Salam

Kuala Bubon Menakutkan Pada Musim Cuaca Buruk

Seperti tahun-tahun sebelumnya, hampir setiap bulan Agustus dan September cuaca ekstrem melanda Aceh menimbulkan gelombang laut

Kuala Bubon Menakutkan Pada Musim Cuaca Buruk
SERAMBI/RAHMAT SAPUTRA
Penumpang KMP Teluk Sinabang saat turun di Pelabuhan Labuhan Haji, Aceh Selatan, (27/8/2019). Para penumpang itu seharusnya turun di Pelabuhan Kuala Bubon, Sama Tiga, Aceh Barat. Namun karena cuaca buruk membuat kapal tidak bisa lama bersandar. 

Seperti tahun-tahun sebelumnya, hampir setiap bulan Agustus dan September cuaca ekstrem melanda Aceh menimbulkan gelombang laut yang ganas akibat angin kencang. Menyusul angin kencang dan gelombang tinggi, KMP Teluk Sinabang sulit bahkan gagal bersandar di Pelabuhan Kuala Bubon, Aceh Barat, dan beralih ke Pelabuhan Labuhan Haji, Aceh Selatan.

Yang paling dramatis terjadi Selasa (27/8) petang, kapal yang membawa ratusan penumpang dan barang dari Pelabuhan Sinabang, Pulau Simeulue, itu sempat sandar di Pelabuhan Kuala Bobon, dan sebagian penumpang sudah ada yang turun dari kapal dalam kondisi cuaca yang tak terlalu tenang.

Tiba-tiba, hantaman ombak membuat posisi kapal oleng, berayun, dan secara keras menghantam dermaga. Beberapa tali kapal yang diikat ke bagian dermaga juga terputus. Kepanikan merebak. Para penumpang yang sebelumnya sudah bersiap melangkah ke luar, terpaksa menghentikan langkahnya.

Ombak yang semakin mengganas membuat kapal kembali berayun jauh dan saat kembali ke posisi seharusnya, beberapa penumpang mulai berlarian ke luar. Tetapi di saat itu pula, kapal kembali bergoyang dan menghantam dermaga sehingga membuat beberapa penumpang yang tengah berlari berjatuhan.

Di tengah situasi itu, kapten kapal memutuskan menjauh dari dermaga, meninggalkan Pelabuhan Kuala Bubon dan bergerak menuju ke Pelabuhan Labuhan Haji, yang berjarak tempuh sekitar 9 jam pelayaran. Kapal membawa sekitar 50 penumpang yang tersisa, 50 kendaraan, dan barang-barang di dalamnya.

Peristiwa nyaris serupa juga terjadi pada Agustus 2017 dan September 2018. KMP Teluk Sinabang beberapa kali gagal sandar di Pelabuhan Kuala Bubon karena ombak besar. Jika bersandar lambung kapal akan berbenturan dengan dermaga yang dikhawatirkan berakibat fatal bagi kapal dan penumpang.

"Hempasan ombak di pelabuhan penyeberangan kita cukup beresiko di saat cuaca seperti ini, solusinya memang harus segera dibangun breakwater agar tidak terus terjadi kerusakan kapal dan dermaga pelabuhan, sudah kami usulkan," kata seorang anak buah kapal.

Makanya, sejak 2017, Pemkab Aceh Barat sudah menyarankan pembangunan breakwater atau pemecah ombak agar kapal bisa aman bersandar di pelabuhan itu. Akan tetapi, hingga kini pembangunan breakwater masih pada tingkat wacana. Padahal, kondisi di lapangan sangat menakutkan.

Pelabuhan Kuala Bubon ini beroperasi sejak 2016. Saat uji sandar oleh KMP Teluk Sinabang pada 5 Agustus 2016 cuaca secara kebetulan sedang tenang dan kapal berhasil sandar dalam keadaan aman. Lantas, pihak Direktorat Jendral (Ditjen) Perhubungan Darat bersama dengan PT ASDP (Angkutan Sungai Danau Dan Penyeberangan) menyatakan pelabuhan penyeberangan rute Kuala Bubon - Sinabang itu layak beroperasi.

Namun, dalam perjalanannya ternyata hambatan besar terjadi. Yakni pada musim cuaca buruk kapal sulit bersandar di Pelabuhan Kuala Bubon. Berbagai insiden terjadi terhadap kapal dan [penumpang. Ada barang dan penumpang yang tercebur ke laut karena kapal goyang hebat saat dihempas ombak. Lalu, pernah juga lambung kapal bermasalah, tali kapal juga sempat putus.

Karena kondisi demikian, terkadang kapal mengurungkan jadwal berangkat atau malah beralih ke Pelabuhan Labuhan Haji untuk bersandar demi keamanan penumpang dan kapal.

Kita setuju atas kebijakan yang mengabaikan keberadaan Pelabuhan Kuala Bubon pada musim cuaca ekstrim, Kebijakan mengalihkan rute dari dan ke Pelabuhan Kuala Bubon ke Pelabuhan Labuhan Haji adalah demi keselamatan penumpang, keamanan kapal, serta menjaga kontinyuitas angkutan barang dan penumpang dari Pulau Simeulue ke daratan atau sebaliknya.

Kemudian, agar tujuan pembangunan Pelabuhan Kuala Bubon untuk penyingkat jarak dan pengembangan sektor ekonomi, maka pembuatan pemecah ombak adalah hal yang mutlak harus diadakan dalam waktu dekat. Jika tidak, maka secara ekonomis dan sosial, kebedaraan Pelabuhan Kuala Bubon itu menjadi tidak maksimal.

Kepada Kementerian Perhubungan dan Pemerintah Aceh kita dorong supaya memprioritaskan pembangunan breakwater di Pelabuhan Kuala Bubon.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved