Jumat, 8 Mei 2026

Kupi Beungoh

Milad Ke-42 GAM, Mengenang Teungku Chik Maat di Tiro: Sang Martir Aceh Merdeka

Sebelum memburu Teungku Chik Maat, Schmidt yang menjadi komandan dalam mencari para Ulama Tiro yang terakhir berupaya membujuknya.

Tayang:
Editor: Zaenal
Hand Over for Serambinews.com
Haekal Afifa, peneliti Pemikiran Teungku Hasan di Tiro, saat menerima kunjungan Dr Husaini Hasan ke Stan The Hasan Tiro Center di arena Museum Aceh, Banda Aceh, dalam rangkaian PKA-7, Agustus 2018. 

Tepat pada 3 Desember 1911, dalam pertempuran Alue Bhöt, Tangse, satu butir peluru Nussy (Pasukan Marsose yang bertugas mencari jejak) menembus jantungnya.

Matanya yang terbuka memandang langit-langit merdeka.

Teungku Chit Maat menemukan syahidnya dalam kondisi tangan kanannya masih mengenggam senjata. 

Melalui cincin yang ditemukan dalam pinggangnya. Belanda baru mengetahui jika itu adalah pemuda berumur 16 tahun itu telah syahid.

Dan, ia telah membuktikan prinsipnya untuk lebih memilih syahid di usia yang belia seperti ayahnya dari pada harus tunduk dan memperbudak diri kepada Belanda. 

Schmidt dan anak buahnya memberi penghormatan terakhir kepada Teungku Chik Maat; Pemuda terakhir dari keturunan ulama Tiro yang sangat dihormati dan dikagumi oleh Belanda.

Dalam upacara terakhir itu, Shcmidt berkata kepada pasukannya; “Dit is de Zoon van de Vader”. Inilah Aneuk Agam sang Ayah.

Baca: 9 Fakta Penting dari Sosok Deklarator GAM Tgk Hasan Tiro, Dari Bendera Hingga Karim yang Misteri

65 tahun kemudian, tepatnya 4 Desember 1976, muncullah sosok Aneuk Agam Tiro yang menggemparkan dunia; Tengku Chik di Tiro Hasan Muhammad, cucu dari Teungku Chik di Tiro Mahyeddin.

Keponakan Teungku Chik Maat di Tiro ini mendeklarasikan ulang perlawanannya terhadap Indonesia yang dianggapnya lanjutan dari kolonialisme Belanda. 

Bagi Teungku Hasan di Tiro, syahidnya Tengku Maat telah mengajarkannya satu prinsip; Bagaimana seharusnya orang Aceh memilih hidup secara merdeka dan mati secara mulia.

Tatukriban cara tahudép, tatukriban cara tamaté (mengenal cara hidup dan mengerti cara mati)." 

Dalam pandangannya, Teungku Chik Maat di Tiro adalah teladan kepemimpinan yang telah menunjukkan contoh bagaimana seharusnya sebuah bangsa mempertahankan kehormatannya dari pada berdamai dengan musuh yang telah membunuh dan menghancurkan kemuliaannya.

Teungku Maat adalah simbol dari sebuah perlawanan yang telah mengajarkan Hasan Tiro satu hal; Berjuang karena ingin menegakkan Isluam dan mempertahankan negara dan bangsanya. 

Teungku Maat telah menjadi martir bagi Teungku Hasan di Tiro untuk pulang ke Aceh 42 tahun yang lalu.

Teungku Maat telah mencapai klimaks kedewasaan jauh sebelum umurnya.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved