Jurnalisme Warga
‘Sate Apaleh’ dan Iringan Doa Anak Yatim
SATAI (sate) adalah makanan khas Indonesia. Pencinta kuliner tentu tak asing lagi dengan makanan
Setelah peremajaan Pasar Geurugok, Apaleh pindah ke tempat baru. Alhamdulillah, dalam waktu setahun usahanya mulai berkembang. Awalnya satu gerobak, sekarang sudah lebih dari lima gerobak. Ia mempekerjakan 50 karyawan di warung dan 10 karyawan khusus bekerja di rumah sebagai juru masak bumbu dan menyiapkan potongan daging sapi. Penyembelihan sapi rata-rata dua ekor per hari dilakukan sendiri oleh Apaleh. Bahan baku daging dipotong-potong oleh karyawan, kemudian disucikan dan diolah dengan bumbu racikan khas Apaleh.
Karyawan, selain mendapat upah rutin harian juga mendapatkan bonus akhir tahun dari Apaleh. Dari keuntungan usahanya empat tahun yang lalu, Apaleh berhasil mendirikan balai pengajian dengan nama Darul Khairat Al-Aziziah yang berlokasi tak jauh dari rumah tinggalnya, Desa Paloh Me. Santrinya mayoritas anak yatim, jumlahnya mencapai 500 orang. Pengelolaan lembaga ini dia amanahkan kepada menantunya. Biaya pendidikan bagi para yatim digratiskan. Seluruh dana untuk operasional balai pengajian ditanggung Apaleh dari hasilnya berjualan satai.
Yang unik, karyawan yang kerja di warungnya harus mampu membaca Alquran dan wajib ikut pengajian setiap malam Jumat. Yang tidak hadir pengajian diberi sanksi, yakni tidak boleh bekerja selama tiga hari. Apabila tidak ikut pengajian selama tiga kali berturut-turut, maka langsung diberhentikan dari status karyawan.
“Karyawan juga ada yang mengajar di dayah tersebut. Khusus hari Jumat warung dibuka setelah shalat Jumat. Kalau ada acara muhadharah maka seluruh santri diberikan makan satai gratis,” ujarnya.
Apaleh justru merasa sangat terbantu dengan doa-doa para anak yatim tersebut sehingga usahanya sukses dan terus berkibar. “Keuntungan yang saya peroleh dari penjualan satai ini, antara lain, berkat doa anak-anak yatim yang saya asuh. Ini juga salah satu bekal saya menuju akhirat kelak,” ungkap Apaleh dengan mata berkaca-kaca.
“Kunci sukses lainnya adalah kepada karyawan saya tekankan agar melayani pelanggan dengan ramah, tulus, dan santun, serta selalu menjaga kebersihan,” jelas Apaleh.
Selesai makan di warung itu saya dan tamu saya sangat puas menikmati satai Apaleh. Semoga usaha satai yang menunjang operasional pendidikan 500 santri yatim ini semakin maju dan sedapatnya menjadi contoh bagi pengusaha yang lain.
Lolosnya kuliner andalan Matangglumpang Dua ini masuk nominasi Anugerah Pesona Indonesia (API) Tahun 2019 untuk kategori makanan tradisional, semoga menjadi start awal untuk mempromosikan kuliner Aceh yang satu ini ke pentas nasional bahkan mancanegara. Selamat kepada Apaleh dan para karyawannya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/chairul-bariah-dosen-fakultas-ekonomi-universitas-almuslim-peusangan.jpg)