Jurnalisme Warga
Kerajaan Jeumpa, Fakta atau Fiktif?
Pada Agustus lalu, dunia kesejarahan dikejutkan oleh pernyataan budayawan Ridwan Saidi yang mengatakan Kerajaan Sriwijaya
Sejarawan alumnus Universitas Leiden berpendapat, Kerajaan Jeumpa merupakan kerajaan Islam yang menjadi wilayah hegemoni dari Kerajaan Pasai. Pada makam Raja Jeumpa tidak ditemukan aksara berukir kaligrafi sebagaimana yang terdapat pada perkuburan Sultan Aceh pada umumnya. Batu nisan berukir kaligrafi diimpor dari Kota Surat (Gujarat) di India. Harganya sangat mahal sehingga yang mampu membelinya pada masa itu adalah kerajaan-kerajaan kaya dan berkuasa seperti Kerajaan Pasai (dalam Amiruddin Idris & Teuku Cut Mahmud Aziz, 2015).
Atas saran Prof Anthony Reid, saya konsultasi pada arkeolog, Prof Edmund Edwards McKinnon. Ia bersaran dilakukan pengkajian mendalam dengan mencari bukti arkeologis di sekitar makam dan lokasi yang diduga bekas Kerajaan Jeumpa. Diperlukan banyak kajian untuk menguatkan bukti sejarah bahwa Kerajaan Jeumpa memang berada di Kecamatan Jeumpa, Bireuen. Hasil kajian ini yang kemudian dipresentasikan melalui seminar (bukan asal seminar) atau konferensi dengan output dibukukan dan dijurnalkan.
Penelitian menjadi metode untuk mendapatkan kebenaran, bukan pembenaran. Filsafat ilmu mengajarkan bahwa kebenaran yang dihasilkan manusia bersifat relatif. Munculnya sosok seperti Ridwan Saidi justru harus disikapi secara bijak tanpa mengedepankan emosi. Polemik dengan saling mengkritisi dibutuhkan agar kita tidak menjadi orang yang gagal dalam memahami hakikat kebenaran dari ilmu pengetahuan, sehingga dapat terus menggunakan akal sehat untuk mau membaca dan meneliti.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/teuku-cut-mahmud-aziz-sfil-ma-dosen-prodi-hubungan-internasional-fisip-universitas-almuslim.jpg)