Citizen Reporter
Merasa Asing di Singapura Tapi Lazim di Malaysia
Di tengah tingginya harga tiket pesawat dan bagasi berbayar, kami mencoba jalur laut untuk mencapai Ibukota Negara RI.
Munawar Ar, M.Si, Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe), Pelancong Asal Kutabaro Aceh Besar Melaporkan dari Woodland, Singapura.
Saya harus memenjarakan lawan, tanpa pengadilan, baik komunis, sauvinis, atau ekstremis agama. Jika saya tidak melakukannya, negara ini akan hancur.
Lee Kuan Yew (Perdana Menteri Singapura 1959-1990).
SELASA 2 Juli 2019 saya bersama tiga rekan, Asrizal H Asnawi (Anggota DPR Aceh), Muhammad Daud (Staf Ahli Anggota DPD RI) dan Zainal Arifin, melakukan perjalanan tak biasa ke Jakarta.
Di tengah tingginya harga tiket pesawat dan bagasi berbayar, kami mencoba jalur laut untuk mencapai Ibukota Negara RI.
Selain tiketnya yang lebih murah, kami juga ingin menjajal sensasi naik Kapal Kelud yang menurut beberapa referensi disebut seminya kapal pesiar.
Sebelum melakukan perjalanan, kami memang membuka-buka website, blog hingga Youtube, untuk mencari referensi seluk beluk KM Kelud.
Mulai dari harga tiket hingga fasilitas di dalamnya.
Klop, kami berempat sepakat menjajal fasilitas milik negara ini.
Rute KM Kelud adalah, berangkat dari Pelabuhan Belawan Medan, singgah sekejab di perairan Tanjung Balai Karimun, Pelabuhan Batam, dan selanjutnya Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta.
Berbagai agenda perjalanan pun telah kami atur.
Rencananya, hanya satu malam di Jakarta, seterusnya terbang ke Kuala Lumpur Malaysia, untuk bertemu komunitas Aceh di sana.
Setelah semuanya siap, perjalanan kami mulai dari Banda Aceh ke Medan dengan jalan darat.
Lalu dari Medan kami diantar Bang Fadhil (abang sepupu Asrizal H Asnawi) ke Pelabuhan Belawan.
Di Pelabuhan Belawan, kami membeli tiket Kelas 2A KM Kelud seharga Rp 761.000 per orang.
Sekedar diketahui, fasilitas KM Kelud ini dibagi dalam beberapa kelas.
Yang paling tinggi adalah kelas 1A dengan kapasitas dua tempat tidur dan kamar mandi di dalam.
Harga tiketnya sekitar Rp 1,3 juta per orang. Harga terbaru bisa dicek di website pelni.co.id.
Lalu kelas 1B dengan kapasitas empat tempat tidur. Harga tiket kelas ini sekira Rp 1,1 juta per orang.
Di lantai paling atas juga tersedia mushalla untuk melaksanakan ibadah shalat.
Juga ada restoran, kamar mandi massa yang bercampur antara klas.
Juga tersedia Bioskop mini tiket masuk seharga Rp 15000.
Baca: Lowongan Kerja di PT Pelni Untuk Tamatan SMA-SMK Sederajat, Cek Syarat Lengkapnya
Baca: Penumpang KM Kelud Tak Miliki Tiket Diturunkan Secara Paksa
Turun di Batam
Perjalanan dengan KM Kelud sebenarnya memang mengasyikkan.
Sayangnya, saat kami berlayar, kapal KM Kelud sedang padat-padatnya.
Harga tiket yang mahal, serta suasana yang baru sebulan setelah Hari Raya Idul Fitri, membuat penumpang kapal membeludak hingga melebihi kapasitas.
Para penumpang sampai tidur di lorong-lorong dan tangga kapal.
Kamar mandi pun banyak yang sumbat hingga menebarkan bau ke mana-mana.
Kondisi ini kemudian membuat rombongan kami menghentikan perjalanan sampai Kota Batam saja.
Persoalan utama adalah sulitnya mencari WC yang bersih untuk membuang hajat.
Baca: KM Kelud Diduga NaikKan Penumpang Melebihi Kpasitas
Baca: Tabrakan Maut di Peusangan, Korban Meninggal dan Kritis Dibawa ke RSUD Bireuen
Dua malam di Batam, perjalanan kami lanjutkan ke Malaysia, seperti rencana awal.
Bedanya, kami tidak lagi pilih pergi ke Jakarta, melainkan langsung ke Kuala Lumpur.
Pilihan perjalannya adalah, via Johor Bahru atau via Singapura.
