Opini
Era Industri 4.0 dan Kreativitas
SEKARANG ini teknologi bukan lagi sekedar alat untuk membantu manusia sehingga dalam bekerja lebih efisien dan efektif
Oleh Jasman J. Ma’ruf
SEKARANG ini teknologi bukan lagi sekedar alat untuk membantu manusia sehingga dalam bekerja lebih efisien dan efektif, tetapi justeru ianya kini telah menggantikan posisi manusia. Jutaan karyawan bank di dunia ini telah kehilangan pekerjaannya disebabkan oleh hadirnya teknologi dalam proses transaksi di perbankan, misalnya mesin ATM, online banking, dan mobile banking. Hebatnya lagi, kehadiran teknologi informatika di industri perbankan ini jauh lebih efisien dan efektif.
Di samping itu, dari sisi waktu pemanfaatannya, jika sebelumnya nasabah hanya bisa bertransaksi saat hari kerja saja, namun kini transaksi perbankan dapat dilaksanakan setiap saat, termasuk hari libur. Mesin ATM, mobile dan online banking dapat melayani transaksi selama 24 jam sehari dan 7 hari seminggu.
Begitu juga di industri media masa: surat kabar, majalah dan TV. Koran dan majalah cetak sudah diambil alih media sosial online. Jutaan pekerja percetakan koran dan majalah cetak kini hilang pekerjaannya karena diambil alih media online. Saat even 212 pada 2 Desember baru-baru, hanya satu stasiun TV yang menyiarkannya, sementara lainnya bungkam seribu bahasa. Ini adalah perbuatan bunuh diri massal. Karena tanpa stasiun TV-pun, pemirsa dapat mengikuti perhelatan gegap gempita ini melalui live streaming.
Absennya stasiun TV seperti ini akan mempercepat tumbuh kembangnya alternatif lain, semisal live streaming. Akhirnya dalam waktu yang tidak begitu lama TV live streaming --yang tidak memiliki stasiun formal-- akan mengambil alih peranan yang selama ini dimainkan oleh stasiun TV. Era digital telah meluluh-lantakkan peluang kerja manusia.
Belum lagi di sektor pertanian, pertambangan dan manufaktur. Teknologi robot pintar juga telah menggantikan posisi pekerja di level bawah yang mengandal tenaga fisik. Sehingga di sektor ini juga telah menghilangkan puluhan juta lapangan kerja.
Menghadapi era Industri 4.0 yang menyebabkan disrupsi lapangan kerja yang sangat besar ini mengharuskan perguruan tinggi merobak format metode dan kurikulumnya. Target perguruan tinggi di dunia selama ini yang cenderung menekankan kepada menghasilkan sarjana yang siap mengisi lapangan kerja itu, sepertinya sudah ketinggalan zaman dan sudah tidak relevan lagi. Seharusnya setiap kampus mesti memikir ulang strategi dalam mengelola kampus dan harus mempersiapkan diri untuk menjadi produsen penghasil sarjana yang siap berkembang.
Insan yang siap berkembang adalah insan yang kreaktif dan inovatif. Ia tidak hanya berjuang untuk mendapatkan pekerjaan, tetapi cenderung berusaha mencipta pekerjaan dan tentu dengan demikian lapangan kerja, baik untuk dirinya maupun juga untuk orang lain. Timbul pertanyaan, apakah kreativitas dapat diajarkan? Apakah kreativitas itu seni atau ilmu?
Kedua pertanyaan tersebut penting untuk dijawab, karena jika kreativitas itu adalah ilmu atau seni, maka kreativitas bisa diajarkan kepada mahasiswa. Untuk menjawab kedua pertanyaan tersebut, maka ada baiknya kita terlebih dulu mendefinisikan kata kreativitas.
Kreativitas
Bagi banyak orang awam, kata “kreatif” membangkitkan gambaran para novelis, penyair, komposer, dan seniman visual. Jika diminta, mereka akan mengakui kreativitas matematikawan/fisikawan, seperti Albert Einstein (1879-1955) atau penemu seperti Thomas Edison (1847-1931), tetapi ada kecenderungan umum untuk menganggap bahwa kreativitas lebih terkait dengan seni daripada ilmu.
Menurut Amabile, kreativitas adalah keterampilan yang dapat dikembangkan dan suatu proses yang dapat dikelola. Kreativitas dimulai dengan landasan pengetahuan, belajar disiplin, dan menguasai cara berpikir. Kita belajar menjadi kreatif dengan bereksperimen, mengeksplorasi, mempertanyakan asumsi, menggunakan imajinasi, dan menyintesis informasi.
Dengan demikian, kreativitas adalah keterampilan. Keterampilan dapat diajar dengan pendekatan yang berbeda dengan mengajarkan ilmu dan seni. Belajar menjadi kreatif sama dengan belajar olahraga. Dibutuhkan latihan untuk mengembangkan otot yang tepat dan lingkungan yang mendukung untuk berkembang.
Kreativitas penting untuk ilmu pengetahuan dan seni. Pertama, gagasan kreativitas memainkan peran penting dalam praktik artistik, apresiasi estetika, dan kesuksesan ilmiah. Kedua, keberhasilan dalam sains dan seni sering dikaitkan dengan kejeniusan kreatif, sebuah gagasan yang patut diteliti dan dikritik. Dan, ketiga, memahami dan merefleksikan sifat kreativitas telah menjadi fokus bagi para peneliti dari kedua kegiatan tersebut.
Sayangnya, untuk sebagian besar, kreativitas telah dikubur oleh aturan dan peraturan. Sistem pendidikan kita telah dirancang selama Revolusi Industri lebih dari 200 tahun yang lalu, untuk mengajarkan kita menjadi pekerja yang baik dan mengikuti instruksi. Ya, keterampilan kreativitas dapat dipelajari. Bukan dari duduk di bangku kuliah, tetapi dengan belajar dan menerapkan proses berpikir kreatif.
Jika kreativitas dapat diajarkan, bagaimana cara melakukannya? Berikut kita kutip resep IBM Executive School dalam mengembangkan kreativitas siswanya: Pertama, metodologi pengajaran tradisional seperti membaca, mengajar, menguji, dan menghafal lebih buruk daripada tidak berguna. Sebagian besar pendidikan berfokus pada memberikan jawaban secara linier langkah demi langkah. Padahal pertanyaan-pertanyaan yang sangat berbeda secara non-linear adalah kunci untuk kreativitas.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/fakultas-sains-dan-teknologi-uin-ar-raniry_20180708_202327.jpg)