Opini
Kampanye Sehat vs Kampanye Hitam
PEMILIHAN Umum (Pemilu) merupakan cerminan dari bentuk penyelenggaraan negara yang demokratis
Oleh Putri Marzaniar
PEMILIHAN Umum (Pemilu) merupakan cerminan dari bentuk penyelenggaraan negara yang demokratis. Melalui pemilu, rakyat dapat menyalurkan hak suara yang dimiliki untuk memilih para wakilnya di lembaga legislatif dan pemimpinnya di lembaga eksekutif baik di tingkat pusat maupun daerah. Suara rakyat sangat menentukan kondisi Indonesia untuk lima tahun ke depan. Pemilih yang cerdas akan menghasilkan pemimpin yang berkualitas.
Pelaksanaan pemilu di Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dengan tujuan membentuk pemerintahan yang demokratis, kuat, dan memperoleh dukungan rakyat dalam rangka mewujudkan tujuan nasional. Sedangkan hasil pemilu akan menjadi tolak ukur utama dalam merefleksikan suasana keterbukaan sebagai nilai dasar dari demokrasi itu sendiri. Oleh karena itu, bisa disimpulkan bahwa pemilu adalah simbol dari kedaulatan rakyat dan partisipasi publik secara luas.
Pemilu pertama kali diselenggarakan di Republik Indonesia pada 29 September 1955 untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Pemilu pertama secara demokratis itu diikuti oleh 118 peserta yang terdiri dari 36 parpol, 34 ormas, dan 48 orang. Kemajuan prinsip demokratisasi dalam pemilu mulai diterapkan pada 2004, di mana masyarakat diberikan kesempatan langsung untuk memilih, DPR, DPD, DPRD, serta presiden dan wakil presidennya.
Pemilu dengan sistem pemilihan langsung itu juga berlanjut pada 2009, 2014, dan 2019 yang tahapannya kini sedang berlangsung. Bahkan Pemilu 2019 dilaksanakan serentak antara pemilihan legislatif (Pileg) dan pemilihan presiden/wakil presiden (Pilpres). Keran itulah menjelang Pilpres 2019 adanya nuansa pencitraan yang luar biasa mendominasi kampanye parpol dalam mengusung kandidatnya di Aceh. Berbagai cara digunakan untuk menarik simpati masyarakat dengan memanfaatkan berbagai media massa.
Citra yang baik dianggap mampu mempengaruhi pemilih dalam menentukan pilihannya dan juga menjadi edukasi politik bagi generasi penerus ke depan. Citra yang baik ini akan menjadi standar bagi publik dalam menentukan pilihannya. Citra diri yang hakiki lebih disanjung oleh masyarakat luas daripada citra yang didasarkan pada kebohongan dan kepalsuan.
Dalam mempengaruhi pemilih, selayaknya para pasangan calon menggunakan cara yang lebih beretika dengan mengampanyekan hasil kerja nyata yang pernah dilakukan dengan rentetan data. Bukan dengan menebar sensasi di media sosial sebagai bukti kepedulian terhadap masyarakat. Kampanye yang dilakukan oleh para kandidat saat ini tampak masih sebatas ajang menaikkan pamor lewat pencitraan di media massa.
Kampanye elegan
Kampanye sehat adalah kampanye yang dilakukan dengan mengajukan program-program prioritas untuk membangun bangsa ke depan, bukan sibuk mencari kesalahan lawan. Menjual keberhasilan kepada publik dengan menampilkan data-data yang bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) merupakan kampanye paling elegan, karena dibuktikan secara profesional dan tidak berdasarkan kebohongan. Selain dengan melihat data-data keberhasilan, masyarakat juga dapat fakta-fakta dan pengakuan yang sudah tercatat jauh sebelum kampanye, bukan pengakuan yang sengaja dibentuk pada saat kampanye berlangsung.
Di era modern saat ini, kampanye hitam (black campaign) dengan memanfaatkan ulama dan para tokoh agama sebagai testimoni tokoh dalam berkampanye sangatlah kurang etis. Mengusulkan program-program yang mendorong peran generasi muda dalam berkampanye lebih dituntut saat ini. Cara kampanye seperti ini jauh lebih baik daripada sibuk menebar pencitraan.
Kampanye yang masih mengandalkan politik pencitraan berbentuk pemberian bantuan tunai secara langsung, menyebarkan alat peraga kampanye (AKP) di berbagai sudut jalan secara berlebihan, berorasi dengan sifat menyudutkan atau melecehkan pihak lawan dan pendukungnya untuk mempengaruhi pemilih sangatlah kuno. Inilah metode purba yang pada Pemilu 2019 ini terlihat masih saja dipraktikkan oleh para kontestan.
Apa yang dilakukan oleh para kontestan di Aceh saat ini tampak tak hanya sekadar upaya membangun citra positif terhadap jati diri kandidat maupun parpol yang telah mengusungnya. Namun juga tidak jarang melakukan manipulasi agar sesuatu yang dicitrakan tersebut meyakinkan pemilih. Pencitraan seolah hanya menjadi satu alat untuk bisa menduduki suatu jabatan atau kekuasaan tertentu. Pada akhirnya pencitraan tidak lagi bicara benar atau salah dan tidak mencerminkan realitas yang sebenarnya, namun penuh dengan manipulasi untuk membangun citra posistif.
Bahkan sering dijumpai, pencitraan yang dibangun cenderung menebar kebohongan, kebencian dan kericuhan ditengah kalangan masyarakat. Banyak masyarakat yang termakan dengan isi kampanye yang disampaikan, bahkan menimbulkan gejolak permusuhan ditengah masyarakat antar pendukung. Kampanye yang dilakukan saat ini lebih menyudutkan pihak lawan, sehingga dapat dianggap tidak etis dan bisa berdampak pada pelaksanaan pemilu yang jauh dari kata damai.
Hal itu tentu tidak mencerminkan edukasi politik yang baik. Demikian pula pengeluaran dana kampanye yang dialokasikan melalui APBN hanya dapat menghasilkan output, namun outcome yang diterima masyarakat sama sekali tidak dirasakan. Kampanye pemilu saat ini dihiasi oleh marketing politik yang dibentuk oleh tim sukses untuk memanipulasi dan menimbulkan kerancuan makna, sehingga membuat masyarakat bingung yang awalnya tidak tertarik dengan pasangan calon tersebut beralih untuk memilihnya.
Dalam berkampanye adanya etika kampanye yang harus ditaati oleh setiap kontestan, baik caleg maupun capres/cawapres. Tidak melakukan pencitraan secara berlebihan dengan melakukan manipulasi makna yang menimbulkan kebohongan di atas kebenaran, mengurangi pengeluaran biaya kampanye yang besar, tidak melakukan black campaign atau memberikan stigma buruk kepada lawan politik. Menawarkan program kerja yang jelas tidak membingungkan pemilih dan berdampak langsung pada kesejahteraan rakyat.
Era digital
Saat ini Indonesia sedang berada di era Revolusi Industri 4.0, di mana semua akses menjadi cepat. Era digital ini dihuni oleh para kaum milenial, ditambah lagi yang akan mendominasi Pemilu 2019 adalah para pemilih pemula, yaitu generasi milenial. Satu strategi yang dapat dilakukan oleh para kontestan agar dilirik pemilih adalah dengan membuat inovasi-inovasi baru dalam berkampanye ala milenial, seperti berbentuk comedy, games, challenges, dan lain sebagainya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/calon-legislatif-caleg-dari-partai-politik_20181028_085631.jpg)