Rabu, 20 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Ziarah ke Makam Pendiri Lhokseumawe

LHOKSEUMAWE, kota yang pada era ‘70-‘90-an tenar se-Nusantara. Ekonomi masyarakat daerah ini stabil

Tayang:
Editor: bakri
IST
AMIRUDDIN (Abu Teuming), Direktur lembaga Keluarga Sakinah Mawaddah dan Rahmah (K-Samara), Sektretaris Jenderal Warung Penulis (WP), dan PIP Kominfo RI, melaporkan dari Kota Lhokseumawe 

Namun, ada versi yang lumayan ilmiah terkait asal usul Lhokseumawe, seperti penjelasan Maymunsyah. Versi ilmiah ini diperkuat tiga bukti dasar. Pertama, Sultan Iskandar Tsani pernah mengunjungi wilayah Lhokseumawe yang kala itu bernama Bandar Kota Teluk Samawi.

Kedua, juga pernah ditemukan koin emas bertuliskan tahun 1229 H, serta tertera Teluk Samawi. Koin ini diperkirakan dicetak oleh Sultan Alaiddin Jauhar Alam Syah bin Muhammad Syah. Ia pindah dari pusat pemerintahan Aceh Darussalam ke Teluk Samawi, sebab terjadi pergelokan di kesultanan. Sang penguasa Teluk Samawi, Tuanku Karot melindungi dan mendukung Sultan Alaiddin Jauhar Alam Syah. Saat memimpin Teluk Samawi, Sultan Jauhar menerbitkan mata uang yang betuliskan namanya serta tahun terbit. Mata uang ini terbilang langka. Dan kini dikoleksi oleh Dinas Perhubungan, Pariwisata, dan Kebudayaan Aceh Utara.

Ketiga, Tolson, seorang pelaut Inggirs, pernah singgah di Aceh. Tahun 1880 tulisannya terbit. Ia juga menulis, "di antara semua raja-raja negeri yang berada di pesisir utara dan timur Aceh, satu-satunya raja yang mengalir darah Kesultanan Aceh di dalam nadinya Teuku Maharaja Teluk Samawi. Ia secara resmi memegang kekuasaan atas negeri-negeri di sepanjang pesisir timur, serta bertindak sebagai wakil sultan dalam pembayaran pajak mereka."

Versi lain menyebutkan nama kota ini berasal dari seumawe, nama pohon yang sudah langka, kayunya berwarna putih, dan sangat diincar pembeli untuk dijadikan plafon. Cukup dipernis saja, kayu ini langsung mengilap. Dulu, pohon ini banyak terdapat di kawasan lhok, daerah berteluk di wilayah Samudra Pasai. Kini sudah susah mendapatkannya.

Orang yang percaya pada versi ini, karena merujuk pada tradisi penabalan nama daerah di kawasan Samudra Pase yang hampir semua berasal dari nama pohon. Misalnya, bak mane untuk Krueng Mane, bak keureutoe untuk Krueng Keureutoe, bak sukon untuk Lhoksukon, bahkan ada tempat di sini bernama Krueng Kreh (kemiri).

Nah, terlepas dari kebenaran hakiki dari mana nama Lhokseumawe itu berasal dan siapa pendiri kota ini, yang jelas Aceh dan wilayah Kerajaan Samudra Pasai punya banyak jejak sejarah yang belum terungkap ke publik. Perlu kontribusi semua elemen untuk menyelamatkan cagar budaya agar generasi Sultan Iskandar Muda tidak gagap sejarah.

Ayo kunjungi destinasi wisata di sekitar Anda, khususnya bagi penduduk tanah Kerajaan Samudra Pasai. Ingat, karena perjuangkan merekalah negeri ini aman untuk Anda tempati.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved