Jumat, 15 Mei 2026

Opini

Jabatan untuk Memikul Beban

Seusai dilantik, Presiden terpilih Ukraina Volodymyr Zelensky meminta kepada bawahannya untuk tidak memasang fotonya di ruang-ruang kantor

Tayang:
Editor: hasyim
IST
Teuku Zulkhairi, Alumnus Dayah Babussalam Matangkuli Aceh Utara, Dosen UIN Ar-Raniry 

Teuku Zulkhairi
Dosen UIN Ar-Raniry, Banda Aceh

Seusai dilantik, Presiden terpilih Ukraina Volodymyr Zelensky meminta kepada bawahannya untuk tidak memasang fotonya di ruang-ruang kantor atau rumah mereka. Sebaliknya, ia meminta para bawahannya untuk memasang foto anak-anak mereka saja dan melihatnya sebelum mengambil sebuah keputusan.

Alasan yang cukup menarik yang ia ungkapkan adalah bahwa “jabatan presiden bukanlah ikon maupun idola atau sebuah potret” sebagaimana dilansir kompas.com, 25 Mei lalu. Narasi Zelensky cukup menarik. Pemikiran semacam ini muncul karena kesadaran bahwa jabatan itu untuk memikul beban, bukan penghormatan.

Kita tidak perlu malu untuk mencontohi cara Zelensky berfikir dalam melihat jabatan. Karena sesuatu yang baik dapat kita serap darimana saja. Apalagi, pada faktanya, kita sudah lama kehilangan para figur pemimpin yang layak diteladani di tengah-tengah dunia Islam. Kita justru malu kepada sendiri kenapa cara melihat jabatan semacam ini tidak ditunjukkan oleh para pemimpin dunia Islam dewasa ini, kecuali sangat sedikit di antara mereka.

Di era kejayaan umat Islam dahulu, kita membaca kisah kepemimpinan ideal di tengah-tengah dunia Islam. Tapi dewasa ini, kita justru sedang menyaksikan parade kepemimpinan yang umumnya sama sekali tidak bisa dibanggakan. Bukan saja karena jauh dari keteladanan, tapi malahan ikut membuat umat Islam semakin terpuruk.

Kita menyaksikan bagaimana para pemimpin di dunia muslim menjadikan jabatan sebagai sarana kebanggaan diri, keluarga dan kelompok. Akibatnya, dunia Islam terpuruk dan tertinggal jauh dari peradaban barat. Lihat saja bagaimana raja-raja Arab dengan gaya flamboyannya berjalan megah di tengah reruntuhan peradaban Islam di sana, di tengah ratapan anak muslim yang kehilangan orang tua mereka di Palestina, Afganistan Suriah, Irak, dan Yaman.

Tentu, fenomena wajah pemimpin di dunia Islam ini jauh dari semangat Alquran dan keteladanan yang pernah ditunjukkan oleh Rasulullah Saw dan para sahabatnya. Juga jauh dari keteladanan yang ditunjukkan para pejuang Islam yang telah memberikan sumbangsih besar untuk kejayaan Islam di masa silam. Jika demikian fakta hari ini, tentu kita tidak ragu menyimpulkan bahwa inilah salah satu akar masalah dari terpuruknya umat Islam dewasa ini.

Semua ini berawal dari kerusakan paradigma dalam melihat kekuasaan atau jabatan. Jabatan dilihat sebagai sarana untuk bermegah-megah, atau untuk dipakai sebagai palu godam menghantam lawan politik atau pemikirannya. Di negara kita, setelah Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan menangnya salah satu kandidat dalam pemilihan presiden, media sosial melemparkan sejumlah gunjingan menghantam para pendukung kandidat yang kalah.

Seolah, meraih jabatan adalah tujuan akhir dari perjuangan. Jadi, ini adalah narasi yang salah dalam melihat kekuasaan. Sebab, jabatan adalah awal untuk memikul beban yang sungguh berat. Bukan saja berat di dunia, tetapi juga di akhirat.

Banyak sekali ulasan Islam tentang beban berat sebuah jabatan. Apalagi jabatan dimana nasib jutaan orang dipertaruhkan, maka orang-orang terdahulu tidak pernah melihat jabatan sebagai suatu penghormatan. Jabatan betul-betul dilihat sebagai “beban yang harus dipikul”. Dan oleh karena mereka mampu memposisikan jabatan dengan cara seperti ini, maka kemudian mereka bersungguh-sungguh memikul beban tersebut.

Khalifah Umar bin Khattab suatu ketika melihat seorang ibu dan anak-anaknya yang menangis karena kelaparan. Setelah menyelidiki sebab anak-anaknya menangis, Umar lalu bergegas kembali ke gudang penyimpanan makanan (tepung) milik umat dan mengambilnya untuk diberikan kepada si ibu tadi agar ia memasak untuk anak-anaknya.

Sahabat yang menyertainya kemudian meminta agar ia saja yang memikul tepung tersebut di punggungnya untuk dibawa kepada wanita tersebut. Umar lalu mengatakan, “Apakah Anda nanti akan memikul bebanku di akhirat kelak?” Umar lalu memikul sendiri membawa tepung tersebut kepada si perempuan tadi.

Kisah Khalifah Umar bin Khattab ini adalah filosofi tentang jabatan. Bagaimana Umar merasa bahwa sebagai pemimpin, ia betul-betul takut jika gagal dalam memikul beban jabatannya sebagai khalifah. Jadi ini adalah perihal “paradigma berfikir”. Paradigma Umar semacam ini kemudian diteruskan oleh para sahabatnya dan para penerusnya di kemudian hari.

Mereka betul-betul memposisikan jabatan untuk memikul beban. Jabatan tidak diposisikan sebagai suatu penghormatan. Apa yang harus dibanggakan sementara bebannya sungguh berat dan tentu belum pasti akan berhasil ditunaikan?

Perihal beratnya memikul beban jabatan, Rasulullah Saw dalam hadis riwayat Bukhari menjelaskan, “Seseorang yang dijadikan pemimpin, tapi tidak menjalankannya dengan baik, maka dia tidak akan mencium harumnya surga.” Jadi seorang pemimpin yang jika tidak menjalankan amanah kepemimpinannya maka resiko sangat besar, tidak akan mencium wanginya bau syurga. Jadi baunya saja tidak bisa mencium. Apalagi memasukinya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved