Jumat, 8 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Gua Jepang, Jejak Perang Pasifik di Aceh

JEPANG, negeri yang banyak mengekspor barang teknologi ke Indonesia, termasuk keAceh

Tayang:
Editor: bakri
IST
AMIRUDDIN (Abu Teuming), Direktur lembaga Keluarga Sakinah Mawaddah dan Rahmah (K-Samara) dan Sekretaris Jenderal Warung Penulis (WP), melaporkan dari Lhokseumawe 

OLEH AMIRUDDIN (Abu Teuming), Direktur lembaga Keluarga Sakinah Mawaddah dan Rahmah (K-Samara) dan Sekretaris Jenderal Warung Penulis (WP), melaporkan dari Lhokseumawe

JEPANG, negeri yang banyak mengekspor barang teknologi ke Indonesia, termasuk keAceh. Di Indonesia, Jepang bukan hanya populer lewat produknya, tetapi sejak puluhan tahun silam bangsa dan tentara Jepang telah dikenal oleh masyarakat pribumi, Indonesia. Terutama saat bom atom mengguncang Hiroshima dan Nagasaki.

Bagi rakyat Aceh, Jepang seakan punya kenangan spesial. Ditandai dengan benda-benda yang mengikat dengan kata Jepang. Seperti silop jepang (sandal) dan boh labu jepang (labu). Walaupun hanya humor, tapi nama Jepang melekat erat dalam keseharian masyarakat Aceh.

Kedatangan pasukan Negeri Sakura ke Aceh tahun 1942 bukan hanya menyisakan penderitaan dan kesedihan rakyat Aceh, tetapi juga meninggalkan bukti-bukti sejarah sebagai tanda mereka pernah ada di Aceh. Sekaligus menjadi bukti dari Perang Pasifik yang juga berlangsung di Aceh.

Gua Jepang
Salah satu peninggalan Jepang yang kini membawa ‘berkah’ bagi Aceh adalah Gua Jepang. Sekarang diberi nama “Taman Wisata; Bukit Gua Jepang”, seperti terpampang di puncak bukit. Penamaan gua Jepang tentu memiliki sejarah tersendiri. Gua Jepang terletak di perbukitan, Gampong Blang Panyang, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe.

Menurut literatur sejarah, Gua Jepang dibentuk tahun 1942. Bersamaan dengan 16 gua dan 8 benteng Jepang lainnya yang dibangun di Nusantara pada masa tersebut.

Saat itu, Jepang memaksa rakyat Aceh yang bermukim di seputaran Gampong Blang Panyang untuk membuat gua sebagai markas mereka. Memang, Jepang dikenal sebagai penjajah yang kerap menindas musuh tanpa belas kasihan, dan memaksa lawan bekerja untuk keuntungan mereka.

Jepang punya misi besar di balik proyek gua itu. Termasuk menjadikan gua sebagai tempat penganiayaan tawanan perang. Lokasi ini pula dijadikan benteng pertahanan Jepang dari serangan rakyat Aceh. Pada awal kemerdekaan Indonesia, tempat itu juga berfungsi sebagai lokasi penahanan pengikut Partai Komunis Indonesia (PKI). Sedangkan saat Aceh konflik, Gua Jepang menjadi tempat penahanan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Begitulah nasib Gua Jepang dari masa ke masa. Tak heran jika saat ini lubang-lubang bekas peluru masih terlihat jelas di dinding gua.

Gua Jepang memiliki panjang sekitar 50-60 meter. Dengan luas pintu gua berkisar 2x3 meter. Gua ini mempunyai banyak cabang. Beberapa di antaranya digunakan sebagai tempat penyimpanan logistik oleh tentara Jepang. Terdapat pula ruang pengintaian, dapur, ruang makan, dan kamar tidur.

Lokasi dibangunnya Gua Jepang memang sangat strategis, dengan ketinggian 100 meter di atas permukaan laut. Dari puncak bukit itu, para serdadu Jepang sangat mudah memantau pergerakan musuh, sebab akan terlihat jelas walau jarak pandangnya jauh.

Kini para serdadu Jepang telah tiada. Mereka telah angkat kaki pulang ke negerinya pada Agustus 1945. Jadi, rakyat Indonesia, khususnya Aceh bisa memanfaatkan tempat itu sebagai lokasi liburan. Sangat cocok bagi warga setempat untuk melepaskan rasa penat dan lelah bekerja di pusat kota. Siapa pun akan takjub melihat keindahan alam dari puncak Bukit Gua Jepang.

Taman Ngieng Jioh
Berdekatan dengan Taman Gua Jepang, terdapat objek wisata yang diberi nama “Taman Ngieng Jioh”. Artinya, taman tempat melihat pemandangan dari jarak jauh. Sebenarnya Taman Ngieng Jioh satu paket dengan Bukit Gua Jepang. Hanya saja saat berada di lokasi Taman Ngieng Jioh akan merasakan sensasi berbeda dengan Gua Jepang, yang hanya merasakan gelap dan pengap ketika menerawang dan menjajaki dalam gua peninggalan itu.

Di sana, di Taman Ngieng Jioh, pengunjung dapat menyaksikan luas dan birunya air laut Selat Malaka. Konon sejak masa Kerajaan Aceh Darussalam, di Selat Malaka kerap terjadi bajak laut, yang membuat khawatir penumpang kapal yang melintas kawasan tersebut. Begitulah cerita yang dituangkan oleh Azhari Aiyub dalam novelnya berjudul “Kurang-Kurang Berjanggut”. Bagi Anda yang belum membacanya, tak ada salah untuk memperkaya wawasan lewat karya anak Aceh itu.

Bagi yang membawa anak-anak, tidak perlu khawatir. Jurang dan tebing bukit telah disulap tak ubahnya halaman rumah Anda, dan dipagari. Toh objek wisata ini sangat ramah lingkungan. Ada teralis besi yang mengelilingi Taman Ngieng Jioh. Selain memberikan rasa aman bagi pengunjung, juga menambah eksotis kawasan itu. Di lereng bukit, berderet bangunan permanen, tempat wisatawan jajan dan istirahat sejenak.

Bagi penikmat alam, destinasi Gua Jepang dan Taman Ngieng Jioh sangat cocok dimasukkan dalam daftar trip and trip. Sebab, di bukit mungil itulah wisatawan dapat menyaksikan perpaduan pesona laut dengan Bukit Barisan yang membentang sepanjang Pulau Sumatra.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved