Opini

UU KPK, Demokrasi, dan Kekuasaan  

Dalam beberapa minggu terakhir ini publik disuguhkan dengan pemberitaan yang cukup menarik perhatian, yaitu tentang rencana perubahan

UU KPK, Demokrasi, dan Kekuasaan   
IST
Hesphynosa Risfa, S.H., M.H, Advokat dan Praktisi Hukum

Oleh Hesphynosa Risfa, S.H., M.H, Advokat dan Praktisi Hukum

Dalam beberapa minggu terakhir ini publik disuguhkan dengan pemberitaan yang cukup menarik perhatian, yaitu tentang rencana perubahan kedua atas UU No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Diskursus tersebut masih terus hangat diperbincangkan sampai saat ini, ada pihak yang setuju dan ada pula yang menolaknya.

Revisi UU KPK ini merupakan inisiatif DPR meskipun tidak tertuang dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas). Maka dari itu banyak pihak yang menolak rencana perubahannya. Yang menjadi pertanyaan mengapa rencana revisi UU KPK yang tidak ditetapkan dalam Prolegnas tetap saja dilakukan pembahasan oleh DPR.

Padahal masa jabatan anggota DPR kali ini hanya tinggal menunggu hitungan hari. Sehingga timbul anggapan di masyarakat bahwa pembahasan revisi UU ini sangatlah dipaksakan. Alangkah indahnya proses pembahasan nantinya diselesaikan oleh anggota DPR 2019-2024 saja dalam kondisi dan pemikiran yang benar-benar jernih.

Berpijak pada isu ini penulis tidak dalam posisi setuju atau tidak setuju dengan revisi UU KPK. Karena dalam perspektif konstitusi membentuk ataupun mengubah sebuah UU merupakan kewenangan penuh DPR yang diamanahkan oleh rakyat melalui fungsi legislasi. Hanya saja kondisi saat ini rasanya kurang tepat untuk mengubahnya, apalagi UU KPK sangat menarik perhatian serius dari seluruh komponen bangsa dan masyarakat luas.

Pembentukan UU

Merancang suatu UU haruslah tunduk pada UU No. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan. Membaca ketentuan tersebut terlihat ada beberapa hal yang tidak dipenuhi oleh DPR. Misalnya apa urgensinya revisi UU KPK dilakukan sekarang? Padahal hal UU tersebut tidak tertuang dalam Prolegnas. Tapi malah tiba-tiba UU KPK yang direvisi, padahal hal itu tidak ada urgensinya saat ini.

Seharusnya dalam membahas sebuah UU yang sangat strategis bagi kehidupan bangsa haruslah dipikirkan dengan cara yang benar-benar matang agar semua pihak dapat menerima hasil dari keputusan tersebut. Yang sangat mengherankan DPR terkesan tidak mau menerima masukan dari masyarakat yang meminta revisi ini ditunda sementara.

Ditambah suatu dagelan lagi yaitu para pendemo yang menyetujui perubahan UU KPK, akan tetapi ketika ditanyakan oleh media mereka sama sekali tidak mengetahui substansi dari RUU tersebut dan mengaku hanya ikut-ikutan dengan tujuan mendapat bayaran.

Kembali ke UU No. 12 Tahun 2011, memang pembentuk UU diberikan kewenangan untuk membahas sebuah RUU di luar Prolegnas, akan tetapi haruslah memenuhi persyaratan yang benar-benar terukur. Hal ini tertuang dalam Pasal 23 ayat (2), yang berbunyi dalam keadaan tertentu DPR atau Presiden dapat mengajukan RUU di luar Prolegnas mencakup: a) untuk mengatasi keadaan luar biasa, keadaan konflik, atau bencana alam; dan b) keadaan tertentu lainnya yang memastikan adanya urgensi nasional atas suatu RUU.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved