Jurnalisme Warga

Mengintip Ketangguhan Masyarakat Lancang Paru

SUDAH sepuluh bulan saya bertugas di Desa Lancang Paru, Kecamatan Bandar Baru, Kabupaten Pidie Jaya (Pijay)

Mengintip Ketangguhan Masyarakat Lancang Paru
IST
ASWADI, S.Pd., M.Si., Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe)

ASWADI, S.Pd., M.Si., Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Pidie Jaya, Pengurus IPAU Bidang Kebencanaan, dan Anggota Ikatan Alumni Magister Ilmu Kebencanaan (IKAMIK) Universitas Syiah Kuala, melaporkan dari Pidie Jaya

SUDAH sepuluh bulan saya bertugas di Desa Lancang Paru, Kecamatan Bandar Baru, Kabupaten Pidie Jaya (Pijay) sebagai staf Disaster Risk Reduction (DRR) Project Reselient Aceh. Proyek ini dilaksanakan Pusat Kajian dan Perlindungan Anak yang didanai oleh Mercy Relief. Sangat banyak program yang sudah kami lakukan, baik itu untuk penguatan ekonomi masyarakat maupun pengurangan risiko bencana.

Lalu di manakah Lancang Paru itu? Untuk menuju gampong ini kita melewati jalan Medan-Banda Aceh, sesampai di Paru atau di seputaran SPBU Paru berbelok ke arah utara dengan jarak tempuh sekitar 1 kilometer dari jalan Medan-Banda Aceh, tibalah kita di Gampong Lancang Paru.

Awal berdirinya, pada tahun 1940 ada beberapa warga yang mendirikan bangunan gubuk atau dalam bahasa Aceh jambo, yaitu tempat untuk memasak garam, di daerah ini. Pada waktu itu belum ada perumahan penduduk. Hannya ada beberapa jambo tempat warga memasak garam.

Seiring dengan perjalanan waktu, satu-dua rumah mulai berdiri di Gampong Lancang Paru. Hal itu untuk memudahkan warga dalam memproduksi garam sehingga tidak lagi menghabiskan waktu lama bolak-balik dari rumah ke tempat usaha dengan menempuh jarak yang jauh.

Beberapa tahun kemudian jumlah perumahan di sini semakin banyak karena mata pencaharian di wilayah pesisir memang sangat menjanjikan. Sebelah utara Gampong Lancang Paru berbatasan langsung dengan Selat Malaka. Oleh karena itu, mata pencaharian masyarakatnya rata-rata sebagai nelayan tradisional.

Kemudian, kalau dilihat dari silsilah keluarga, di Gampong Lancang Paru ini hampir seluruh warganya terikat tali persaudaraan yang dekat. Itu karena pada awalnya hanya sekitar sepuluh keluarga nenek moyang mereka yang dulunya mendiami gampong ini. Kemudian, jumlahnya bertambah dari generasi ke generasi.

Saat memasuki Gampong Lancang Paru ini kita disuguhi panorama indah berupa pemandangan tumbuhan mangrove (bakau) yang tumbuh liar di seputaran tambak masyarakat. Menurut warga setempat, sebelum tsunami bakau tumbuh sangat luas di Lancang Paru, kemudian setelah tsunami banyak yang mati.

Sejarah mencatat, pada tahun 1967 pernah terjadi gempa yang destruktif (merusak) di kawasan Pijay yang saat itu masih bergabung dalam Kabupaten Pidie. Informasi ini saya dapat melalui masyarakat Lancang Paru. Kemudian saya telaah buku Pusat Studi Gempa Nasional (PusGEN) benar bahwa pada 12 April 1967 terjadi gempa di Pidie dan juga dirasakan di beberapa kabupaten lainnya seperti Aceh Timur, Aceh Utara, dan Aceh Tengah.

Berarti, sebelum gempa tahun 2004 disusul oleh tsunami yang menelan banyak korban jiwa dan harta benda, juga pernah terjadi gempa yang merusak pada tahun 1967. Kemudian pada 7 Desember 2016 Pijay kembali diguncang gempa bumi daratan dengan kedalaman pusat gempa 15 km dari permukaan bumi dan berkekuatan 6,5 skala Richter (SR).

Halaman
123
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved