Jurnalisme Warga
Danau Anak Laut, Objek Wisata yang Terlupakan
DI Aceh Singkil banyak nian objek wisata. Ada objek wisata sejarah, berupa makam-makam tua para aulia, objek wisata Rawa Singkil
Hewan amfibi itu, sebelum disajikan, berasal dari tangkapan para nelayan di sungai Danau Anak Laut. Mereka menangkapnya menggunakan alat khusus. Warga setempat menamakannya seruwo, yaitu bundaran sebesar pelek mobil yang dua sisinya dipasang jaring lentur.
Di dalam seruwo diletakkan umpan. Lalu petang hari menjelang senja ditaruh di perairan sungai yang dangkal. Biasanya di tubir-tubir sungai yang kiri kananya ditumbuhi hutan mangrove.
Pagi harinya, seruwo diangkat. Kalau lagi untung, di dalam seruwo tadi masuk satu, dua, atau tiga ekor kepiting. Ada yang berukuran besar, ada juga yang kecil.
Kemudian, kepiting tadi dikeluarkan dari seruwo, lalu dengan cekatan nelayan mengikatnya dan menjual kepada pengumpul dengan harga bervariasi. Kalau kepitingnya ukuran satu ekor sekilo harganya bisa di atas Rp 60.000 hingga Rp 100.000. Sedangkan ukuran sekilo terdiri atas empat atau enam ekor harganya Rp 30.000-Rp 60.000.
Oleh pengumpul dijual lagi ke rumah makan dengan harga sedikit lebih mahal. Walaupun mahal, karena kepiting telah menjadi menu favorit, rumah-rumah makan tadi tetap membelinya.
Rumah makan pun memasak dan menyajikannya kepada para pengunjung atau pramunikmat yang ingin makan. Walaupun seporsi harganya tergolong mahal, tetap saja banyak penggemarnya.
Begitu daging kepiting disantap aroma dan rasanya menggiurkan selera dan menggoyangkan lidah. Selesai makan, terasa lengkaplah agenda berkunjung ke Aceh Singkil.
***
Menariknya, apabila datang ke Danau Anak Laut hari Ahad atau hari libur, banyak ditemukan “nelayan kagetan”. Mereka memancing, melepas tagih sembari berwisata menghilangkan penat dan lelah. Kebanyakkan di antara mereka kalangan elite di Aceh Singkil, seperti karyawan dari perusahan-perusahan perkebunan, para birokrat, dan golongan “berdasi” lainnya.
Ketika saya berkunjung ke Danau Anak Laut, di kiri kanan danau tersebut banyak berjejer insan “pembuang suntuk” yang sedang melepas kail atau joran sembari menunggu strike (gutikan) ikan.
Menurut David Suyudi, seorang pemancing, di Danau Anak Laut Gosong Telaga ada beberapa jenis ikan yang dapat dipancing, di antaranya ikan nawi (kakap merah), belah periuk, kerapu, kuwe, merah mata, ikan marang (cabe-cabe), dan lain-lain.
Manakala tak seekor pun ikan dapat dipancing, untuk ikan yang dibawa pulang ke rumah bisa dibeli pada nelayan yang menebar jaring di seputar danau. Ikan-ikan itu segar dan murah.
Objek wisata Danau Anak Laut Gosong Telaga belakangan ini menjadi pilihan tempat memancing. Di samping alamnya yang asri, alami, dan eksotis juga di danau ini terdapat terowongan atau lorong-lorong hutan mangrove.
Muhammad Hadi Akbar, seorang “pemancing dadakan” memberikan alasan mengapa ia tertarik memancing di Danau Anak laut. Di sini, kata Hadi Akbar, di samping panorama alamnya yang rancak, dirimbuni vegetasi hutan mangrove juga suasananya nyaman, jauh dari kebisingan.
“Kalau memancing siang hari, tidak terlalu direpotkan oleh panas terik matahari. Kita cukup duduk di tebing danau yang telah dipayungi pohon cemara dan hutan mangrove sembari melepaskan kail dan menunggu ‘gutikan’ ikan di dawai pancing,” ujar Hadi Akbar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/sadri-ondang-jaya-spd-guru-dan-inisiator-pembentukan-forum-aceh-menulis.jpg)