Jurnalisme Warga

Ini Kampus yang Mahasiswanya Merangkap Santri

Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STIS NU) Aceh satu-satunya kampus di Aceh Besar yang berbasis dayah

Ini Kampus yang Mahasiswanya Merangkap Santri
IST
TGK. ARIA SANDRA, S.HI., M.Ag., Ketua Program Studi Hukum Keluarga STIS NU Aceh dan Pengajar di Dayah Mahyal Ulum Al-Aziziyah, melaporkan dari Aceh Besar

OLEH TGK. ARIA SANDRA, S.HI., M.Ag., Ketua Program Studi Hukum Keluarga STIS NU Aceh dan Pengajar di Dayah Mahyal Ulum Al-Aziziyah, melaporkan dari Aceh Besar            

Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STIS NU) Aceh satu-satunya kampus di Aceh Besar yang berbasis dayah dengan menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman yang berakidah Ahlusunnah wal jamaah. Tidak berlebihan jika kampus ini dijuluki “Kampus Jantong Hatee Ulama”, karena selain kampusnya berbasis dayah, pendiri dan pimpinannya pun seorang ulama.

Kampus ini berada di bawah Yayasan Lembaga Pendidikan Islam Mahyal Ulum al-Aziziyah dengan pimpinan yayasannya,Tgk H Faisal Ali yang akrab disapa dengan Lem Faisal.

Gedung dan aktivitas perkuliahan STIS NU Aceh berada di Kompleks Dayah Mahyal Ulum al-Aziziyah. Sekolah tinggi ini berlokasi di Jalan Banda Aceh-Medan Km 16,8, Desa Dilib Bukti, Kecamatan Suka Makmur, Kabupaten Aceh Besar. Dari arah Banda Aceh menuju Medan kita dapat lihat gedung berlantai dua bewarna orange, berada di sebelah kiri dengan jarak dari jalan nasional lebih kurang 500 meter yang dihiasi pemandangan sawah warga.

Kampus STIS NU Aceh ini berada di wilayah Sibreh, Aceh Besar yang juga berdekatan dengan pasar Samahani, tempat para pemudik wilayah timur berhenti sejenak untuk mencicipi nikmatnya roti selai, kuliner khas Samahani.

Latar belakang

Arus dan gelombang modernisasi yang demikian dahsyatnya telah menimbulkan gejolak dan tantangan bagi umat Islam. Bila kita tak bijak menanggapinya bukan mustahil akan terseret arus dan gelombang tersebut serta tenggelam di dalamnya. Maka, umat Islam butuh sebuah perahu yang dinamakan syariat yang kokoh untuk mengarungi derasnya arus dan gelombang modernisasi.

Di Aceh, pengaruh modernisasi mulai merasuki tatanan kehidupan masyarakat, baik langsung maupun tidak langsung, pengaruh budaya westernisasi dan sekularisasi setidaknya telah memengaruhi kehidupan masyarakat kita. Secara perlahan pengaruh ini dapat merusak sendi-sendi Islam. Budaya westernisasi dan sekularisasi ini tidak dapat lagi dielakkan oleh umat Islam, terutama kaum mudanya, sehingga forum-forum pengajian/kajian Islam mulai kurang diminati.

Generasi muda lebih suka kepada kegiatan atau kajian yang jauh dari nilai-nilai Islam. Fenomena yang memprihatikan umat Islam ini perlu dijawab dengan kegiatan dan pendidikan Islam yang mampu memberikan ilmu pengetahuan berbasis moral, agama, dan sesuai perkembangan zaman.

Bertolak dari persoalan tersebut, maka lahirlah Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama Aceh dalam rangka mengarahkan generasi muda Islam sebagai kader-kader yang berakidah dan taat beribadah sekaligus dengan pemahaman yang benar sehingga membuat generasi tersebut mampu mengembangkan amanah dakwah hingga ke jenjang internasional.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved