Jurnalisme Warga

Wisata Mitigasi Guha Ek Luntie

Misteri sejarah terkait gua tentunya tak hanya didapati di Provinsi Aceh saja. Di halaman awal buku sejarah ilmiah manusia berjudul Sapiens

Wisata Mitigasi Guha Ek Luntie
IST
AYU ‘ULYA, Pengurus Bidang SDM Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Aceh dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Banda Aceh, melaporkan dari Aceh Besar

OLEH AYU ‘ULYA, Pengurus Bidang SDM Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Aceh dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Banda Aceh, melaporkan dari Aceh Besar

Misteri sejarah terkait gua tentunya tak hanya didapati di Provinsi Aceh saja. Di halaman awal buku sejarah ilmiah manusia berjudul Sapiens karangan Yuval Noah Harari, terdapat sebuah kutipan keterangan sebuah foto sepasang cap tangan di dinding gua purba yang menggelitik imajinasi. Isinya, “Sebuah hasil cetakan manusia yang dibuat sekitar 30.000 tahun lalu di dinding Gua Chauvet-Pont-d’Arc di wilayah selatan Prancis. Seseorang berusaha berkata, ’Saya ada di sini!’.”

Saking menariknya sejarah terkait gua purba, tempat tersebut tak dapat dipungkiri kerap menjadi latar cerita dari beragam novel misteri bestseller dunia. Sebut saja serial novel fantasi ilmiah karangan Dan Brown, seperti The Da Vinci Code  dan Inferno. Deskripsi gua purba yang kerap ditunjukkan melalui berbagai simbol-simbol grafiti, cap tangan atau pun telapak kaki, fosil, dan bahkan benda-benda unik peninggalan leluhur, menjadikan imajinasi kita bersetuju bahwa tampilan gua purba mungkin saja sudah begitu adanya di mana-mana.

Namun menariknya, pada hari Senin (9/9) pascaikut seminar Paleotsunami Studies yang digelar Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), sedikit banyak imajinasi saya akan bentuk dan fungsi gua purba berubah. Dalam diskusi itu Patrick Daly dan Kerry Sieh, keduanya peneliti asal Earth Observatory of Singapore (EOS), memaparkan rekam jejak sejarah tsunami berulang yang terjadi di Aceh sejak ribuan tahun silam. Klaim tersebut dibuktikan melalui penyajian data ragam sendimen tanah tsunami purba yang terperangkap di dalam Guha Ek Luntie.

Di akhir acara seminar, Dr Nazli Ismail, peneliti Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) yang memoderatori acara tersebut mengajak para peserta seminar untuk berkunjung ke gua tsunami purba yang terletak di Kecamatan Lhoong, Aceh Besar itu. Hal ini dimaksudkan agar para peserta seminar berkesemparan mempelajari lebih detail penjelasan yang telah dipaparkan oleh para peneliti. Apalagi mengingat proses penggalian dan penelitian akan berakhir segera, serta seluruh galian sendimen purba akan ditutup rapat kembali, pada akhir minggu kedua bulan September ini.

Guha Ek Luntie merupakan gua yang terletak di Desa Meunasah Lhok, Kecamatan Lhoong, Kabupaten Aceh Besar. Sederhananya, gua tsunami purba (paleotsunami) Aceh ini terletak lebih kurang sejauh 6 km sebelum mencapai puncak Geurute, Kabupaten Aceh Jaya, jika bertolak dari Banda Aceh. Gua batu ini dikenal dengan nama Ek Luntie karena banyaknya kotoran (ek) yang dihasilkan oleh kelelawar (luntie) yang mendiami gua tersebut. Menurut penduduk setempat, masyarakat kerap mendatangi gua untuk mengumpulkan ek luntie yang digunakan sebagai pupuk (guano) bagi tanaman timun dan kelapa.

