Opini
Menghindari Blunder
BAGI mereka yang suka permainan sepakbola tentu tidak asing dengan kata blunder
Oleh Rustam Effendi
BAGI mereka yang suka permainan sepakbola tentu tidak asing dengan kata blunder. Apa itu blunder? Sejauh ini tidak ada arti yang baku atau disepakati secara bulat. Namun, ada yang memberi makna “merupakan kesalahan yang dilakukan oleh tim atau individu (baca: seseorang) akibat kekhilafan, kebodohan, atau pun karena sikap yang sembrono alias kurang hati-hati”.
Seorang stopper (pemain belakang bertahan) salah mengoper bola kepada sang kiper, lalu bola direbut lawan dan kemudian dilesakkan ke gawang hingga berakibat terjadinya gol bunuh diri. Atau, bisa juga terjadi akibat kipernya overacting, kemudian bola lepas di tangannya dan disambar lawan, lalu bola pun bersarang ke dalam gawang dan sang kiper pun terpelongo, penuh penyesalan atas kecerobohannya. Itulah beberapa contoh terjadinya blunder tadi.
Tidak hanya dalam permainan sepakbola, dalam dunia politik pun seringkali kita saksikan terjadinya blunder. Misalnya, pengurus partai politik (baca: Ketua Partai) atau para calon anggota legislatif (Caleg) baik DPR RI, DPD RI, maupun DPRD tahu bahwa potensi calon pemilih terbanyak di Tanah Air adalah kaum Muslim. Tapi, ucapan, tindakan atau perbuatannya seperti menafikan hal itu. Mereka seperti sengaja menyayat atau melukai perasaan Muslim yang justru sebenarnya ingin disasar untuk mendulang suara. Mereka lupa, yang disayat atau dilukai perasaan dan hatinya itu adalah pemilik suara yang paling dominan di negeri ini.
Kurang peduli
Mereka sebenarnya paham, jika soal-soal yang menyangkut dengan akidah dan syariah, atau adat dan kebiasaan, merupakan material obrolan yang amat sensitif. Gampang menusuk dan melukai nurani jika tidak disikapi dengan bijak dan hati-hati. Namun, ada juga yang menyentuh nilai ini dan malah terkesan kurang menaruh peduli dan seenaknya.
Padahal, bukankah itu akan menciptakan blunder yang justru dapat mengusik zona “aman” yang sebenarnya habitat paling diidamkan oleh siapa pun dalam kehidupan politik? Blunder yang diperbuatnya akan membuat mereka rentan di-bully, dinyinyirin, dijauhi, atau bahkan dicaci-maki oleh mereka, khususnya para pihak yang merasa terusik karenanya.
Mengapa mereka, baik pengurus parpol atau caleg sering melakukan blunder? Itu antara lain karena ketidak hati-hatian, atau kurang cermatnya dalam memantau dan mengamati kondisi struktural dan kultural yang ada. Mereka lupa jika problema kehidupan yang kian kompetitif dengan beban yang kian tidak ringan ini, cenderung membuat orang-orang begitu mudah bereaksi terhadap sesuatu yang tidak lazim. Mereka gampang tersulut emosinya kala ada yang memantiknya, meski pun secara fisik tidak sampai terluka.
Jika ada yang mengusik hal-hal yang berkait terutama dengan agamanya, tidak akan bisa diterimanya. Mereka diam, tapi sebenarnya akan memberi hukuman bagi si pengusik saat tiba masanya. Di sisi lain, blunder juga bisa terjadi akibat mereka (politikus) seringkali asyik dengan pikirannya sendiri. Mereka kurang peduli dengan dinamika lingkungan yang ada dan sedang terjadi.
Tidak lama lagi akan berlangsung pesta demokrasi pemilihan umum (pemilu) serentak; yaitu pemilihan presiden (pilpres) dan pemilihan legislatif (pileg). Semakin mendekati hari H, tampak suasana kian meriah. Aktivitas kampanye bertambah gencar, baik secara kepartaian maupun perorangan. Tersirat jika kian hari persaingan pun semakin ketat.
Seluruh parpol dan para kadernya, khususnya para caleg, saling menunjukkan kapasitas mereka untuk meyakinkan calon pemilih. Alat peraga kampanye terus disebar di mana-mana sebelum tiba masa larangan. Agenda pertemuan dan keberadaan mereka di tengah-tengah masyarakat atau di lapangan diintensifkan. Dan, menariknya sesama caleg terjadi proses intip-mengintip kelemahan masing-masing.
Sebab itu, tidak boleh seorang caleg (khususnya) bersikap berlebihan, apalagi menjurus pada membanggakan pribadinya secara berlebihan, sehingga merasa lebih jumawa dari yang lain. Tidak boleh ada yang merasa dirinya lebih hebat, apalagi merasa paling tampan, kaya, punya banyak toko, istri cantik atau suami ganteng, anak-anak pintar, dari keluarga terpandang, atau kelebihan-kelebihan lain yang sebenarnya tidak semuanya mesti dipamer. Ada saat-saat di mana caleg yang bersikap rendah hati, merakyat, dan peduli pada nasib mereka yang hidupnya masih kurang beruntung justru lebih menuai simpati dari para calon pemilih.
Harus hati-hati
Setiap caleg harus selalu hati-hati dalam bersikap dan berperilaku, termasuk dalam berkomentar. Usahakan untuk tidak melakukan Blunder, walau sekecil apapun. Jangan sekali-kali memburuk-burukkan orang atau caleg lain. Bersikaplah lebih dewasa, matang, dan bijak. Kedepankan kekuatan visi dan misi, termasuk program unggulan/andalan yang akan disuarakan (bagi caleg) dan diperjuangkan di parlemen (bagi partai).
Ingatlah, keberadaan medsos yang kini amat terbuka akan memberitakan setiap kelancangan dan “kedunguan” kita. Jika hal ini terjadi, dipastikan sedikit banyak akan mengancam peluang keterpilihan sebagai akibat tergerusnya potensi suara yang ada.
Cara terbaik agar terhindar dari blunder adalah dengan selalu bersikap hati-hati. Jika ingin menulis, sebaiknya tidak asal tulis. Jika berbicara, tidak juga asal menuruti liukan lidah atau asal berbicara. Waspadai selalu derap langkah yang akan diayunkan.
Saya bukan ahli pemasaran politik. Tapi harus diingat, Anda para Caleg atau pengurus Parpol kini sedang berjualan produk-produk dengan label kemasan yang dibentuk sendiri. Isi kemasannya adalah pribadi dan rekan-rekan separtai Anda. Produk itu diharapkan laku di pasaran, dibeli oleh para pelanggan, yaitu calon pemilih yang termuat dalam DPT (daftar pemilih tetap). Usahakanlah dengan sungguh-sungguh agar harapan itu terwujud.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/panggung-kampanye-di-lapangan-sepakbola-pulo-kiton-kota-juang-bireuen-maret-2019.jpg)