Opini
Jalan Surga para Bunda
Ramadhan Mubarrak, Ramadhan Kariim. Alhamdulillah, dengan rahmat-Nya Allah masih izinkan kita, menikmati berkah
UAH menyampaikan, ada tiga kondisi yang perlu dipenuhi dan diperhatikan betul, ketika kaum perempuan ingin shalat berjamaah ke masjid. Ketiga kondisi ini sungguh adalah bentuk perlindungan dan pemuliaan. Pertama, perjalanan menuju masjid haruslah aman, tidak menimbulkan fitnah maupun bahaya untuk perempuan tersebut. Karena pada masa Rasulullah Saw, kondisi jalan, suasana lingkungan dan sikap kaum jahiliyah perlu betul-betul dipertimbangkan, demi keselamatan kaum perempuan.
Bila kondisi ini bisa dipenuhi, mungkin hadits riwayat Muslim r.a dari Salim bin ‘Abdullah bin “umar dapat dijadikan rujukan, “Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda: Janganlah kalian menghalang-halangi istir-istri kalian untuk ke masjid. Jika mereka meminta izin pada kalian, maka izinkanlah dia.”
Kondisi selanjutnya adalah ketersediaan tempat khusus bagi kaum perempuan. Alhamdulillah, masjid-masjid di gampong kita menyediakan shaf khusus untuk perempuan yang diberi pembatas, sehingga terpisah dari jamaah laki-laki. Karena shalat adalah ibadah, salah satu bentuk ketaatan dan penghambaan kita kepada Allah Ta’ala. Tentu harus dilaksanakan dengan tata cara yang ditentukan sesuai ketetapan hukum Allah, yang diajarkan Rasulullah Saw. Kemudhratan dan fitnah bisa saja timbul, bila kaum perempuan berada di masjid tanpa tempat khusus, sehingga bercampur-baur dengan shaf laki-laki.
Adanya syarat tentang ketersediaan tempat khusus ini mengingatkan pada indahnya pengalaman kami belasan tahun lalu, ketika berkesempatan menikmati “fasilitas mewah” untuk para bunda yang sedang menyusui atau memiliki balita. Menariknya, kemewahan ini justru kami nikmati ketika berada jauh dari gampong tercinta. Di negeri di mana “menjadi muslim” berarti menjadi “kaum minoritas”.
Menyambut Ramadhan tahun 2000, dalam kondisi hamil dan punya dua balita, yang kami bayangkan adalah “terkurung” di rumah ditemani kelabunya suasana musim dingin di kampung orang. Namun ternyata, di masjid Kota Burlington, Vermont, disediakan ruang khusus bagi ibu dengan balita. Suara imam, hafidz yang diundang dari sekolah tahfidz terkenal di Inggris, terdengar dari pengeras suara.
Ibu-ibu dan adik-adik mahasiswa yang sedang haidh bergantian menjaga para bocah. Ibu-ibu shalat dengan mengatur shaf, yang hanya selemparan pandang dengan buah hatinya. Pada saat itu, tak hanya menikmati indahnya Ramadhan, Subhanallah, kami juga berkesempatan menikmati indahnya persaudaraan dalam Islam.
Jalan surga
Selain mempertimbangkan dua kondisi, yaitu “keamanan perjalanan” dan “ketersediaan tempat”, ada kondisi ketiga yang juga perlu diperhatikan. Khusus bagi para bunda, ada kondisi istimewa saat para bunda sedang menyusui, atau sedang memiliki balita. Karena biasanya, ada beberapa hal yang lazim terjadi dalam rentang waktu pelaksanaan shalat tarawih berjamaah yang relatif cukup lama dibanding shalat berjamaah lima waktu.
Karena bosan, kanak-kanak bisa berlari-lari saat shalat jamaah berlangsung. Mereka juga bisa bersuara keras, atau yang balita bahkan menangis kencang. Kesemua tingkah polah ini seharusnya biasa bagi kanak-kanak dan dimaklumi orang dewasa. Akan tetapi, bila hal ini terjadi pada saat shalat berjamaah sedang berlangsung, tentu dipandang mengganggu kenyamanan beribadah jamaah yang lain.
Pada situasi seperti ini, jalan surga untuk kita, para bunda, Insya Allah, Allah janjikan justru ada dekat sekali, yaitu di dalam rumah kita sendiri.
Diriwayatkan Abu Nu’aim dalam Al Hiyah 1/36, Abu Bakar mengatakan kepada Umar: ‘Sesungguhnya Allah tidak akan menerima ibadah sunnah kecuali apabila amalan ibadah yang wajib telah ditunaikan” (Abu Zuhriy, 2011). Pernyataan Abu Bakar ini dikuatkan dengan penjelasan pandangan ulama “Barang siapa disibukkan perkara wajib sehingga melupakan perkara sunnah, maka ia termaafkan. Barang siapa yang disibukkan dengan perkara sunnah sehingga perkara wajib terbengkalai, maka ia adalah orang yang tertipu.”
Para bunda, mari menjemput pahala dalam rumah kita. Semoga Allah melindungi dan menjadikan Ramadhan ini Ramadhan terindah sepanjang hidup. Semoga setelah tugas mulia kita selesai, Allah berikan berkah waktu dan kesehatan, sehingga kita bisa berada dalam barisan shaf-shaf tawarih di Ramadhan-Ramadhan yang akan datang.
Semoga “kecemburuan” kita untuk berjamaah di masjid, segera bisa berwujud barisan shaf khusus para bunda. Sudah ada masjid-masjid yang memulai ini. Semoga masjid ramah bunda bisa juga wujud di gampong kita!
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/dian-rubianty-se-ak-mpa-fulbright-scholar-staf-pengajar-fisip-uin-ar-raniry.jpg)