Jurnalisme Warga
Ziarah ke Makam Pendiri Lhokseumawe
LHOKSEUMAWE, kota yang pada era ‘70-‘90-an tenar se-Nusantara. Ekonomi masyarakat daerah ini stabil
OLEH AMIRUDDIN (Abu Teuming), Direktur lembaga Keluarga Sakinah Mawaddah dan Rahmah (K-Samara), Sektretaris Jenderal Warung Penulis (WP), dan PIP Kominfo RI, melaporkan dari Kota Lhokseumawe
LHOKSEUMAWE, kota yang pada era ‘70-‘90-an tenar se-Nusantara. Ekonomi masyarakat daerah ini stabil. Usaha-usaha makro tumbuh subur. Dagangan pun laris manis. Masyarakat setempat hidup sejahtera. Perputaran uang sangat menjanjikan. Orang asing berdatangan untuk kerja di perusahaan-perusahaan vital nan megah. Tak lain, karena kota ini memiliki perusahaan raksasa, PT Arun dan PT Pupuk Iskandar Muda (PIM).
PT Arun tercatat sebagai pabrik gas terbesar di dunia yang menampung lebih dari 5.000 karyawan. Sejak beroperasi 1978-2014, PT Arun telah mengeksplor 4.468 kargo LNA/gas alam cair ke Jepang dan Korea Selatan. Inilah yang membuat Lhokseumawe digelari "Petrodolar".
Pada malam hari, beberapa cerobong raksasa yang mencakar langit memuntahkan api ke awan. Kesannya, bak pesawat terbakar di udara. Ya, orang menyebutnya api raksasa, penyulingan gas di perut bumi Lhoksemawe dan Aceh Utara.
Nama Lhokseumawe
Ternyata, di kota ini ada sebuah makam yang diyakini sebagai pendiri Lhokseumawe, yaitu Teungku Di Lhokseumawe. Nama aslinya adalah Teungku Ahmad. Ia hidup pada abad 19, saat masih berdiri Kesultanan Aceh. Tidak ada catatan pasti kapan ia meninggal. Makam kuno ini berlokasi di Kampong Banda Masen, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe.
Makam ulama itu terletak persis di tepi Sungai Cunda. Siapa pun, kalau mendengar Cunda pasti ingat pantun pelawak Aceh era ‘2000-an. Ya, Apa Lambak dan kawan yang suka bohonginya, Apa Gense. Lirik pantunnya, "Ie Krueng Cunda ile meurek-rek, tempat meucewek si aneuk dara, ka dua lhee thon Bang Lambak meucewek, meu si kreuk peyek golom meurasa."
Ternyata, Krueng Cunda punya kenangan khusus dengan warga setempat. Sebagai jalur lintas masa lalu, juga sumber mata pencaharian warga. Tetua setempat mengatakan bahwa wilayah Krueng Cunda sempat menjadi pelabuhan masa Samudra Pasai, abad ke-13 dan ke-14.
Kalau merujuk buku Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad (KBA), Acehnologi, di sana tercatat bahwa setiap ada aliran sungai, di tepi sungai, selalu ada permukiman warga. Benar saja, sebab sungai itu kebutuhan di dunia. Bahkan, di akhirat pun sungai masih dibutuhkan. Sering kita dengar penjelasan Islam yang bakal menghadiahkan surga bagi muslim taat yang di dalamnya mengalir sungai-sungair. Tentunya, sungai di dunia, sangat amat jauh beda dengan sungai di akhirat.
Tahun 2014, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Lhokseumawe memugar makam ini dan membersihkan semak-semak yang merusak pemandangan sekitar makam. Sebelum dipugar, tempat ini dulunya adalah makam tua yang hanya ditandai dengan batu gunung tanpa sarakata.
Terlihat pula sebuah pamplet yang menjelaskan biografi mini sang pemilik makam, yaitu "Tgk Di Lhokseumawe diperkirakan hidup dan menjadi syuhada dalam perang kaum muslimin pada abad ke 14 (1348)". Akses menuju lokasi ini juga diberi nama Jalan Teungku Di Lhokseumawe.
Tak jauh berselang, ada tujuh makam yang diyakini sebagai murid Teungku Di Lhokseumawe. Namun, tujuh makam itu tidak masuk dalam proyek pemugaran. Hal ini membuat warga setempat khawatir, sebab akan kehilangan jejak sejarah wilayah itu.
Makam tua dipugar karena diyakini sebagai makam pendiri Lhokseumawe dan cikal bakal nama Lhokseumawe. Versi ini seolah mengatakan nama Lhokseumawe diambil dari nama ulama saat itu, yaitu Teungku Di Lhokseumawe.
Atas dasar itu, banyak warga yang datang berziarah ke makam ini. Setiap event seperti HUT RI atau pada saat Hari Pahlawan, masyarakat dari kaum pelajar (Pramuka) atau TNI datang untuk berziarah dan membersihkan kompleks makam. Wajar saja karena tokoh ini dianggap telah berjasa bagi Lhokseumawe dan ada pula yang menganggapnya sebagai pahlawan.
Terkait makam Teungku Di Lhokseumawe dan nama Kota Lhokseumawe, masih dianggap tumpang tindih oleh segelintir orang. Mereka yang yakin Lhokseumawe diambil dari nama Teungku Di Lhokseumawe memiliki kisah tersendiri. Versi ini menyebutkan, berdekatan dengan muara Krueng Cunda terdapat sebuah teluk atau dalam bahasa Aceh disebut "lhok". Karena terlalu dalam/lhok, airnya berputar, dalam bahasa Aceh disebut "meuawee". Di area air berputar/meuawee ini diperkirakan ada ulama dan muridnya tenggelam. Mereka adalah Teungku Di Lhokseumawe dan tujuh muridnya. Untuk kebenaran kisah ini, perlu penelitian lebih lanjut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/amiruddin-abu-teuming-penyuluh-informasi-publik-pip.jpg)