Narkoba di Aceh

BNN Sudah Sita 3,6 Ton Sabu di Aceh, Kebanyakan Dipasok dari Thailand dan Malaysia

Aceh yang dulunya hanya daerah transit narkoba jenis sabu, kini berubah menjadi daerah tujuan, karena pengedar dan konsumennya semakin ramai.

BNN Sudah Sita 3,6 Ton Sabu di Aceh, Kebanyakan Dipasok dari Thailand dan Malaysia
SERAMBINEWS.COM/ SUBUR DANI
Kepala BNNP Aceh, Brigjen Pol Faisal Abdul Naser memberi keterangan kepada awak media di kantornya di Banda Aceh, Selasa (1/10/2019) 

Laporan Yarmen Dinamika l Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Aceh yang dulunya hanya daerah transit narkoba jenis sabu, kini berubah menjadi daerah tujuan, karena pengedar dan konsumennya semakin ramai.

Saban bulan, bahkan setiap minggu, ada saja sabu yang masuk Aceh via jalur laut dari Thailand dan Malaysia.

Sebagian besar penyelundupan sabu ke Aceh berhasil digagalkan dan barang buktinya disita aparat keamanan.

Setelah dijumlahkan sabu yang berhasil disita sejak 2017, terhitung sejak Brigjen Pol Drs Faisal Abdul Naser memimpin Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Aceh hingga kini, totalnya mencapai 3,6 ton atau 3.600 kg.

Hal itu diungkapkan Brigjen Faisal Abdul Naser saat menjadi narasumber tamu dalam talkshow interaktif membahas Salam (Editorial) Harian Serambi Indonesia tentang pemberantasan narkoba di Radio Serambi FM, Senin (7/10/2019) berjudul "Tindakan Tegas Pangdam IM Sangat Kita Dukung".

Editorial tersebut mengapresiasi ketegasan Pangdam Iskandar Muda, Teguh Arief Indratmoko yang memastikan akan memproses empat oknum TNI yang tertangkap mengonsumsi sabu bersama enam orang sipil di sebuah hotel di kawasan Lampineung, Banda Aceh, 2 Oktober 2019 dini hari.

Baca: Kapolres Imbau Siswa Aceh Barat Menjauh dari Narkoba, Ini Dampak Buruknya

Baca: Kepala BNN Banda Aceh : Hukuman Mati Bagi Bandar Narkoba Sesuai Konstitusi dan Tidak Melanggar HAM

Baca: Kisah Warga yang Keluar dari Wamena, Kondisi Mencekam Saat Kerusuhan Hingga Mengungsi ke Kodim

Brigjen Faisal menyatakan, ketegasan atasan di jajaran instansi penegak hukum akan sangat menjamin efektivitas pemberantasan narkoba di lingkungan instansi tersebut.

Sebaliknya, sikap melindungi atau memproteksi aparat yang terlibat narkoba justru akan membuat pemberantasan narkoba sulit berhasil dan jaringannya malah tambah luas.

Faisal juga mengimbau kaum muda Aceh, tak terkecuali para mahasiswi, agar menjauhi dan
jangan pernah bersahabat dengan pemakai, apalagi pengedar narkoba.

"Sekali mencoba pakai narkoba, pasti akan ketagihan dan itu akan merusak karier dan masa depan Anda," kata Faisal Abdul Naser.

Ia mengaku sangat prihatin karena di Aceh pemakai sabu makin hari makin bertambah, sedangkan Aceh belum memiliki satu pun pusat rehabilitasi pecandu narkoba.

Dari sekitar 53.000 pengguna narkoba yang terdata di Aceh, yang berhasil dipulihkan kurang dari 400 orang.

Mereka umumnya direhabilitasi di Rumah Sakit Jiwa Banda Aceh dan sebagiannya diobati di Bandung, Jawa Barat.

Pemakai sabu di Aceh, menurut Faisal, mulai dari pelajar, mahasiswi, aparatur sipil negara (ASN), keuchik, polisi, tentara, bahkan ada perwira menengah (letnan kolonel) seperti yang digerebek Denpom pada 2 Oktober dini hari lagi di sebuah hotel bintang empat di Banda Aceh. (*)

Baca: Abu Paloh Gadeng dan Datuk Mansyur Imbau Gadis Aceh Jangan Tergiur Rayuan Bekerja di Malaysia

Baca: Bandar Besar Sabu di Malaysia Rekrut Bandar Menengah di Aceh

Baca: Gadis Aceh Dijual di Malaysia

 

Penulis: Yarmen Dinamika
Editor: Yusmadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved