terutama menjadi pelajaran bagi anak-anak remaja bahwa kebiasaan merokok tersebut tidak baik bagi kesehatan. Diharapkan pula pada industri pariwisata, seperti perhotelan agar dengan tegas melarang merokok yang didasarkan pada berbagai peraturan perundang-undangan. Nah!

* dr. Herianti, Dokter penanggung jawab Klinik Asy-Syifa Sekretariat DPRA dan mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh. Email: dr_herianti@yahoo.co.id

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved