Kamis, 9 April 2026

Opini

Dayah; Pelopor Moderasi Islam

Tidak bisa terbantahkan lagi bahwa Aceh menjadi tempat awal perkembangan Islam di nusantara berdasarkan data para ahli sejarah

Editor: bakri
IST
Munawir Umar, Mahasiswa Program Magister PIKTI UIN Syarif Hidayatullah 

Oleh Munawir Umar, Mahasiswa Program Magister PIKTI UIN Syarif Hidayatullah

 Tidak bisa terbantahkan lagi bahwa Aceh menjadi tempat awal perkembangan Islam di nusantara berdasarkan data para ahli sejarah. Terlepas dari pro dan kontra mengenai model dan khas Islam yang datang di kalangan para ahli sejarah. Namun, Azyumardi Azra pakar sejarah Indonesia dalam Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara menyatakan dalam kseimpulannya, bahwa Islam yang datang ke nusantara adalah berdasarkan pada teori Arab berbasis dakwah melalui pintu Aceh, bukan karena perdagangan.

Kalau pun datang melalui jalur perdagangan, maka itu hanya motif dan gaya (style) dakwah yang dibawakan oleh para ulama dan mubaligh agar Islam bisa diterima melalui jalur tersebut dengan cara luwes dan menjadi perantara agar tersampaikannya Islam baik secara esensial maupun secara substansi.

Sebagai wilayah yang menerapkan syariat Islam, maka paling tidak `dayah' menjadi salah satu ikon dalam konteks keacehan sebagai lembaga pendidikan yang menjadi pusat transformasi keilmuwan kepada para generai Aceh, baik muda maupun tua yang ditinggalkan para pembawa risalah Rasulullah terdahulu. Data sejarah menyebutkan, bahwa dayah menjadi pusat ilmu pengetahuan dalam berbagai disiplin ilmu baik bidang agama maupun pengetahuan umum.

Seiring perkembangannya, dayah mengalami pasang surut dengan agresi militer Belanda pada 1873 dan Jepang yang menjajah Aceh. Akibatnya, terjadilah dikotomi antara ilmu pengetahuan agama dan ilmu pengetahuan umum kerena larangan dan ancaman para penjajah belanda. Padahal pada dasarnya dayah adalah lembaga yang mempelajari seluruh aspek ilmu pengetahuan.

Dalam konteks kajian keagamaan, Aceh semenjak dahulu telah menganut Mazhab Abu Hasan Al-Asy'ari dalam bidang aqidah/teologi, Mazhab Syafi'i dalam bidang fiqih dan praktek ibadah serta dalam bermuamalah dan akhlak menggunakan metodologi yang ditawarkan oleh Imam al-Ghazali dan Djunaid al-Baghdadi. Jika ditelesuri lebih lanjut, maka tiga model ini menjadi salah satu perpaduan dan landasan cara berpikir moderat dan washathiyyah dalam beragama dan ber-Islam.

Tidak berat ke kanan (ghuluw) berlebihan dalam beragama dan tidak pula berat ke kiri yang terlulu mempermudah segala persoalan dalam agama (tasahhul). Dan `dayah' telah menempuh jalan dan metode ini dalam berdakwah baik dalam kurikulum pendidikan dan mimbar-mimbar khutbah yang membawa kedamaian dan kebaikan, bukan perpecahan.

Ciri moderasi

Perlu digarisbawahi, paling tidak ada enam aspek dan ciri khas  sikap moderasi Islam dan washatiyyah dalam beragama. Pertama, memahami realitas (fiqh al-Waqi') dalam setiap realitas kehidupan. Kedua, memahami fiqih prioritas (fiqh al-Awlawiyyat), dalam arti memahami tingkatan yang telah ditetapan dalam Islam baik berupa perintah dan larangan. Ketiga, memahami sunnatullah dalam penciptaan dengan melihat graduasi atau penahapan (tadarruj) dalam segala ketentuan hukum alam dan agama.

Keempat, memberikan kemudahan kepada orang lain dalam beragama, di mana hal tersebut telah menjadi metode yang dibawakan oleh al-Quran melalui praktek yang dikerjakan oleh Rasulullah Saw. Kelima, memahami teks-teks keagamaan secara komperhensi, tidak parsial (sepotong-potong) yang akhirnya terjatuh dalam lubang kekeliruan dalam praktek agama. Keenam, terbuka dengan dunia luar serta mengedepankan dialog dan bersikap toleran.

Semua sikap tersebut, pada dasarnya adalah bentuk aplikatif dari seruan Alquran untuk menjadi umat terbaik tanpa mempertimbangkan egois pribadi dan bersikap moderat sebagai umat pertengahan (ummatan wasathan). "Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) `umat pertengahan' agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu...". (QS. Al-Baqarah: 143).

Hadirnya Islam seharusnya menjadi solusi terbaik di tengah gemuruh dan kegaduhan yang tanpa pandang bulu serta mampu bersikap netral dalam aspek apapun dan malah menambah masalah dengan hadirnya egoisme pribadi yang justru merusak citra Islam. Juga sebaliknya, terlalu mempermudah dan menganggap enteng perkara agama pun akan mencerai dan mengotori teks Alquran dan sunnah.

Representasi

Jika ditelisik secara lebih lanjut, maka `dayah' di Aceh menjadi salah satu representatif Islam washathiyyah dan memiliki ciri khas yang telah disebutkan di atas. Dayah menjadi benteng Islam yang sangat moderat dalam menyikapi berbagai isu dan apa saja yang terjadi di kalangan masyarakat Aceh. Sebagaimana halnya Jami'ah Al-Azhar di Mesir menjadi benteng moderasi Islam dalam ruang lingkup dunia secara lebih luas dalam menjaga keseimbangan dan kegagalan pemahaman baik dari sisi kanan maupun kiri.

Hal tersebut bisa dilihat dari model dakwah kedua institusi ini, tidak mudah mengkafirkan sampai ada bukti yang nyata, tidak mudah membid'ahkan dan tidak pula terlalu sempit melihat Islam. Praktek tersebut sebagimana telah disebutkan Rasul Saw secara umum dalam redaksi haditsnya menyebutkan, bahwa "sebaik-baik urusan adalah yang pertengahan". (HR. Baihaqi)

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved