Berita Pidie Jaya

Puluhan Boat Kerap Tersangkut Saat Air Surut, HNSI Pijay Minta Dilakukan Normalisasi

"HNSI mendesak pemerintah atau instansi terkait untuk melakukan upaya pengerukan muara sungai atau kuala yang dalam setiap tahun semakin dangkal,"

Puluhan Boat Kerap Tersangkut Saat Air Surut, HNSI Pijay Minta Dilakukan Normalisasi
SERAMBINEWS.COM/ IDRIS ISMAIL
Salah satu boat tersangkut di Kuala Krueng Meureudu akibat dangkalnya Kuala Tempat Pendaratan Ikan (TPI), karena bencana tsunami serta sendimen lumpur, Kamis (29/8/2019). 

"HNSI mendesak pemerintah atau instansi terkait untuk melakukan upaya pengerukan muara sungai atau kuala yang dalam setiap tahun semakin dangkal, sehingga menyebabkan boat nelayan terjebak atau tersangkut saat di tambat (parkir) di TPI," bebernya.

Laporan Idris Ismail I Pidie Jaya 

SERAMBINEWS.COM,MEUREUDU -  Puluhan boat milik para nelayan di Pidie Jaya kerap tersangkut saat air surut, akibat dangkalnya muara sungai atau Kuala Tempat Pendaratan Ikan (TPI).

Terutama di lima Kuala Tempat Pendaratan Ikan (TPI) di Pidie Jaya (Pijay). 

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indoensia (HNSI) Pijay,  Ir HM Bentara kepada Serambinews.com,  Kamis (29/8/2019) mengatakan,  selama 14 tahun lebih lima Kuala TPI yang digunakan oleh ribuan nelayan di delapan kecamatan di Pijay dangkal, akibat penumpukan sendimen lumpur sepanjang tahun serta hembusan pasir laut saat bencana besar gempa dan tsunami 2004 lalu. 

"HNSI mendesak pemerintah atau instansi terkait untuk melakukan upaya pengerukan muara sungai atau  kuala yang dalam setiap tahun  semakin dangkal, sehingga menyebabkan boat nelayan terjebak atau tersangkut saat di tambat (parkir) di TPI," bebernya. 

Baca: 700 Mahasiswa Umuslim, Peusangan, Bireuen Ikut Moska, Maksudnya pun Dipertegas

Kondisi demikian, menyebabkan ribuan nelayan di kabupaten mendesak pemerintah setempa,t untuk dapat melakukan normalisasi kembali berupa pengerukan. 

Menurut HM Bentara,  ada  lima kuala TPI, masing-masing di Meureudu, Panteraja, Ulim, Kuala Kiran, dan Beuracan.

Di antara lima Kuala tersebut, yang paling besar adalah Kuala Meureudu dan Kuala Panteraja. 

Baca: Berbahaya jika Dikonsumsi, Bawang Merah Selundupan Akan Dimusnahkan di Mako Brimob Aramiah

Ironisnya, selama ini jika setiap jika hendak membongkar hasil tangkapan mesti menunggu air pasang.

Dikatakan, karena hal itu, maka boat tidak dapat merapat ke TPI sebab kandas, seiring rendahnya permukaan air dengan badan boat.

 "Jika pun dilakukan pembongkaran, terpaksa dilakukan di bibir pantai dengan radius beberapa mil dengan menggunakan boat kecil dengan lansir. Jadi memerlukan biaya tambahan bagi setiap para toke boat,"ujarnya.  (*)

 Baca: Peringatan 1 Muharram 1441 H/2019 M Kabupaten Aceh Selatan Dipusatkan di Kecamatan Sawang

Penulis: Idris Ismail
Editor: Nurul Hayati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved