Kamis, 18 Juni 2026

Jurnalisme Warga

Mengintip Ketangguhan Masyarakat Lancang Paru

SUDAH sepuluh bulan saya bertugas di Desa Lancang Paru, Kecamatan Bandar Baru, Kabupaten Pidie Jaya (Pijay)

Tayang:
Editor: hasyim
IST
ASWADI, S.Pd., M.Si., Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) 

ASWADI, S.Pd., M.Si., Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Pidie Jaya, Pengurus IPAU Bidang Kebencanaan, dan Anggota Ikatan Alumni Magister Ilmu Kebencanaan (IKAMIK) Universitas Syiah Kuala, melaporkan dari Pidie Jaya

SUDAH sepuluh bulan saya bertugas di Desa Lancang Paru, Kecamatan Bandar Baru, Kabupaten Pidie Jaya (Pijay) sebagai staf Disaster Risk Reduction (DRR) Project Reselient Aceh. Proyek ini dilaksanakan Pusat Kajian dan Perlindungan Anak yang didanai oleh Mercy Relief. Sangat banyak program yang sudah kami lakukan, baik itu untuk penguatan ekonomi masyarakat maupun pengurangan risiko bencana.

Lalu di manakah Lancang Paru itu? Untuk menuju gampong ini kita melewati jalan Medan-Banda Aceh, sesampai di Paru atau di seputaran SPBU Paru berbelok ke arah utara dengan jarak tempuh sekitar 1 kilometer dari jalan Medan-Banda Aceh, tibalah kita di Gampong Lancang Paru.

Awal berdirinya, pada tahun 1940 ada beberapa warga yang mendirikan bangunan gubuk atau dalam bahasa Aceh jambo, yaitu tempat untuk memasak garam, di daerah ini. Pada waktu itu belum ada perumahan penduduk. Hannya ada beberapa jambo tempat warga memasak garam.

Seiring dengan perjalanan waktu, satu-dua rumah mulai berdiri di Gampong Lancang Paru. Hal itu untuk memudahkan warga dalam memproduksi garam sehingga tidak lagi menghabiskan waktu lama bolak-balik dari rumah ke tempat usaha dengan menempuh jarak yang jauh.

Beberapa tahun kemudian jumlah perumahan di sini semakin banyak karena mata pencaharian di wilayah pesisir memang sangat menjanjikan. Sebelah utara Gampong Lancang Paru berbatasan langsung dengan Selat Malaka. Oleh karena itu, mata pencaharian masyarakatnya rata-rata sebagai nelayan tradisional.

Kemudian, kalau dilihat dari silsilah keluarga, di Gampong Lancang Paru ini hampir seluruh warganya terikat tali persaudaraan yang dekat. Itu karena pada awalnya hanya sekitar sepuluh keluarga nenek moyang mereka yang dulunya mendiami gampong ini. Kemudian, jumlahnya bertambah dari generasi ke generasi.

Saat memasuki Gampong Lancang Paru ini kita disuguhi panorama indah berupa pemandangan tumbuhan mangrove (bakau) yang tumbuh liar di seputaran tambak masyarakat. Menurut warga setempat, sebelum tsunami bakau tumbuh sangat luas di Lancang Paru, kemudian setelah tsunami banyak yang mati.

Sejarah mencatat, pada tahun 1967 pernah terjadi gempa yang destruktif (merusak) di kawasan Pijay yang saat itu masih bergabung dalam Kabupaten Pidie. Informasi ini saya dapat melalui masyarakat Lancang Paru. Kemudian saya telaah buku Pusat Studi Gempa Nasional (PusGEN) benar bahwa pada 12 April 1967 terjadi gempa di Pidie dan juga dirasakan di beberapa kabupaten lainnya seperti Aceh Timur, Aceh Utara, dan Aceh Tengah.

Berarti, sebelum gempa tahun 2004 disusul oleh tsunami yang menelan banyak korban jiwa dan harta benda, juga pernah terjadi gempa yang merusak pada tahun 1967. Kemudian pada 7 Desember 2016 Pijay kembali diguncang gempa bumi daratan dengan kedalaman pusat gempa 15 km dari permukaan bumi dan berkekuatan 6,5 skala Richter (SR).

Ternyata bukan bencana gempa bumi dan tsunami saja yang pernah dirasakan oleh masyarakat Lancang Paru. Mereka juga pernah merasakan dahsyatnya angin puting beliung pada tahun 2008 dan dampaknya banyak rumah yang rusak dan pohon yang tumbang. Banyak penduduk yang ketakutan dan anak-anak trauma.

Pada April 2019, hujan lebat dan angin kencang melanda Gampong Lancang Paru pada sore hari, masyarakatnya berhamburan ke luar dari rumah dan mencari tempat yang paling aman di satu titik kumpul. Ini pertanda bahwa masyarakat Gampong Lancang Paru sangat trauma dengan angin puting beliung, sehingga mereka berkumpul ramai-ramai di satu tempat ketika itu terjadi.

Di Lancang Paru juga pernah terjadi banjir rob (pasang purnama) pada tahun 2011 setinggi empat meter dari bibir pantai dan terulang selama empat tahun sekali. Banyak sekali kerugian yangdirasakan masyarakat Lancang Paru, yaitu rusaknya lahan pertanian garam, lahan tanaman, tambak ikan dan udang. Masyarakat pun merasa trauma, seakan-akan terjadi lagi gelombang tsunami di gampong ini. Lebih parahnya lagi adalah kejadian pada malam hari saat masyarakat sedang beristirahat.

Di Lancang Paru juga terjadi abrasi pantai, karena batu pemecah ombak hanya sampai di Kecamatan Pante Raja, sedangkan Gampong Lancang Paru adalah perbatasan antara Kecamatan Bandar Baru dan Pante Raja. Apabila hal ini tidak ditanggulangi maka kemungkinan besar beberapa tahun ke depan lahan tanaman dan bangunan rumah penduduk akan menjadi laut.

Inilah penderitaan yang dirasakan masyarakat Lancang Paru, akibat beberapa kejadian bencana yang telah terjadi dan sedang terjadi. Oleh karena itu, Gampong Lancang Paru dapat dikatakan sebagai market atau laboratorium bencana.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup K - Matchday 1
Kamis, 18 Juni 2026 | 00:00 WIB
Portugal
Portugal
1 - 1
DR Congo
RD Kongo
Grup L - Matchday 1
Kamis, 18 Juni 2026 | 03:00 WIB
England
Inggris
4 - 2
Croatia
Kroasia
Grup L - Matchday 1
Kamis, 18 Juni 2026 | 06:00 WIB
Ghana
Ghana
1 - 0
Panama
Panama
Grup K - Matchday 1
Kamis, 18 Juni 2026 | 09:00 WIB
Uzbekistan
Uzbekistan
1 - 3
Colombia
Kolombia
Grup A - Matchday 2
Kamis, 18 Juni 2026 | 23:00 WIB
Czechia
Ceko
VS
South Africa
Afrika Selatan
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved