Sabtu, 2 Mei 2026

Berita Aceh Utara

Warga Tanami Bibit Kelapa di Jalan Menghubungkan Aceh Utara ke Blang Mangat Lhokseumawe

Jalan yang strategis ini menghubungkan kecamatan tersebut dengan Kabupaten Aceh Utara dengan Kecamatan Blang Mangat Kota Lhokseumawe.

Tayang:
Penulis: Jafaruddin | Editor: Mursal Ismail
For serambinews.com
Warga menanam bibit kelapa di jalan kawasan Desa Alue Awe, Kecamatan Geureudong Pase, Aceh Utara, Jumat (4/10/2019). Foto kiriman Adly Jailani.     

Jalan yang strategis ini menghubungkan kecamatan tersebut dengan Kabupaten Aceh Utara dengan Kecamatan Blang Mangat Kota Lhokseumawe.

Warga Tanami Bibit Kelapa di Jalan Menghubungkan Aceh Utara ke Blang Mangat Lhokseumawe 

Laporan Jafaruddin I Aceh Utara

SERAMBINEWS.COM, LHOKSUKON – Warga Kecamatan Geureudong Pase, Aceh Utara menanam bibit kelapa di ruas Jalan Mbang-Punteut, Jumat (4/10/2019).

Jalan yang strategis ini menghubungkan kecamatan tersebut dengan Kabupaten Aceh Utara dengan Kecamatan Blang Mangat Kota Lhokseumawe. 

Bibit kelapa itu ditanam di kawasan Desa Alue Awe kecamatan setempat.

Hal ini dilakukan warga sebagai bentuk protes warga terhadap Pemkab Aceh Utara karena jalan tersebut sudah rusak, tapi belum diperbaiki.

Masyarakat mengaku sudah jenuh menanti realisasi janji pemerintah yang selalu diucapkan setiap musyawarah rencana pembangunan (Musrenbang) menjelang Pemilu.

“Itu aksi spontan masyarakat tanpa ada yang mengkoordinirnya,” ujar Ketua Forum Komunikasi Masyarakat Kecamatan Geureudong Pase (Forkompas), Adly Jailani kepada Serambinews.com, Jumat (4/10/2019).

Baca: Fakta Di Balik Video Viral Cewek Tanpa Busana, Ternyata Ada Praktik Prostitusi Anak di Bawah Umur

Baca: Bandar Sabu Kabur ke Semak-semak, Lolos dari Sergapan

Baca: Kasus Ketapel dan Penikaman Warga Peulimbang Dilimpahkan ke Polres Bireuen

Mudah-mudahan kata Adly, sindiran semacam itu biasa menggugah hati pemerintah, itupun jika mereka masih punya rasa malu dengan janji-janji yang pernah mereka ucapkan di hadapan rakyatnya.

Menurutnya, selama ini masyarakat tidak tahu harus mengadu kemana lagi terhadap persoalan kerusakan jalan tersebut.

Sebab setiap usulan yang diperjuangkan melalui musrenbang selalu raib ditengah jalan.

Sementara, saban hari masyarakat harus menghirup debu saat kemarau dan berkubang dengan lumpur saat musim hujan.

Belum lagi jarak tempuh ke Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Geureudong Pase dengan RSUD Cut Meutia, Aceh Utara yang mencapai 25 Kilometer.

“Ini mengancam masyarakat, karena butuh waktu yang sangat lama untuk sampai ke RS jika sewaktu-waktu pasien mengalami kegawatdaruratan,” ujar Adly.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved