Salam

Kayu Bajakah Semoga Mendatangkan Berkah

Berita utama (headline) halaman 1 Harian Serambi Indonesia edisi Minggu kemarin mewartakan tentang kayu bajakah yang bikin heboh masyarakat Aceh Singk

Kayu Bajakah Semoga  Mendatangkan Berkah
SERAMBI/DEDE ROSADI
Kepala Tim Patroli Bagian Kesatuan Pengelolaan Hutan (BKPH) Singkil Wilayah Kuala Baru, Admi mencoba meminum tetesan air kayu bajakah di hutan rawa Singki, kawasan Kuala Baru, Aceh Singkil, Selasa (20/8/2019). 

Berita utama (headline) halaman 1 Harian Serambi Indonesia edisi Minggu kemarin mewartakan tentang kayu bajakah yang bikin heboh masyarakat Aceh Singkil. Itu karena, kayu yang konon mengandung khasiat sebagai obat kanker dan tumor tersebut ternyata juga ditemukan di kawasan Rawa Singkil.

Sebelumnya diklaim bahwa kayu yang kini naik daun ini hanya terdapat di hutan Kalimantan. Dengan ditemukannya kayu bajakah ini di wilayah Singkil maka wajar masyarakat setempat heboh dan menganggap kayu ini sebagai berkah dan sumber rezeki baru.

Sebagaimana dilaporkan, bajakah mendadak jadi buah bibir setelah tiga siswa SMA Palangkaraya, yakni Yazid, Anggina Rafitri, dan Aysa Aurealya Maharani mempresentasikan penelitian mereka dalam lomba karya ilmiah di World Invention Creativity Olympic (WICO) di Seoul, Korea Selatan, pada 28 Juli lalu.

Dalam olimpiade itu ketiga peneliti muda itu bisa membuktikan bahwa kayu bajakah berkhasiat untuk mengobati penyakit ganas, kanker dan tumor. Lalu tim juri memberi nilai tertinggi kepada ketiga remaja Kalimantan ini dan hasil penelitian mereka diganjar dengan medali emas.

Segera setelah itu kayu bajakah pun menjadi viral di Indonesia, lebih-lebih setelah Kompas TV dan Harian Kompas mem-blow-up berita ini sebagai kabar gembira bagi para penderita kanker.

Harapan kesembuhan bagi penderita kanker pun langsung membayang. Hutan Kalimantan menjadi harapan baru.

Di luar dugaan, ternyata seorang herbalis asal Singkil, Admi, berani mengklaim bahwa di Rawa Singkil pun terdapat bajakah. Admi sangat mengenal jenis-jenis pohon, karena ia menjabat Kepala Tim Patroli Bagian Kesatuan Pengelolaan Hutan (BKPH) Singkil Wilayah Kuala Baru.

Menurutnya, kayu bajakah ini tergolong banyak di Rawa Singkil. Tumbuh merambat ke atas dan menjadikan tumbuhan lain sebagai sandarannya. Bentuk batangnya bulat, mulai dari sebesar tangan anak-anak hingga seukuran tangan orang dewasa.

Para penjelajah hutan atau pencari rotan, sige-sige (bahan baku pembuat obat antinyamuk bakar), kayu alin, atau pun cendana di hutan-hutan Singkil sering menebas pohon bajakah ini dan meminum langsung air atau getah yang keluar dari ujungnya yang dipotong. Sejauh ini belum ada orang Singkil yang keracunan atau meninggal setelah menikmati air atau getah pohon bajakah tersebut.

Tapi secara medis itu tidak menjamin untuk ke depannya. Sebab, sejumlah ahli tumbuhan menyebutkan bahwa bajakah itu banyak jenisnya. Di antaranya malah ada yang beracun. Nah, oleh karenanya, warga Singkil atau siapa pun di wilayah Aceh yang mendapatkan pohon sejenis atau semirip bajakah, jangan sembarang minum air atau getahnya. Bisa saja, bajakah yang kita anggap aman dikonsumsi, ternyata mengandung racun dan bisa fatal akibatnya.

Oleh karenanya, sangat masuk akan dan kita dukung sepenuhnya keinginan Bupati Aceh Singkil, Dulmursid yang menginstruksikan dinas kesehatan setempat untuk segera melakukan penelitian terhadap jenis pohon bajakah dan apakah jenis bajakah yang terdapat di Rawa Singkil itu benar-benar berkhasiat mengobati kanker atau tumor, seperti yang terdapat di hutan Kalimantan?

Kita harapkan, Dinkes Aceh Singkil menggandeng Balai Besar Pemeriksaan Obat dan Makanan (BBPOM) Banda Aceh untuk penelitian ini. Juga para pakar herbal dari Unsyiah atau IPB. Kalau memang bajakah yang tumbuh di Rawa Singkil itu mengandung khasiat melawan penyakit ganas, kanker atau tumor, berarti bajakah ini adalah berkah dan sumber pendapatan baru bagi masyarakat Singkil. Semoga bajakah bisa diproduksi sebagai herbal andalan dari Singkil, seperti halnya dari Kalimantan kelak. Bersiap-siaplah menyambut obat kanker paling tokcer dari Rawa Singkil dan segera patenkan. Semoga inilah kontribusi Aceh kelak untuk dunia medis, untuk menyembuhkan para penderita kanker atau tumor yang jumlahnya semakin banyak saja dari tahun ke tahun.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved