Selasa, 28 April 2026

Para Perempuan dan Anak-anak Kelompok ISIS yang Telah Kalah di Kamp Al-Hol

Di dalamnya hidup para perempuan dan anak-anak kelompok ISIS yang telah kalah, dicampakkan para suami, diabaikan khalifah dan pemerintah mereka.

Editor: Fatimah
FADEL SENNA/AFP
Dalam kondisi serba terbatas, sejumlah kaum perempuan Suriah — yang pernah bergabung dengan suaminya dengan kelompok ISIS di Suriah — berusaha menjalani kesehariannya. 

Perempuan asal Jerman itu sangat menyesal, bukan hanya karena keadaan yang ada sekarang, tetapi penyesalan yang diakuinya telah ada jauh sebelum kekalahan ISIS.

"Saya baru setengah tahun di ISIS dan saya bertanya kepada ayah saya apakah ia bisa membantu mengirimkan seorang penyelundup untuk membawa saya keluar dari sana. Mereka mengirimkan seorang penyelundup, namun pasukan keamanan ISIS, membunuhnya. Lantas mereka juga menangkap saya karena mereka menemukan foto-foto saya di telepon genggamnya. Lalu saya pertama kali dipenjara (di Raqqa) dan kedua kalinya di (desa) Shaafa," jelasnya.

Baca: Abdul Rahman Biro Terpilih Secara Aklamasi Sebagai Ketua Umum KONI Lhokseumawe

Di tangannya, ia menimang seorang bayi keriput berusia dua bulan, anak keduanya, lahir di Baghouz ketika pertempuran memanas di sekelilingnya.

"Saya melahirkan sendirian. Tak ada dokter, tak ada perawat," ujarnya, "Saya meminta suami saya mencari mereka. Saya menyuruhnya. Saya menangis. Kau tahu bagaimana seorang perempuan meyakini sesuatu. Saya bilang kamu cari. Ia bilang tak ada siapa pun. Saya bilang CARI."

Ia masih mencintai suaminya yang seorang ekstrimis dan berkata bahwa ia akan menantinya jika ia dikirim kembali ke Jerman untuk menjalani masa hukuman penjara.

Baca: 22 Nelayan Idi Aceh Timur yang Ditahan di Myanmar Tiba di Bandara SIM Senin Besok

Ia berbicara tentang kematian anak lelaki Shamima Begum, yang lahir di dalam kamp, dan meninggal hanya 20 hari kemudian. Kedua anaknya juga pernah sakit, tetapi ia mengatakan bahwa ia punya alasan untuk percaya bahwa mereka akan baik-baik saja.

Pertemuan kedua kami hanya sebentar. Sebuah konvoi kendaraan berperisai, dikawal pasukan bersenjata, tiba dengan beberapa orang Barat di dalamnya. "Pemerintah Jerman ingin memeriksa anak-anak saya," ujar Messing.

Seberapa dibelas kasihi?

Menteri luar negeri Inggris telah menyatakan bahwa terlalu berbahaya bagi diplomat Inggris untuk pergi ke Suriah, tempat di mana, seperti Jerman, Inggris tidak memiliki konsulat atau kedutaan. Tetapi belum ada rencana untuk merepatriasi perempuan dan anak-anak yang suaminya telah terbunuh atau dicabut kewarganegaraannya.

Ketika awan mendung menggulung dan menebal di langit, dua perempuan kurus berjalan beriringan melintasi lapangan berlumpur, menuju ke arah saya dan rekan saya yang berasal dari Suriah.

Kamp itu beraroma busuk, tak ada sistem sanitasi yang baik dan hujan pun tak membantu baunya hilang. Salah satu di antara mereka, dengan ganjil, membawa tas tangan kulit asli dengan jepitan berbentuk kristal. Melalui kerudung mereka saya melihat apa yang tampak seperti mata gadis remaja.

"Di mana suami-suami kami? Kapan mereka akan dibebaskan?" tuntut mereka tanpa ancaman apa-apa. Saat rekan saya mengangkat bahunya, salah satu dari mereka berkata, "tanya dia," menunjuk saya dengan tangan bersarung hitamnya. Tawa geli muncul dari balik pakaian serba hitam mereka.

Mereka mungkin akan mendapatkan jawabannya dalam waktu dekat, karena Irak juga berencana menerima kembali warga mereka.

Baca: Pemungutan Suara di Mesir, Mahasiswa Asal Aceh Sebut Kemungkinan Prabowo Menang

Tahanan berisiko tinggi akan diberangkatkan lebih dulu dan hampir pasti akan dieksekusi, sementara para perempuan dan anak-anak akan menyusul ke Irak. Sebuah kamp tengah disiapkan, tak begitu jauh dari al-Hol, di sisi perbatasan Irak.

Hal itu akan mengurangi tekanan di kamp, tetapi tak akan menjawab pertanyaan abadi yang al-Hol berikan ke dunia Barat: berapa banyak belas kasihan yang patut diberikan kepada musuh yang tak memberikan apa pun? Dan, apa yang akan terjadi kepada para perempuan dan anak-anak mereka sekarang setelah ISIS hilang?

Artikel ini tayang pada BBC Indonesia dengan judul : ISIS: Perempuan dan anak-anak yang tak diinginkan siapa pun

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved