Berita Budaya
Penyair Subhan Mengaku "GAM Asli" Kini Menulis Puisi di Padang Panjang
Namanya Muhammad Subhan. Penyair dan pegiat literasi di Padang Panjang Sumatera Barat.....
Penulis: Fikar W Eda | Editor: Jalimin
Penyair Subhan Mengaku "GAM Asli" Kini Menulis Puisi di Padang Panjang
Laporan Fikar W Eda | Jakarta
SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Namanya Muhammad Subhan. Penyair dan pegiat literasi di Padang Panjang Sumatera Barat.
"Saya ini asli GAM," katanya tanpa tedeng aling-aling dihadapan peserta seminar sastra di Bengkulu. Subhan salah seorang pembicara dalam seminar yang digelar dalam rangka Festival Sastra Bengkulu (FSB) 13-15 September 2019.Ia membahas tentang generasi sastra terkini.
"Saya asli GAM," ulangnya lagi, ketika merespon pertanyaan Mustafa Ismail, penyair kelahiran Trienggadeng, Pidie Jaya.
Peserta seminar menunggu kelanjutan dari pernyataan itu. "Bapak saya dari Sigli, Aceh. Ibu saya Minang. Saya adalah generasi Aceh-Minang," katanya sambil tertawa. GAM yang dia maksud adalah singkatan dari Generasi Aceh - Minang tadi.
Muhammad Subhan, salah seorang esais yang terpilih dalam seminar tersebut. Ia menyoroti perjalanan "generasi sastra konvensial ke era milenial." Pandangan tajam.
"Saya korban kemiskinan," kenang Subhan prihal jalan hidupnya, sehingga ia memilih pulang ke kampung ibunya di Minang - Padang Panjang.
Subhan anak tertua. Lahir di Medan, 1980, besar di Aceh Utara, tepatnya di Krueng Geukueh. Di Aceh Utara pula ia menyelesaikan pendidikan dasar dan sekolah menengah, SMP Negeri 1 Dewantara dan SMU Negeri 2 Lhokseumawe.
Gelar Sarjana (Sarjana Sosial Islam/SSosI) ia raih di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Imam Bonjol Padangpanjang, Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI).
Remaja Putus Sekolah di Bireuen Bisa Dapat Ketrampilan Gratis, Begini Syaratnya
Lokasi Wisata tak Terawat, Tumpukan Sampah Hiasi Waduk Pusong
25 Anggota DPRK Lhokseumawe Ikut Orientasi Selama 42 Jam, Ini Tujuannya
Pada tahun 2000, ia meninggalkan Aceh, memboyong ibu dan adiknya ke Padang Panjang, tak berapa lama setelah ayahandanya berpulang ke Rahmatullah. Ia sempat menamatkan SMA di Aceh.
"Ayah saya meninggal dunia karena sakit. Keadaan Aceh sangat rawan. Keadaan ekonomi sangat memprihatinkan," katanya. Ia lalu mencaritahu kampung ibunya, hanya dengan informasi seadanya.
"Saya nekad saja darah ke Padang Panjang," katanya. Usaha dan kerja kerasnya berhasil menemukan kampung sang ibu. Ia lalu memutuskan memboyong keluarganya ke sana. Sebagai anak tertua ia harus bertanggungjawab terhadap keluarga. Untuk mengasapi dapur, Subhan mencoba mencari kerja. Ia melamar ke perusahaan surat kabar yang terbit di Sumatera Barat. Alhamdulillah diterima.
Peringatan Harhubnas di Aceh, Plt Gubernur Inspektur Upacara
"Sejak itu kami pindah ke Padang Panjang, saya lalu mengembangkan diri dalam dunia kewartawanan," ujarnya.
Ia pernah juga menjadi menajer program Rumah Puisi Taufiq Ismail di Air Angek Tapi belakangan, Subhan lebih memilih bekerja sendiri di dunia literasi. Ia ingin punya perpustakaan seperti Rumah Puisi. Dunia kewartawanan juga dia tinggalkan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/penyair-muhammad-subhan.jpg)