Penemuan Benteng Belanda di Samalanga

SAMALANGA merupakan salah satu dari 17 kecamatan di Kabupaten Bireuen, Kecamatan yang terdiri atas 46 gampong

Penemuan Benteng Belanda di Samalanga
IST
TEUKU CUT MAHMUD AZIZ, S.Fil., M.A., Dosen FISIP Universitas Almuslim dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Bireuen

OLEH TEUKU CUT MAHMUD AZIZ, S.Fil., M.A., Dosen FISIP Universitas Almuslim dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Bireuen

SAMALANGA merupakan salah satu dari 17 kecamatan di Kabupaten Bireuen. Kecamatan yang terdiri atas 46 gampong atau desa ini memiliki 31.203 penduduk yang menjadikannya berpenduduk kelima terbesar di Kabupaten Bireuen.

Kecamatan ini merupakan kecamatan pertama yang dilalui dari arah Banda Aceh ketika memasuki wilayah Bireuen.

Kecamatan Samalanga dianugerahi air yang melimpah. Air yang menjadi sumber kebutuhan masyarakat, bersumber dari mata air pegunungan yang mengalir ke sungai dan selokan yang kemudian dialiri ke persawahan.

Krueng (Sungai) Batee Iliek menjadi ikon destinasi wisata di Samalanga. Destinasi wisata lainnya yang baru populer dan bakal menjadi ikon baru adalah air terjun piramida yang bertingkat empat.

Di balik keindahan alam yang menyelimuti Samalanga, kecamatan ini juga menjadi saksi dari sejumlah peristiwa heroik, kepahlawanan rakyatnya dalam melawan penjajah Belanda. Salah satu yang fenomenal adalah perang antara pasukan kolonial Belanda dengan rakyat Samalanga yang terjadi 1877 hingga 1904, sebagaimana yang tergambar dalam tulisan “Batee Iliek, Benteng Terakhir Aceh Melawan Belanda” di Harian Serambi Indonesia (24/05/2019).

Sebagai peneliti, saya tertarik dengan sejarah di Samalanga. Ada keinginan sejak lama untuk dapat menelusuri jejak arkeologis, lokasi benteng pertahanan kolonial Belanda yang berhasil menaklukkan benteng pertahanan rakyat Samalanga di Bukit Kuta Gle. Di samping, dengan keinginan yang sama untuk melihat langsung jejak arkeologis pertahanan rakyat Samalanga di Bukit Kuta Gle.

Di dalam banyak buku sejarah setidaknya ada satu foto dan dua lukisan yang begitu legendaris yang menggambarkan perang dahsyat di Samalanga. Foto dan lukisan tersebut begitu membayangi saya. Saya berpikir suatu saat saya harus menemukan di mana lokasi yang ada pada foto dan lukisan tersebut. Foto dan lukisan yang dimaksud adalah lukisan karya Jan Hoynck van Papendrecht tahun 1901 yang berjudul “J.B. van Heutsz met zijn staf tijdens de bestorming van de Baté-Ilië te Samalanga 1901 (J.B. van Heutsz dengan pasukannya dalam penyerbuan di Batee Iliek di Samalanga 1901).” Foto karya Christiaan Benjamin Nieuwenhuis dengan caption “Luitenant-Generaal J.B. van Heutsz met zijn staf tijdens de aanval op Bateë-iliëk 3 Desember 1901 (Letnan Jenderal J.B. van Heutsz dengan stafnya selama penyerbuan terhadap Bateë Iliëk, 3 Desember 1901. Terlihat ia sedang mengamati pasukannya dari kejauhan),” dan satu lagi lukisan karya Jan Hoynck van Papendrecht, dengan caption “Aceh 1898, Battle of Samalanga.” Foto dan lukisan ini dimiliki oleh KITLV (The Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies) Leiden dan Tropenmuseum (museum antropologi) di Amsterdam, Belanda.

Pada 2014 saya mulai melakukan penelitian di Samalanga yang salah satunya melakukan penelusuran lokasi yang tergambar pada foto dan lukisan legendaris tersebut. Di Samalanga, tanpa direncanakan saya bertemu dan berkenalan dengan Pak Mukhtar, pensiunan Guru SMP di sana. Seorang tokoh masyarakat dan sangat tertarik dengan sejarah. Kami langsung terlibat diskusi tentang sejarah di Samalanga. Sambil memperlihatkan foto karya Christiaan Benjamin Nieuwenhuis, saya sampaikan keinginan untuk mencari lokasi benteng Belanda yang menjadi markas pertahanan kolonial puluhan tahun lamanya; di bawah komando Letnan Jenderal van Heutsz, baru dinyatakan berhasil menaklukan Bukit Kuta Glee. Ia mengatakan akan membantu cari di mana lokasinya. Lalu, kami berdua menuju ke satu lokasi yang masih berada di Gampong Batee Iliek. Dari jalan raya Banda Aceh-Medan menuju ke lokasi, jaraknya sekitar 1 km.

Kami memasuki sebuah pekarangan kebun yang luasnya diperkirakan sekitar 2 hektare. Kebun tersebut ditumbuhi pepohonan ukuran besar, seperti pohon jengkol, mangga, nangka, pinang, dan beberapa pohon lainnya. Posisi kebun berada di tanah yang tidak datar, dari posisi tinggi hingga rendah. Suasana begitu rindang. Kami menyisir area di sekitar dan saya benar-benar terperanjat, menemukan bekas arkeologis sisa reruntuhan benteng di dalam kebun tersebut. Terlihat bekas bangku serdadu Belanda. Pecahan beton berserakan, banyak yang tertimbun tanah dan dedaunan. Pak Mukhtar mengatakan, jika benteng ini yang dimaksud, sebelumnya ia pernah kemari di tahun 1970-an. Bentuk benteng masih terlihat walaupun tidak utuh. Tidak seperti sekarang, yang hampir sama sekali tidak terlihat. Ia tidak sampai begitu mendalami perihal sejarah benteng tersebut. Ia tahu secara umum cerita dan sejarah di Samalanga. Ia memperlihatkan kegembiraan bertemu dengan saya yang memiliki minat yang sama dengannya. Sama-sama mencintai dunia sejarah.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved