Rabu, 10 Juni 2026

Jurnalisme Warga

Menikmati Pesona Puncak Singgah Mata

SALAH satu tugas dosen adalah melakukan penelitian. Saya dan teman-teman ditugaskan oleh kampus

Tayang:
Editor: bakri
IST
MUKHSINUDDIN, S.Ag,. M.M., Mahasiswa Program Doktor Ilmu Manajemen Universitas Syiah Kuala Banda Aceh dan Koordinator Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Meulaboh, melaporkan dari Puncak Gunung Singgah Mata, Nagan Raya 

Di dalam perjalanan ini kami juga mendapati warga sekitar yang sedang menambang batu giok. Ada yang kualitasnya bagus, ada juga yang, menurut mereka, batunya masih muda. Hancur kalau dijadikan cincin atau kalung. Jika batu gioknya berkualitas, maka layak diolah menjadi berbagai macam perhiasan serta cendera mata untuk sahabat dan handai tolan. Gunung Singgah Mata kian terkenal karena banyaknya potensi batu giok di sini.

Bila cuaca sedang cerah dan tak tertutup kabut, pengunjung bisa melihat keindahan Kota Nagan Raya bahkan Meulaboh dari puncak gunung ini. Kebetulan saat kami melintas cuacanya cukup cerah dan tidak ada kabut. Otomatis kami dapat menikmati view Nagan Raya dari puncak gunung ini.

Keindahan alam Singgah Mata ini sangat patut dijaga dan dilestarikan supaya mata pengunjung benar-benar terpuaskan saat mampir atau mampir sejenak di sini. Pemerintah pun hendaknya melengkapi fasilitas yang dibutuhkan pengunjung di tempat ini, misalnya balai tempat istirahat, mushala, dan pastilah WC. Ruas-ruas jalan yang rusak dan berlubang hendaknya segera diperbaiki sehingga kawasan ini semakin menarik dan bisa menarik minat banyak wisatawan dari luar kota bahkan dari luar negeri untuk tamasya ke sini, seperti halnya ramainya orang berkunjung ke Gunung Kerinci di Jambi atau Gunung Rinjani di Nusa Tenggara Barat.

Tanpa terasa, jarum jam sudah mennjukkan pukul 12.30 WIB. Kami pun melanjutkan perjalanan setelah menikmati sepuas-puasnya keindahan puncak Singgah Mata yang membekas dalam di jiwa. Kami lanjutkan perjalanan ke kota dingin, Takengon.

Singgah Mata sungguh merupakan salah satu gunung yang memesona. Orang yang pernah berkunjung ke gunung ini, seperti halnya saya, bukan saja kagum, tapi juga rasanya ingin segera kembali ke sini untuk menikmati lagi keindahan alamnya.

Dalam perjalanan menuju Takengon kami juga melihat banyak sekali di atas bukit batang serai wangi yang ditanam warga untuk dijadikan minyak serai, minyak yang berkhasiat obat. Juga banyak terbentang kebun kopi yang menghiasi gunung Aceh Tengah. Tak sabar rasanya kami tiba di kota yang memiliki danau terbesar di Aceh ini. Kami juga akan menikmati kopi robusta sepuasnya sembari melakukan penelitian di kafe dan warung-warung kopi. Kami juga akan melakukan silaturahmi dengan petinggi Kampus STAIN Gajah Putih Takengon. Semoga misi penelitian yang kami lakukan di kota dingin ini berjalan sukses.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved