Jurnalisme Warga
Mengintip Ketangguhan Masyarakat Lancang Paru
SUDAH sepuluh bulan saya bertugas di Desa Lancang Paru, Kecamatan Bandar Baru, Kabupaten Pidie Jaya (Pijay)
Reselient
Pada 27 Agustus 2018, awal mula mengarungi Gampong Lancang Paru, saya berpendapat bahwa orang di pesisir itu sangat ekstrem, cuek, dan terkesan angker. Tapi setelah bertemu dan bergaul dengan warga setempat kesan dan pendapat saya itu justru salah. Masyarakat Gampong Lancang Paru malah sangat ramah, santun, dan sopan.
Salah satu buktinya, saat pertama kami mengunjungi petani garam, orangnya sangat ramah dan murah senyum walaupun di bawah sinar matahari. Mereka tetap luangkan waktu kepada kami untuk berkomunikasi. Saya melihat petani garam yang sudah sepuh membawa sekarung pasir di pundaknya untuk dimasukkan ke dalam jantan. Jantan adalah pabrikasi air asin menjadi air garam yang ditampung di dalam tempat penampungan, kemudian air garam itu diangkut dan dituang ke dalam bejana di jambo untuk dimasak dan menjadi garam yang siap untuk dipasarkan.
Setelah kami mendapat informasi tentang pengalaman masyarakat pada saat gempa bumi 2004, tsunami 2004, dan gempa bumi 2016 kami lanjutkan perjalanan ke rumah kader desa untuk menggali informasi yang lebih mendalam lagi. Banyak sekali informasi yang kami dapatkan tentang kerentanan, ancaman, dan kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana. Sehingga ke depan program yang kami bawa ke desa ini betul-betul dapat bermanfaat bagi masyarakatnya.
Kemudian, koordinator lapangan memperkenalkan kami pada kepala desa (keuchik) bahwa kami selama setahun akan selalu mengunjungi desa ini dengan harapan dapat mendampingi masyarakat dengan program keluarga tangguh bencana.
Awal mula yang kami lakukan adalah pelatihan aset rumah tangga. Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat dengan beberapa indikator, seperti cara menyisihkan pendapatan masyarakat, berbagi peran dalam rumah tangga, mengutamakan berbelanja keperluan daripada keinginan. Meningkatkan perekonomian masyarakat merupakan salah satu faktor pengurang risiko bencana karena kemiskinan merupakan salah satu elemen kerentanan dalam manajemen bencana.
Kami juga melakukan penilaian tingkat kerentanan dan kapasitas masyarakat. Hal ini merupakan metode untuk menjawab kerentanan di desa terkait potensi bencana dengan melibatkan partisipasi masyarakat secara langsung. Metode ini juga untuk membangun kesadaran dan berpartispasi masyarakat untuk menjawab kerentanan desa mereka terhadap potensi bencana yang tidak bisa diprediksi kapan terjadinya.
Kemudian, kami juga menggelar Focus Group Discussion (FGD) bersama masyarakat Lancang Paru untuk menghasilkan rencana aksi desa ke depan. Semua ini untuk menyiapkan masyarakat dan desa yang tangguh bencana di Lancang Paru. Semoga terwujud.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/aswadi.jpg)