Jurnalisme Warga

Gua Jepang, Jejak Perang Pasifik di Aceh

JEPANG, negeri yang banyak mengekspor barang teknologi ke Indonesia, termasuk keAceh

Gua Jepang, Jejak Perang Pasifik di Aceh
IST
AMIRUDDIN (Abu Teuming), Direktur lembaga Keluarga Sakinah Mawaddah dan Rahmah (K-Samara) dan Sekretaris Jenderal Warung Penulis (WP), melaporkan dari Lhokseumawe

OLEH AMIRUDDIN (Abu Teuming), Direktur lembaga Keluarga Sakinah Mawaddah dan Rahmah (K-Samara) dan Sekretaris Jenderal Warung Penulis (WP), melaporkan dari Lhokseumawe

JEPANG, negeri yang banyak mengekspor barang teknologi ke Indonesia, termasuk keAceh. Di Indonesia, Jepang bukan hanya populer lewat produknya, tetapi sejak puluhan tahun silam bangsa dan tentara Jepang telah dikenal oleh masyarakat pribumi, Indonesia. Terutama saat bom atom mengguncang Hiroshima dan Nagasaki.

Bagi rakyat Aceh, Jepang seakan punya kenangan spesial. Ditandai dengan benda-benda yang mengikat dengan kata Jepang. Seperti silop jepang (sandal) dan boh labu jepang (labu). Walaupun hanya humor, tapi nama Jepang melekat erat dalam keseharian masyarakat Aceh.

Kedatangan pasukan Negeri Sakura ke Aceh tahun 1942 bukan hanya menyisakan penderitaan dan kesedihan rakyat Aceh, tetapi juga meninggalkan bukti-bukti sejarah sebagai tanda mereka pernah ada di Aceh. Sekaligus menjadi bukti dari Perang Pasifik yang juga berlangsung di Aceh.

Gua Jepang
Salah satu peninggalan Jepang yang kini membawa ‘berkah’ bagi Aceh adalah Gua Jepang. Sekarang diberi nama “Taman Wisata; Bukit Gua Jepang”, seperti terpampang di puncak bukit. Penamaan gua Jepang tentu memiliki sejarah tersendiri. Gua Jepang terletak di perbukitan, Gampong Blang Panyang, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe.

Menurut literatur sejarah, Gua Jepang dibentuk tahun 1942. Bersamaan dengan 16 gua dan 8 benteng Jepang lainnya yang dibangun di Nusantara pada masa tersebut.

Saat itu, Jepang memaksa rakyat Aceh yang bermukim di seputaran Gampong Blang Panyang untuk membuat gua sebagai markas mereka. Memang, Jepang dikenal sebagai penjajah yang kerap menindas musuh tanpa belas kasihan, dan memaksa lawan bekerja untuk keuntungan mereka.

Jepang punya misi besar di balik proyek gua itu. Termasuk menjadikan gua sebagai tempat penganiayaan tawanan perang. Lokasi ini pula dijadikan benteng pertahanan Jepang dari serangan rakyat Aceh. Pada awal kemerdekaan Indonesia, tempat itu juga berfungsi sebagai lokasi penahanan pengikut Partai Komunis Indonesia (PKI). Sedangkan saat Aceh konflik, Gua Jepang menjadi tempat penahanan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Begitulah nasib Gua Jepang dari masa ke masa. Tak heran jika saat ini lubang-lubang bekas peluru masih terlihat jelas di dinding gua.

Gua Jepang memiliki panjang sekitar 50-60 meter. Dengan luas pintu gua berkisar 2x3 meter. Gua ini mempunyai banyak cabang. Beberapa di antaranya digunakan sebagai tempat penyimpanan logistik oleh tentara Jepang. Terdapat pula ruang pengintaian, dapur, ruang makan, dan kamar tidur.

Lokasi dibangunnya Gua Jepang memang sangat strategis, dengan ketinggian 100 meter di atas permukaan laut. Dari puncak bukit itu, para serdadu Jepang sangat mudah memantau pergerakan musuh, sebab akan terlihat jelas walau jarak pandangnya jauh.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved