Jurnalisme Warga
‘Sate Apaleh’ dan Iringan Doa Anak Yatim
SATAI (sate) adalah makanan khas Indonesia. Pencinta kuliner tentu tak asing lagi dengan makanan
OLEH CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim Peusangan, Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Kabupaten Bireuen
SATAI (sate) adalah makanan khas Indonesia. Pencinta kuliner tentu tak asing lagi dengan makanan yang satu ini karena dapat dijumpai di berbagai daerah di Indonesia dengan sensasi rasa yang berbeda. Kuliner yang satu ini kerap diberi nama sesuai daerah asal atau nama penjualnya. Itu sebab ada “sate padang”, “sate madura”, dan di Aceh ada “sate matang” dari Matangglumpang Dua, Bireuen.
Beberapa tahun belakangan populer pula satai/sate Apaleh Geurugok, Kabupaten Bireuen. Apalagi baru saja bulan Juni ini satai Apaleh masuk salah satu dari tujuh nominasi objek wisata Aceh yang berhak mendapat Anugerah Pesona Indonesia (API) 2019. Selain satai Apaleh Geurugok yang masuk nominasi makanan tradisional, objek lainnya adalah Mangrove Forest Park di Kota Langsa masuk nominasi ekowisata dan Kerawang Gayo, Gayo Lues, masuk nominasi cendera mata. Selanjutnya Rabbani Wahed, Bireuen, masuk nominasi atraksi budaya, Kilometer Nol Kota Sabang masuk nominasi destinasi unik, Tensaran Bidin Bener Meriah masuk nominasi surga tersembunyi, dan Sabang Marine masuk nominasi festival pariwisata.
Nah, melalui tulisan ini saya coba untuk mengenal lebih dekat satai Apaleh sambil menikmatinya. Kebetulan, masih dalam suasana Syawal 1440 H, saya kedatangan tamu dari Jakarta. Siang itu saya ajak sang tamu dan keluarga untuk menikmati sambil menelusuri sejarah satai di Matang.
Kami berangkat pukul 12.20 siang dari tempat tinggal saya di Matang menuju lokasi ± 20 menit. Udara saat itu sangat panas, sepanjang perjalanan banyak kendaraan berlalu lalang, karena masih dalam suasana arus balik Lebaran, terkadang laju kendaraan tersendat bahkan harus berhenti, karena dipenuhi kendaraan lainnya. Jadi, butuh kesabaran dan pengertian sebagai sesama pengguna jalan.
Tanpa terasa kami telah sampai di Geurugok pas waktu zuhur. Kami pun shalat di Masjid Taqwa Geurugok, letaknya berseberangan jalan dengan warung satai. Seusai shalat kami langsung menuju Warung Sate Apaleh, karena bersamaan dengan waktu makan siang. Saking banyaknya pengunjung yang memadati warung tersebut, kami hampir tak kebagian tempat duduk dan parkir.
Penikmat satai Apaleh kebanyakan orang yang datang dari berbagai daerah, umumnya orang-orang yang melintasi di jalan Banda Aceh-Medan. Saat Lebaran 2-5 Idulfitri lalu, kemacetan lalu lintas di sekitar ini sampai 2 hingga 10 km panjangnya karena laju kendaraan di jalan terganggu saat pengendara ke luar dari parkir atau memarkir mobilnya di kiri dan kanan jalan yang di kedua sisi itu ada warung Apaleh. Belum pernah ada dalam sejarahnya di Aceh kuliner yang begitu banyak peminatnya mampu menyebabkan kemacetan kendaraan di jalan nasional sampai 10 km panjangnya, kecuali satai Apaleh. Ya begitulah hebatnya.
Tanpa perlu lama menunggu, pelayan akhirnya mempersilakan kami duduk di sebuah meja, tak jauh dari gerobak satai. Kami tak menolaknya, apalagi aroma satai yang sedang dibakar dengan asap yang mengepul sangat menggoda selera untuk segera menyantapnya.
Dua porsi satai yang masih berasap ditambah kuah soto, bumbu kacang, dan sedikit taburan bawang goreng dipadukan sedikit tetesan air cabai rawit dengan aroma yang khas disajikan kepada kami plus air timun dingin. Semua ini makin menggugah selera makan siang kami. ”Ini benar-benar nikmat,” ujar tamu saya, tanpa terasa satai yang dihidangkan di meja kami semua habis. Saya pun minta tambah satu porsi lagi. Ternyata tamu saya benar-benar menikmatinya.
Seusai makan saya biarkan tamu saya untuk berkeliling melihat dari dekat bagaimana cara mengolah satai matang. Saya pun tak menyia-nyiakan kesempatan untuk bertemu dengan Apaleh, sang pemilik kuliner tersebut. Dengan santun pelayan mengantarkan saya bertemu Apaleh.
Ini orang terpenting di balik kisah sukses bisnis satai di Geurugok. Soalnya nama satai yang populer dalam beberapa tahun terakhir ini diambil dari namanya selaku pemilik, yakni Muhammad Saleh. Orang kampungnya memanggil pria berpenampilan sederhana ini dengan Apaleh. Ia sudah dikaruniai sembilan orang anak, semuanya sedang menuntut ilmu di dayah/pesantren dalam Kabupaten Bireuen. Menurut Apaleh, awalnya dia mendapat ilmu cara bikin satai di Matangglumpang Dua pada usaha satai matang. Dulunya dia bekerja pada usaha satai ayah dari Tubaka (pemilik warung satai di Matangglumpang Dua), sampai beberapa tahun lamanya. Apaleh bekerja dan tinggal di Meunasah Dayah Matangglumpang Dua, tempat gudang satai orang tua Tubaka yang bernama Tu Ali.
Karena tinggal di situ, Apaleh belajar sambil bekerja. Dari ayah Tubakalah dia berguru sampai akhirnya punya “ilmu kanuragan” tentang satai dan cara berjualan. Setelah berguru dan bekerja beberapa tahun di usaha satai di Matangglumpang Dua, Apaleh yang merasa sudah mampu lalu mencoba untuk mandiri dan berusaha membuka usaha sendiri di kampungnya, Geurugok.
Awalnya Apaleh berjualan pada hari pekan (uroe gantoe), setiap hari Selasa. Saat itu orang yang membeli sangat terbatas, hanya pedagang yang berjualan pada hari pekan tersebut. “Sesekali ada juga pelajar yang pulang dari sekolah yang beli,” jelas Apaleh mengenang awal ia merintis usaha.
Menurut Apaleh, dia telah memulai usaha ± 20 tahun lalu. Di tengah perjalanan, usahanya mengalamai pasang surut. Apalagi pada masa Daerah Operasi Militer (DOM) dan konflik berkecamuk gerobak satai yang ia kelola pernah dibakar aparat tanpa sebab yang jelas. Kejadian itu membuat dirinya dan masyarakat trauma, sehingga dia harus mengungsi ke tempat lain. Situasi saat itu memang sangat tidak menentu dan Apaleh sempat tak punya lokasi untuk berjualan lagi.
Selang beberapa tahun, Apaleh merintis kembali usahanya di sebuah warung di sisi jalan nasional Geurugok. Pelan tapi pasti ia terus bertahan walaupun pembelinya masih terbatas, Apaleh tetap sabar karena berjualan satai satu-satunya keahlian yang dia miliki setelah beberapa tahun berguru di Matangglumpang Dua.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/chairul-bariah-dosen-fakultas-ekonomi-universitas-almuslim-peusangan.jpg)