Setelah berdiskusi, akhirnya kami pilih via Singapura dengan menggunakan kapal cepat BatamFast melalui pelabuhan Harbour Bay.
Bagi Anda yang ingin menyeberang dari Batam ke Singapura, untuk penyeberangan Ferry dari pelabuhan Batam Center ke Harbourfront Singapore hampir tersedia setiap satu jam sekali.
Penyeberangan dimulai pada pukul 06.00 pagi hingga 21.00 malam.
Agar tidak terlambat dengan jadwal Ferry yang Anda inginkan, maka sebaiknya datang lebih awal.
Karena sebelum naik kapal Ferry setiap turis harus mengurus dokumen imigrasi yang memakan waktu sekitar setengah jam, jika antrean tidak panjang.
Jadi, sebaiknya Anda harus tiba di pelabungan minimal 1 jam sebelum waktu pemberangkatan.
Karena waktu check-in ditutup 20 menit sebelum keberangkatan.
Waktu perjalanan Ferry dari Batam Center menuju ke Harbourfront Singapura memakan waktu sekitar 1 jam.
Perlu untuk diingat, waktu Singapura lebih cepat 1 jam dari Kota Batam.
Sehingga apabila Anda berangkat pukul 09.00 pagi, maka akan tiba di negeri Singa pada pukul 11.00 siang.
Sebaliknya, jika Anda berangkat dari Singapura pukul 11.00, maka akan sampai di Batam pada pukul 11.00 juga.
Baca: Diancam Bunuh, Dua Warga Melapor ke Polres Aceh Tamiang
Baca: Gudang Alat Judi Terbongkar, Plh Bupati Agara dan Satpol PP Temukan 101 Mesin Jackpot Usai Subuh
Dari Buangan jadi Negara Maju
Jika tak berlebihan, Aceh dapat belajar dari negara buangan kecil ini yang jumlah penduduknya hanya 1,8 juta saat pertama kali merdeka.
Negara yang awalnya tak dipedulikan oleh dunia sama sekali, kini telah bertransformasi menjadi negara maju, disegani dan sejahtera warganya, jauh meninggalkan negara-negara tetangganya, termasuk Indonesia.
Lebih 50 tahun lalu, sebelum menjadi negara merdeka dengan kedaulatan penuh, Singapura adalah bagian dari negara serikat Malaysia.
Dengan latar belakang sentimen, kerusuhan, dan konflik politik rasialisme antara Tionghoa yang merupakan suku mayoritas dan melayu yang merupakan minoritas di Singapura.
Perdana menteri ketika itu Tuanku Abdul Rahman memutuskan untuk mengeluarkan Singapura dari Malaysia.
Namun dalam keadaan yang sedemikian rupa, di bawah sentuhan tangan dingin Lee Kuan Yew, berkat perjuangan, kejujuran, kecerdasan, kedisiplinan, ketegasan, amanah, dan kegigihan yang luar biasa, kini negara ‘’buangan’’ itu mampu menjadi Smartcountry yang mampu menyejahterakan rakyatnya.
Bagi pelancong, di Singapura kita diajarkan untuk menjadi cerdas, gesit, dan efesiensi waktu.
Maka tak jarang kita melihat pemandangan pejalan kaki yang cukup ramai di jalan raya.
Apalagi ketika menjajal alat transportasi massa yang modern seperti, Mass Rappid Transit (MRT), Light Rappid Transit (LRT), dan bus-bus wisata yang siap lalu lalang.
Wisatawan dituntut untuk memahami rute transportasi yang akan digunakan.
Sayangnya, di Singapura, warga Melayu sebagai tuan tanah telah menjadi warga kelas dua.
Nyaris tak terdengar lagi orang-orang bercakap Melayu. Yang terdengar hanya orang-orang berbicara English dan Mandarin.
Singkat cerita, Singapura adalah benar-benar Tanah Melayu yang hilang.
Kami pun tidak ingin berlama-lama di negara ini.
Saya sendiri merasa asing dengan negara yang dapat terlihat dengan mata telanjang dari Batam ini.
Hanya sekitar 5 jam, kami memutuskan naik MRT, melanjutkan perjalanan ke Johor Bahru, selanjutnya ke Kuala Lumpur, negara Malaysia yang langsung terasa akrab dengan kehidupan kita.(*)
Baca: Tak Sebatas Kedai Runcit, Koperasi Melayu Aceh di Malaysia Boleh Dirikan Pasaraya dan Restoran
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/munawar-ar-knpi-aceh-besar-1.jpg)