Melalui bantuan dan panduan wisata Alam Link, pada hari Rabu (11/9), sebanyak 15 peserta dari ragam profesi datang untuk melihat dan mempelajari secara langsung bukti-bukti peninggalan rekam jejak paleotsunami Aceh di Guha Ek Luntie tersebut. Menempuh perjalanan sekitar dua jam dari Darussalam, melalui rute jalan aspal berkelok bak ular, tentu membuat sebagian peserta mendapatkan sensasi mabuk darat. Setiba di tempat, dengan pemandangan sisi bebatuan gunung yang indah, ditambah angin sejuk, riuh debur ombak, dan jaringan gawai yang turut padam,  seluruh letih serasa hilang. Pesona mulut gua yang ternganga setinggi 10 meter pun seakan siap menyambut para peserta untuk menelususi lorong waktu misteri masa lalu.

Di dalam Guha Ek Luntie saya dan para peserta wisata edukasi mitigasi menyaksikan langsung permukaan tanah yang telah digali di berbagai sisi gua. Sebagian besarnya sudah ditutupi kembali dan ditandai. Dari beberapa lubang yang masih terbuka, saya lihat dengan jelas sedimen-sedimen tanah berlapis mirip lapis legit dengan ragam warna dan ketebalan. Menurut peneliti, lapisan tersebut yang menjadi referensi usia dan kekuatan tsunami purba yang pernah terjadi di Aceh sejak 7.400 tahun silam. Selain itu, menurut penduduk setempat, proses penggalian tanah Guha Ek Luntie untuk penelitian tahun 2019 merupakan kali yang kedua, setelah sebelumnya pernah dilakukan juga oleh tim yang sama, dengan galian tanah yang lebih dangkal di tahun 2012 silam.

Di sela-sela kerja, Patrick, salah seorang peneliti meluangkan waktu untuk menerima ragam pertanyaan dari para peserta wisata edukasi mitigasi. Dia sampaikan bahwa penting bagi masyarakat luas untuk mengetahui informasi terkait Paleotsunami Guha Ek Luntie.  Menurutnya, pemahaman ini bukan hanya sekadar menjadi wisata sejarah bencana masa lalu, tapi juga sebagai referensi edukasi mitigasi jika tsunami kelak terjadi kembali. Dari hasil penelitiannya dapat ditarik kesimpulan bahwa kejadian tsunami di Aceh sejatinya berulang, walau dalam jeda waktu yang tidak dapat diprediksi, dari puluhan tahun hingga ratusan. Sehingga pemahaman kesiapsiagaan bencana menjadi penting bagi rakyat Aceh. 

Selain itu, terkait wacana akan dibuatnya wahana Taman Bumi (Geopark) Guha Ek Luntie oleh pemerintah setempat, Patrick tampak setuju dan memberikan beberapa acuan esensial jika niatan tersebut dilaksanakan. Menurutnya, untuk mencegah kerusakan sedimen tanah tsunami purba di dalam gua, maka wahana tersebut sebaiknya dibuatkan jalan/jembatan gantung. Sehingga, pengunjung yang mendatangi gua dapat melihat langsung lapisan sedimen tanah purba tanpa harus berpijak di atas permukaan tanah yang berkemungkinan menjadi rapuh dan luruh.

Di akhir penjelasannya, dia turut menambahkan bahwa peletakan ragam infografis dan foto-foto yang menyediakan detail informasi terkait paleotsunami dan pengetahuan mitigasi kepada para pengunjung menjadi hal penting lainnya yang juga harus dipertimbangkan dengan matang.

Dengan demikian, keberadaan rekam jejak paleotsunami di Guha Ek Luntie membuktikan bahwa bencana tsunami Aceh di akhir 2004 bukanlah kali pertama terjadi. Oleh karenanya, perjalanan wisata sejarah bencana yang dilakukan dengan bijak tentu tidak hanya terpaku pada euforia mengenang masa lampau saja, tapi juga harus dibarengi dengan pengetahuan akan mitigasi kebencanaan yang mungkin terulang kembali di masa mendatang. Inilah entlighting tourism bagi masyarakat sekarang dan generasi mendatang.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved