Bebas Hukuman Mati
Bebas Hukuman Mati di Malaysia, Dua Warga Simpang Mamplam Tiba di Rumah
Dua warga Simpang Mamplam yang dipulangkan Dinsos Aceh ke rumahnya di Desa Ceurucok, Simpang Mamplam, Bireuen disambut haru keluarga mereka,
Penulis: Yusmandin Idris | Editor: Yusmadi
Ainal Mardhiah (70) ibu dari Bustamam salah seorang warga Lueng Baro, Simpang Mamplam, Bireuen mengucapkan terimakasih kepada Gubernur dan jajaran Dinas Sosial Aceh serta pihak lainnya yang telah berusaha memulangkan anaknya dari tahanan di Malaysia.
“Saya bersyukur dapat melihat dan bertemu kembali dengan anak saya yang sudah lama tidak bertemu, ini merupakan anugerah Allah,” ujarnya terbata-bata.
Berita lainnya
Baca: Tiga Rumah Warga Cinta Raja Langsa Rusak Dihantam Puting Beliung
Baca: Cuaca Buruk di Banda Aceh, Helikopter Bom Air Atasi Karhutla Batal Terbang ke Aceh Barat
Baca: Kronologi Oknum Polisi Pukul Pacar yang Tengah Hamil, Gigi Korban Rontok hingga Masuk Rumah Sakit
Bustamam yang duduk dekat dengan ibunya mengangguk dan tidak banyak berbicara.
Begitu juga Tarmizi waga Desa Cureucok, Simpang Mamplam yang duduk disamping ibunya bernama Rukiah tidak banyak bicara dan mengatakan, semua berkat usaha berbagai pihak sehingga mereka bisa
kembali ke rumah.
“Kami baru bebas nanti tahun 2026 mendatang, berkat usaha berbagai pihak kami sudah bebas dan tiba di rumah,” ujarnya.
Keuchik Desa Ceureucok, Suwardi atas nama masyarakat desa dan keluarga mengucapkan terimakasih kepada berbagai pihak atas usaha membebaskan dan memulangkan warganya.
Ingin bertemu Bupati Bireuen
Tarmizi, Bustamam maupun Sulaiman, tiga warga Bireuen yang bebas dari hukuman di Malaysia dan dipulangkan ke rumah mereka Jumat (09/08/2019) sore mengharapkan dapat bertemu dengan Bupati Bireuen.
“Kami ingin bertemu dengan Pak Bupati H Saifannur, tolong sampaikan salam kami dan kami bertiga ingin bertemu pak bupati,” ujar Bustamam dengan bahasa Aceh dan masih kaku.
Berita lainnya
Baca: Gadis Pekerja Salon Tewas Setelah Kejang-kejang, Diduga Overdosis Pil Ekstasi
Baca: Kegiatan Beasiswa Terbesar di Indonesia Diselenggarakan di 21 Provinsi, Termasuk Aceh
Baca: Pria Ini Terjepit Batu dalam Gua Selama 3 Hari, 200 Orang Tim Penyelamat Diturunkan, Begini Nasibnya
Mendengar bahasa masih kaku, keuchik setempat mendampingi keduanya dan menjelaskan maksud mereka yaitu ingin bertemu pak bupati.
Menjawab Serambi, tujuan keinginan bertemu, Bustamam mengaku membutuhkan bimbingan dan modal usaha.
“Kami ingin ada kegiatan dan usaha untuk kebutuhan hidup di kampung,” ujarnya.
Usai menyampaikan maksud tersebut, banyak kerabat dan keluarga bersalaman dan berangkulan karena sudah lama tidak bertemu mereka.
Usai prosesi serahterima, baik Tarmizi maupun Bustamam terus bersalaman dan berangkulan dengan keluarga dan masyarakat yang hadir menyaksikan kepulangan mereka. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/tarmizi-bersama-ibunya-di-desa-ceurucok-simpang-mamplam.jpg)