Rabu, 6 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Redupnya Celoteh Penjaja Pisang Salai di Lhokseumawe

PADA awal Lebaran Idulfitri yang lalu, tiba-tiba ke handphone saya masuk satu pesan WhatsApp (WA) dari teman kuliah

Tayang:
Editor: bakri
IST
ZULKIFLI, M.Kom, Akademisi Universitas Almuslim dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Kota Lhokseumawe 

Namun, nostalgia kesemarakan celoteh penjaja pisang salai di terminal, kini hanya tinggal kenangan, suasana masa lalu mulai redup, seiring dengan redupnya api gas alam LNG Arun serta hilangnya sentuhan embusan pembinaan bara api pengasapan di sentra produksi Lhok Nibong.

Awal meredupnya kiprah penjaja pisang salai di terminal bus–seperti saya singgung di awal tadi--dimulai pada saat Aceh dilanda konflik. Saat itu masyarakat mulai jarang memanfaatkan bus malam untuk perjalanan jauh. Bersamaan dengan kondisi itu pula pasokan pisang salai dari sentranya di Lhok Nibong dan Pantonlabu berkurang, hal ini karena kawasan sentra pisang salai merupakan kawasan yang eskalasi konfliknya tinggi. Kawasannya termasuk ke dalam kategori “daerah merah” konflik.

Padahal , era ‘80-an pisang salai terkenal sebagai salah satu oleh-oleh khas, baik bagi masyarakat Aceh maupun luar Aceh. Selain dijual dalam bentuk curah (dalam bentuk kiloan) pisang salai juga ada yang di-packing dengan desain kotak yang menarik dan dijual sampai ke Banda Aceh.

Sekarang malah sudah ada produksi pisang salai di Banda Aceh, tapi rasa dan legitnya tentu beda dengan produksi tradisional di Lhok Nibong, tempat awal mula produksi cemilan ini.

Selain alasan konflik, saya tak tahu persis kenapa oleh-oleh hasil produksi penduduk yang mendiami aliran Krueng Arakundo ini bisa menghilang di beberapa kawasan, seperti di Terminal Bireuen, Lhokseumawe, dan kota kecamatan lainnya? Kalau benar semata-mata konflik penyebabnya, mestinya pisang salai kini sudah banyak lagi diperdagangkan karena Aceh sudah damai sejak 14 tahun lalu.

Nah, perlu ditelisik apakah penyebab langkanya pisang salai kini di pasaran karena bahan bakunya tak ada lagi ataupun tenaga ahlinya sudah uzur, sedangkan generasi muda tidak tertarik menekuni usaha ini? Atau bisa jadi biaya produksinya terlalu tinggi karena prosesnya memakan waktu lama sehingga tidak sesuai dengan omset penjualan?

Pemerintah, melalui instansi terkait, perlu melakukan pembinaan kontinyu terhadap home industry yang pernah tenar namanya ini sebagai penghasil oleh-oleh khas daerah. Sudah selayaknya kita produksi kembali pisang salai dalam jumlah besar, karena jenis makanan ini sudah langka, susah didapat di pasar, sedangkan peminatnya saya yakin masih banyak. Oleh karenanya, warisan ini perlu dilestarikan, produsen pisang salai perlu diberdayakan, dan produksinya jangan sampai hilang di pasaran.

Sebagai penutup tulisan ini, saya teringat sepenggal lagu yang pernah populer dinyanyikan anak-anak pada era ‘80-an dulu: Pisang sale, hai Cut, mangat-mangat. Saboh tapajoh meurasa troe pruet....

Akhirnya, selamat Idulfitri, mohon maaf lahir dan batin.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved