Berita Aceh Malaysia
Abu Paloh Gadeng dan Datuk Mansyur Imbau Gadis Aceh Jangan Tergiur Rayuan Bekerja di Malaysia
fakta yang ditemukan, banyak kasus gadis Aceh dijual dan dipekerjakan pada tempat-tempat hiburan dan pelacuran di negeri jiran tersebut.
“Mereka dijanjikan dapat pekerjaan di Malaysia. Tapi, apa yang berlaku saat ini, kami lihat banyak hal-hal yang kurang positif, mereka menjadi korban perdagangan manusia,” ungkap Datuk Mansyur.
“Masyarakat Aceh yang ada di sini sangat tersentuh dengan laporan-laporan media di sini, bahwasanya wanita-wanita muda, termasuk asal Aceh, sudah dijadikan sebagai manusia yang sangat hina dalam pandangan agama. Tujuannya bukan seperti yang diharapkan oleh keluarga mereka yaitu mendapat rezeki secara halal, tapi malah sebaliknya,” imbuh pria kelahiran Aceh Utara yang menerima gelar datuk dari Kerajaan Malaysia atas dedikasinya dalam berbagai kegiatan sosial di negara itu.
Datuk Mansyur juga mengatakan, seiring makin banyaknya warga Aceh di Malaysia, pihaknya mulai kesulitan untuk membantu menangani perkara yang terjadi hampir setiap hari. Hal yang sama, lanjut Datuk Mansyur, juga dialami pihak KBRI yang kewalahan menangani perkara yang menimpa warga Indonesia, termasuk asal Aceh.
Baca: Awas, Rayuan Sindikat Perdagangan Manusia
Baca: Berkas Kasus Human Trafficking di Pijay Segera ke Jaksa
Baca: Azhari Cagee: Krisis Lapangan Kerja Sebab Human Trafficking
“Saat ini, jumlah warga Indonesia di Malaysia sekitar 4,8 juta orang. Jadi, saya pikir KBRI juga terlalu sibuk menangani semua persoalan yang menimpa para tenaga kerja asal Indonesia. Makanya, tiap tiga bulan sekali, KBRI memanggil semua kepala suku (ketua komunitas Indonesia di Malaysia) dan menyampaikan pesan untuk ikut menjaga komunitas masing-masing,” ujarnya.
Karenanya, Datuk Mansyur mengharapkan kepada para orang tua di Aceh agar tidak membiarkan anak-anak gadisnya pergi ke Malaysia melalui agen ilegal, apapun alasannya. “Anak-anak gadis yang ingin ke Malaysia harus didampingi oleh keluarga. Kalau mereka datang ke sini bersama keluarga, Insya Allah mereka akan selamat,” ujarnya.
“Tapi kalau agen yang datang menjumpai keluarga di Aceh, maka keluarga harus menolaknya. Karena ujung-ujungnya akan jadi korban dan menjadi malapetaka sebagaimana yang Abu sebutkan tadi,” pungkas Datuk Mansyur yang didampingi dua anggota Komunitas Aceh di Malaysia, Jafar Insya Reubee dan Boihaki.
Kerja banyak pihak
Sementara itu, tokoh Aceh di Malaysia, Bukhari bin Ibrahim, menyampaikan terima kasih kepada Kerajaan dan pihak Kepolisian Malaysia yang sudah banyak membantu menyelesaikan perkara-perkara yang menimpa tenaga kerja Indonesia, termasuk asal Aceh.
“Malaysia adalah negara yang nyaman dan damai. Tapi, jika mau bekerja ke sini, hendaknya kita patuhi aturan dari kedua negara, Indonesia dan Malaysia, sehingga tidak menjadi mangsa perdagangan manusia dan berbagai kejahatan lain,” ungkap Bukhari yang menghubungi Serambi via WhatsApp (WA), Minggu (6/10)/2019).
Ia menyampaikan, kerja-kerja sosial dan kemanusiaan yang dilakukannya selama ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak, terutama komunitas Aceh Peduli di Kelang, Selayang, Pandan Mewah dan berbagai tempat lain di Malaysia.
Termasuk keterlibatan Datuk Mansyur, pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), Anggota DPD RI asal Aceh, H Sudirman (Haji Uma), serta tentunya bantuan dari pihak Kerajaan dan Kepolisian di Malaysia. (nal)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/datuk-mansyur-usman-dan-abu-paloh-gadeng.jpg)