Opini

Cara Islam Memaknai Kemerdekaan

Pada saat itu kita langsung terbayang serta mengenang heroism (kepahlawanan) yang dibangunnya manakala ia berjuang melawan

Cara Islam Memaknai Kemerdekaan
IST
Dr. Murni, S.Pd,I. M.Pd, Wakil Ketua II STAI Tgk. Chik Pante Kulu, anggota ISAD Aceh

Oleh Dr. Murni, S.Pd,I. M.Pd, Wakil Ketua II STAI Tgk. Chik Pante Kulu, anggota ISAD Aceh

 Pada 17 Agustus kemarin, rakyat Indonesia memperingati hari ulang tahun kemerdekaan ke-74 RI. Pada saat itu kita langsung terbayang serta mengenang heroism (kepahlawanan) yang dibangunnya manakala ia berjuang melawan kesewenang-wenangan dan kezaliman. Tiap bangsa terjajah pasti mempunyai pahlawan. Nama mereka begitu melekat di hati rakyat, utamanya di daerah asal sang pahlawan.

Mengingat pahlawan berarti mengingat keberanian melawan despotism (sifat kezaliman) kaum kolonial Belanda dan Jepang. Mengingat pahlawan sama dan sebangun mengenang orang kecil melawan orang besar, orang `lemah' melawan orang kuat. Cerita kepahlawanan akhirnya mempertautkan kondisi sekarang dengan masa lalu. Betapa jarak puluhan bahkan ratusan tahun, terasa jadi dekat.

Dalam memori kita terbayang heroisme tiada putus yang mengendap dalam sanubari seorang Teuku Umar, Cut Nyak Dhien, Gut Mutia, Sisingamangaraja XII, Imam Bonjol, Pattimura, Pangeran Diponegoro, dan lain-lain.

Kini kita sudah dan sedang menikmati kemerdekaan yang telah diperjuangkan para endatu kita dengan susah payah. Terkadang harus menangis bahkan harus menumpahkan darah lalu gugur sebagai syuhada demi anak cucu mereka kelak agar jangan sampai merasakan penderitaan seperti mereka.

Sedikit ulasan di atas merupakan sudut pandang sejarah yang sering dibaca, didengar, dan dilihat. Untuk kali ini penulis mengajak para pembaca melihat dari sudut pandang Islam. Lalu, bagaimana sebenarnya Islam dalam memaknai kemerdekaan?

Pertama, kemerdekaan agama. Kemerdekaan agama merupakan hak azasi manusia yang sangat penting. Seorang manusia harus merasa bebas dan merdeka untuk memilih agamanya menurut kehendaknya sendiri tanpa adanya paksaan atau ancaman dari orang lain. Tiap negara menjamin kebebasan beragama termasuk Negara Republik Indonesia.

Bagaimana menurut Islam? Mari kita perhatikan firman Allah Swt:"Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 256).

Islam memerintahkan agar umatnya melaksanakan dakwah yaitu mengajak orang lain masuk Islam, namun dakwah tersebut sama sekali tidak boleh dilakukan dengan kekerasan, kekuasaan atau paksaan. Allah Swt telah menggariskan, dakwah harus disampaikan dengan 3 cara yaitu: (1). bijaksana, (2). pelajaran dan penerangan, dan (3). tukar pendapat atau diskusi.

Sebagaimana firman-Nya: "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk" (QS. An-Nahl: 125). Kewajiban seorang muslim hanya menyampaikan saja, adapun mau turut atau tidaknya tergantung kepada kesadaran yang menerimanya, juga tergantung ada dan tidaknya hidayah dari Allah Swt.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved