Opini

Meraih Keutamaan Ramadhan

Memasuki bulan Ramadhan, Rasul Saw senantiasa memberi taushiah (ceramah) mengenai hukum-hukum seputar

Meraih Keutamaan Ramadhan
IST
Dr. Muhammad Yusran Hadi, Lc., MA, Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Aceh

Pada bulan Ramadhan pula dianjurkan shalat tarawih, witir, i’tikaf, dan tadarus Alquran. Dengan menjalankan berbagai ibadah inilah maka diharapkan kita menjadi orang yang bertakwa. Inilah cita-cita tertinggi, harapan dan doa setiap muslim.

Ramadhan melatih kita agar menjadi orang yang bertakwa. Melalui ibadah puasa fulltime setiap hari, kita dilarang melakukan hal-hal yang mubah dan halal seperti makan, minum, dan hubungan suami istri. Jika hal-hal yang halal dan mubah tersebut dilarang ketika berpuasa, maka terlebih lagi hal-hal yang diharamkan. Tentu kita harus lebih menjaga diri dari yang diharamkan Allah Swt.

Melalui shalat tarawih dan witir sebulan penuh, kita diharapkan terbiasa melakukan shalat sunnat. Melalui tadarus Alquran setiap hari di bulan Ramadhan, maka kita diharapkan selalu berinteraksi dengan alquran sebagai petunjuk hidup kita. Begitu pula dengan ibadah i’tikaf selama sepuluh hari terakhir, kita diharapkan terbiasa melakukan ibadah setiap waktu.

Keempat: Pada Ramadhan pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan syaitan diikat. Rasulullah saw bersabda: “Apabila masuk bulan Ramadhan maka pintu-pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan syaitan pun dibelenggu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Imam Ibnu Rajab, ketika mengomentari hadits ini, beliau berkata: “Bagaimana mungkin orang yang beriman tidak gembira dengan dibukanya pintu-pintu surga? Bagaimana mungkin orang yang pernah berbuat dosa (dan ingin bertaubat serta kembali kepada Allah Ta’ala) tidak gembira dengan ditutupnya pintu-pintu neraka? Dan bagaimana mungkin orang yang berakal tidak gembira ketika para syaitan dibelenggu?”.

Dalam riwayat lain, Rasulullah saw juga bersabda: “Pintu-pintu neraka ditutup, pintu-pintu surga dibuka, dan syaitan-syaitan dibelenggu. Kemudian ada seorang malaikat penyeru yang memanggil: “Wahai pencari kebaikan bergembiralah dan wahai para pencari kejahatan berhentilah”. (HR. Ahmad dan An-Nasa’i).

Dengan demikian, bulan Ramadhan dibuka peluang bagi kita untuk masuk surga, dan ditutup peluang masuk neraka. Peluang berbuat maksiat pada bulan Ramadhan ditutup dengan ibadah puasa. Karena puasa itu adalah perisai atau penahan maksiat sebagaimana sabda Rasulullah saw: “Puasa itu perisai (pencegah maksiat)”. (HR. Ahmad, Muslim dan An-Nasa’i).

Kelima, Ramadhan merupakan syahrul maghfirah (bulan pengampunan dosa). Nabi saw bersabda: “Shalat lima waktu, Jumat ke Jumat dan Ramadhan ke Ramadhan menghapuskan dosa-dosa di antara masa-masa itu selama dosa-dosa besar dijauhi”. (HR. Muslim). Allah Swt menyediakan Ramadhan sebagai fasilitas penghapusan dosa melalui puasa Ramadhan dan qiyam Ramadhan (shalat malam pada bulan Ramadhan seperti shalat tarawih, witir dan tahajjud).

Rasulullah Saw bersabda: “Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan keikhlasan, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Keenam, Ramadhan merupakan bulan itqun minan nar (pembebasan dari Api neraka). Allah Swt membebaskan para hamba-Nya yang dikehendaki dari api neraka. Rasulullah saw bersabda, “Dan Allah membebaskan orang-orang dari api neraka pada setiap malam Ramadhan.” (HR. At-Tirmizi, Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah).

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved