Jurnalisme Warga

Istana Karang, Warisan Kerajaan Tamiang

KETIKA pulang kampung (pulkam) ke Meurandeh, Kecamatan Manyak Payed, Kabupaten Aceh Tamiang

Istana Karang, Warisan Kerajaan Tamiang
IST
AMIRUDDIN (Abu Teuming), Penyuluh Informasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia dan Sekretaris Jenderal Warung Penulis (WP) melaporkan dari Aceh Tamiang

OLEH AMIRUDDIN (Abu Teuming),  Penyuluh Informasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia dan Sekretaris Jenderal Warung Penulis (WP) melaporkan dari Aceh Tamiang

KETIKA pulang kampung (pulkam) ke Meurandeh, Kecamatan Manyak Payed, Kabupaten Aceh Tamiang, pada Idulfitri 1440 H, saya manfaatkan waktu luang untuk menyambangi beberapa istana peninggalan Kerajaan Tamiang.

Sebenarnya, banyak istana raja-raja kecil di Aceh Tamiang, tapi yang paling populer adalah Istana Karang dan Istana Benua. Objek yang paling membuat saya tertarik adalah Istana Karang, merupakan warisan benda tak bergerak Kerajaan Tamiang.

Istana Karang berada di tepi jalan lintas Medan-Banda Aceh. Memang, lokasi sejarah ini lebih dekat dengan Kota Medan yang hanya berjarak 2 jam perjalanan menggunakan mobil ketimbang Banda Aceh yang berjarak 7-8 jam perjalanan.

Namun, dari kediaman saya (Meurandeh) hanya 20 menit menggunakan kendaraan bermotor. Saya harus mendatangi tempat ini, karena akan terasa lebih jauh melupakan sejarah ketimbang jauh lokasi istana dari lokasi domisili siapa pun.

Tidak seru rasanya kalau cuma datang ke Istana Karang, lalu berfoto ria tanpa menelusuri kisah di balik berdirinya istana megah itu. Sama seperti istana lainnya, Istana Karang dibangun oleh raja hebat, leluhur masyarakat Aceh Tamiang.

Keberadaan Kerajaan Karang berawal dari Kerajaan Tamiang yang mendapatkan pengakuan dari Sultan Ali Mughayat Syah dari Kerajaan Aceh Darussalam. Pemangku pertama Kerajaan Tamiang adalah Raja Muda Setia yang berkuasa selama 1330-1352 M. Sebab itu, Aceh Tamiang dijuluki “Tanah Muda Setia”.

Lambat laun, Kerajaan Tamiang dibagi dua, yaitu Kerajaan Karang dan Kerajaan Benua Tunu. Tetapi kedua kerajaan kecil ini tunduk pada Kerajaan Tamiang. Kerajaan Benua Tunu juga memiliki istana yang dikenal Istana Benua Raja di Desa Benua Raja, hanya berjarak 5 kilometer dari pusat Kota Kuala Simpang. Kini, Istana Benua Raja didiami oleh ahli waris kerajaan tersebut.

Istana Karang
Pada artikel ringkas ini, saya hanya fokus pada Istana Karang (Kerajaan Karang) yang beralamat di Gampong Tanjung Karang, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang.

Dalam literatur sejarah, Kerajaan Karang didirikan oleh Froomsyah pada tahun 1558 M. Froomsyah menjadi pemangku pertama dalam silsilah Kerajaan Karang. Sedangkan raja terakhir (ke-7) dipimpin Tengku Muhammad Arifin yang berkuasa dalam kurun waktu 1925-1945 M. Pasca-Indonesia merdeka, takhta Kerajaan Karang masih eksis hingga kini, tapi hanya sebatas menjaga warisan raja, tidak punya kekuasaan politik apa pun.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved