Salam

Mari Kita Jaga Serius Warisan Budaya Aceh

WALI KOTA Banda Aceh, Aminullah Usman MM mengajak seluruh komponen masyarakat untuk menjaga warisan budaya

Mari Kita Jaga Serius Warisan Budaya Aceh
FOTO HUMAS PEMKO BANDA ACEH
Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman, memberikan arahan kepada peserta Muzakarah Adat 2019 Kota Banda Aceh, Kamis (26/9/2019), di Aula Lantai IV Dedung Mawardy Nurdin. 

WALI KOTA Banda Aceh, Aminullah Usman MM mengajak seluruh komponen masyarakat untuk menjaga warisan budaya dan adat Aceh, khususnya budaya dan adat yang berkembang di Banda Aceh.

Hal itu disampaikan Aminullah saat membuka Muzakarah Adat 2019 di aula lantai IV Gedung Mawardy Nurdin, Kamis (26/9) dan dipublikasi di Harian Serambi Indonesia, Jumat kemarin. Menurut Wali Kota Banda Aceh, hukum adat Aceh tidak terlepas dari nilai-nilai keislaman yang sudah ada sejak dulu.

"Untuk menjaga hukum adat dan budaya Aceh yang sangat identik dengan nilai keislaman tersebut harus dimulai dari dalam keluarga," imbuh Aminullah. Ia menambahkan bahwa hukum adat yang lahir dan tumbuh dari masyarakat adalah untuk menjaga dan melindungi kelestarian alam serta melindungi kepentingan banyak orang.

Nah, apa yang diutarakan Wali Kota Banda Aceh itu sangat penting kita cermati dan indahkan  ebagai masyarakat yang berbudaya dan menjunjung tinggi adat istiadat. Terlebih karena masyarakat kita meyakini bahwa adat ngon hukom lagee zat ngon sifuet (adat dan hukum syariat bagaikan zat dengan sifatnya). Harus kita akui bahwa pengaruh budaya Barat banyak yang memengaruhi bahkan menggerus tatanan budaya dan adat istiadat lokal. Pergaulan bebas, LGBT, serbuan narkoba, dan gaya hidup hedonis belakangan ini semakin gencar merasuki kehidupan kita.

Untuk mengantisipasinya diperlukan benteng iman yang kuat, di samping ketegaran dan ketahanan budaya.Karena sejak awal kita klaim dan yakini bahwa adat  Aceh identik dengan nilai-nilai keislaman, maka sebetulnya masyarakat Aceh telah memiliki modal sosial yang andal dan meyakinkan untuk mengantisipasi dan menghempang serbuan budaya asing yang destruktif.

Untuk itu, pranata adat kita harus kuat dan terusmenerus dipertangguh terutama untuk menghadapi era distrupsi informasi. Era keterbukaan dan keberhamburan informasi harus senantiasa diwaspadai karena menjadi momen krusial bagi bersilewarannya hoaks. Kita tahu, hoaks mampu merusak relasi antarmanusia. Hoaks juga dapat menghancurkan harmoni dan  ohesi sosial. Jika tidak dilawan maka hoaks juga akan meruntuhkan sendi-sendi adat dan budaya Aceh.

Oleh karenanya, muzakarah adat yang dilaksanakandi Banda Aceh maupun di kabupaten/kota lainnya di provinsi istimewa ini hendaknya dapat menentukan rencana strategis untuk menjawab berbagai isu aktual yang terjadi saat ini di Aceh. Bagaimana pun kita tidak ikhlas jika adat dan budaya Aceh kandas serta kollaps saat berhadapan dengan budaya asing yang destruktif dan terkadang sekuler. Mari kita perkuat dan terus jaga basis budaya kita agar tetap tangguh dan senantiasa bersesuaian dengan nilainilaiIslam yang menjadi salah satu wujud keistimewaan Aceh. Kalau bukan kita yang jaga, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved