Breaking News:

Luar Negeri

Abaikan Seruan PBB, Mantan Jenderal Era Muammar Gaddafi Perintahkan Pasukan Serang Tripoli

Haftar merupakan seorang mantan jenderal di bawah era Muammar Gaddafi dulu

Editor: Muhammad Hadi
(AFP/Abdullah Doma)
Jenderal Khalifa Haftar. Komandan yang memimpin Tentara Nasional Libya (LNA) yang berbasis di Tobruk. 

Haftar telah membangun pasukan Tentara Nasional Libya ( LNA) dengan bantuan Uni Emirat Arab dan Mesir, yang memasok peralatan berat militer, seperti helikopter.

Dukungan juga disebut datang dari Arab Saudi, Rusia, dan Perancis, meski diketahui PBB lebih mengakui Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) yang berbasis di Tripoli sebagai otoritas sah negara itu.

Sementara pasukan bentukan Jenderal Haftar membangun sistem perbankan paralel yang berkantor pusat di ibu kota timur Benghazi.

Baca: Misi Terakhir Penyamaran Kapten Hirath Al Sudani, Intel Ternama Irak yang Menyusup ke Basis ISIS  

Namun sumber perbankan dan diplomat mengisyaratkan sumber bantuan tersebut akan ditutup, menyusul bank sentral di Tripoli yang mengambil langkah pembatasan terhadap operasional bank-bank di timur Libya.

Bank-bank tersebut telah berjuang dalam beberapa bulan terakhir untuk memenuhi persyaratan setoran minimum, yang jika tidak dipenuhi maka dapat menjadi alasan bagi bank sentral Tripoli untuk memutus aksesnya terhadap mata uang keras.

"Terjadi krisis perbankan yang membayangi dan mengancam dapat merusak kemampuan otoritas timur untuk mendanai diri merekam," kata Claudia Gazzini, analis senior Libya di International Crisis Group (ICG).

Baca: Kisah Pria Ini Lari dari Penjara Seperti Dalam Film, Lewati Sniper, Hutan Penuh Beruang dan Serigala

"Krisis itu bahkan sudah dimulai sejak sebelum pertempuran terjadi antara LNA dengan GNA," tambahnya.

Setidaknya 264 orang dilaporkan tewas selama pertempuran, sementara lebih dari 1.288 lainnya mengalami luka-luka.

Peningkatan kekerasan yang terjadi telah memicu kecaman komunitas internasional, yang memperingatkan konflik lebih lanjut berpeluang membawa negara itu kembali ke perang saudara.

Puluhan ribu orang telah mengungsi saat pasukan Haftar bergerak ke pinggiran kota di sekitar ibu kota.

Baca: Diburu di Afghan Hingga Pakistan,Ternyata Pendiri Taliban Tinggal Dekat Pangkalan Militer Amerika

Halaman
1234
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved