Citizen Reporter
Merasa Asing di Singapura Tapi Lazim di Malaysia
Di tengah tingginya harga tiket pesawat dan bagasi berbayar, kami mencoba jalur laut untuk mencapai Ibukota Negara RI.
Jika tak berlebihan, Aceh dapat belajar dari negara buangan kecil ini yang jumlah penduduknya hanya 1,8 juta saat pertama kali merdeka.
Negara yang awalnya tak dipedulikan oleh dunia sama sekali, kini telah bertransformasi menjadi negara maju, disegani dan sejahtera warganya, jauh meninggalkan negara-negara tetangganya, termasuk Indonesia.
Lebih 50 tahun lalu, sebelum menjadi negara merdeka dengan kedaulatan penuh, Singapura adalah bagian dari negara serikat Malaysia.
Dengan latar belakang sentimen, kerusuhan, dan konflik politik rasialisme antara Tionghoa yang merupakan suku mayoritas dan melayu yang merupakan minoritas di Singapura.
Perdana menteri ketika itu Tuanku Abdul Rahman memutuskan untuk mengeluarkan Singapura dari Malaysia.
Namun dalam keadaan yang sedemikian rupa, di bawah sentuhan tangan dingin Lee Kuan Yew, berkat perjuangan, kejujuran, kecerdasan, kedisiplinan, ketegasan, amanah, dan kegigihan yang luar biasa, kini negara ‘’buangan’’ itu mampu menjadi Smartcountry yang mampu menyejahterakan rakyatnya.
Bagi pelancong, di Singapura kita diajarkan untuk menjadi cerdas, gesit, dan efesiensi waktu.
Maka tak jarang kita melihat pemandangan pejalan kaki yang cukup ramai di jalan raya.
Apalagi ketika menjajal alat transportasi massa yang modern seperti, Mass Rappid Transit (MRT), Light Rappid Transit (LRT), dan bus-bus wisata yang siap lalu lalang.
Wisatawan dituntut untuk memahami rute transportasi yang akan digunakan.
Sayangnya, di Singapura, warga Melayu sebagai tuan tanah telah menjadi warga kelas dua.
Nyaris tak terdengar lagi orang-orang bercakap Melayu. Yang terdengar hanya orang-orang berbicara English dan Mandarin.
Singkat cerita, Singapura adalah benar-benar Tanah Melayu yang hilang.
Kami pun tidak ingin berlama-lama di negara ini.
Saya sendiri merasa asing dengan negara yang dapat terlihat dengan mata telanjang dari Batam ini.
Hanya sekitar 5 jam, kami memutuskan naik MRT, melanjutkan perjalanan ke Johor Bahru, selanjutnya ke Kuala Lumpur, negara Malaysia yang langsung terasa akrab dengan kehidupan kita.(*)
Baca: Tak Sebatas Kedai Runcit, Koperasi Melayu Aceh di Malaysia Boleh Dirikan Pasaraya dan Restoran
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/munawar-ar-knpi-aceh-besar-1.jpg)