Opini

Jalan Surga para Bunda

Ramadhan Mubarrak, Ramadhan Kariim. Alhamdulillah, dengan rahmat-Nya Allah masih izinkan kita, menikmati berkah

Jalan Surga para Bunda
IST
Dian Rubianty, SE, Ak., MPA Fulbright Scholar, Staf Pengajar FISIP UIN Ar Raniry

Oleh Dian Rubianty, SE, Ak., MPA Fulbright Scholar, Staf Pengajar FISIP UIN Ar Raniry

Ramadhan Mubarrak, Ramadhan Kariim. Alhamdulillah, dengan rahmat-Nya Allah masih izinkan kita, menikmati berkah Ramadhan tahun ini, yang tanpa terasa tinggal beberapa hari lagi. Tidak ada yang tahu, apakah ini akan menjadi Ramadhan terakhir untuk kita? Wallahu’alam.

Oleh karennya, setiap muslim di setiap tahunnya berupaya menyambut Ramadhan dengan penuh semangat kesyukuran, mengisinya dengan ibadah terbaik yang bisa dilakukan, selagi Allah SWT masih mengizinkan.

Salah satu ibadah yang biasa kita lakukan pada malam-malam bulan Ramadhan adalah shalat tarawih. Di gampong kita, setiap Ramadhan tiba, tak ketinggalan chiek-putiek (tua-muda) bersama-sama melaksanakan ibadah shalat tarawih di masjid-masjid. Alhamdulillah, beberapa masjid di Aceh bahkan mengundang para hafidz Alquran dari dalam dan luar negeri, untuk menjadi imam shalat tarawih. Tentunya menambah besar keinginan kita untuk bisa melaksanakan shalat tarawih berjamaah di masjid.

Karena selain berharap pahala dan ampunan yang Allah Ta’ala lipat-gandakan di sepanjang Ramadhan, ada keistimewaan lain yang diperoleh saat tarawih berjamaah bersama para hafidz. Selain bacaan imam yang menggetarkan hati dan menambah keimanan, bila tak ada shalat tarawih yang tertinggal selama Ramadhan, Insya Allah kita akan khatam Alquran bersama bacaan imam. Namun bagaimana dengan para bunda, yang saat ini dalam pelukannya sedang Allah titipkan amanah terindah yang masih bayi atau kanak-kanak?

Beberapa bunda berjuang untuk tetap melaksanakan shalat tarawih secara berjamaah di masjid. Ada yang bergantian dengan ibu atau kakak-adik perempuannya, ada yang bergantian dengan yang membantu mengasuh buah hatinya. Namun untuk yang tidak memiliki kemewahan ini, banyak yang kemudian memutuskan membawa balitanya ke masjid.

Dilema? Tentu saja. Dalam berbagai diskusi, banyak bunda yang menyampaikan kekhawatiran yang hampir sama. Di satu sisi, ada “kecemburuan” ingin menjemput pahala sebagaimana yang diperoleh para jamaah tarawih yang lain. Apalagi sekarang ada masjid-masjid yang melaksanakan qiyamul lail dan i’tikaf di masjid pada malam-malam sepuluh terakhir Ramadhan. Siapa yang tak ingin cemburu dan ingin ikut “bermesara-mesra” dengan Allah Ta’ala?

Selanjutnya, selain keinginan menjemput pahala untuk dirinya, ada juga keinginan para bunda untuk memperkenalkan masjid pada anak sejak usia dini. Apalagi suasana masjid di malam-malam Ramadhan tentu terasa berbeda dengan hari-hari biasa. Warna Ramadhan dan kebersamaan mengagungkan Allah inilah syiar yang ingin kita tunjukkan pada para ananda.

Apalagi mengingat keteladanan atau “mencontohkan” merupakan salah satu metode terbaik dalam proses pendidikan seorang anak, menimbang pada usia ini anak adalah “peniru”, yang belajar dari model “children see, children do” (anak melihat, anak meniru). Orang tua tentu berharap, berikhtiar dan berdoa bahwa melalui keteladanan dan pembiasaan, kelak mereka akan tumbuh menjadi kaum muda yang hatinya bertaut dengan masjid.

Tapi di sisi lain, anak-anak tetaplah anak-anak. “Tertib”, bergerak sesuai aturan, berkhidmat di dalam masjid untuk jangka waktu yang relatif lama adalah beberapa sikap yang punya tantangan tersendiri untuk ditanamkan pada usia ini. Bukan karena mereka “nakal” atau “tidak patuh” atau “tidak mau mendengar”, tapi karena proses tumbuh kembangnya sedang berada pada fase perkembangan motorik yang pesat.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved