Breaking News:

Virus Kolera Babi Landa 7 Kabupaten di Sumatera Utara, Apakah Membahayakan bagi Manusia?

Tercatat sudah sebanyak 1.985 ekor ternak babi di tujuh kabupaten di Sumatera Utara (Sumut) terjangkit virus hog cholera atau kolera babi.

Kolase Istimewa/Facebook.com
Ilustrasi hewan peliharaan babi. 

Penyebab matinya ratusan babi di Dairi secara mendadak, menurutnya disebabkan penyakit endemik yang secara alamiah.

"Namanya hog cholera, penyakit menular pada babi," katanya.

Pemda Dairi Meminta Bantuan

Menyikapi mewabahnya virus hog cholera alias kolera babi di Kabupaten Dairi sejak lebih sebulan terakhir ini, Bupati Eddy Berutu ternyata diam-diam melakukan rapat bersama Direktur Kesehatan Hewan pada Ditjen Peternakan dan Kesehatan Kementan RI, Fadjar Sumping Tjatur Rassa, baru-baru ini.

Kabag Humas dan Keprotokolan Setdakab Dairi, Palti Mansur Pandiangan saat dikonfirmasi Tribun Medan terkait hal ini mengungkapkan, hasil rapat tersebut, pejabat Ditjen Peternakan langsung bertindak mengambil sampel babi korban serangan virus guna dibawa untuk diteliti.

Selain pengambilan sampel, lanjut Palti, pejabat Ditjen Peternakan juga blusukan ke kawasan permukiman penduduk yang banyak peternak babi di Jalan Sidikalang-Kutabuluh Km 2, untuk menyosialisasikan perihal penyakit babi ini.

"Tim penyuluh turun ke lapangan untuk meninjau kondisi lapangan dan memetakan di mana daerah terserang wabah, berapa jumlah ternak babi yang terkena, dan lain-lain. Itu sebagai dasar untuk mengetahui penyebab kematian ternak babi warga," tutur Palti kepada Tribun Medan via selulernya, Minggu (27/10/2019).

Palti mengatakan, rapat bersama Direktur Kesehatan Hewan pada Ditjen Peternakan dan Kesehatan Kementan RI tersebut merupakan wujud keprihatinan sekaligus upaya serius Pemkab Dairi untuk meredam laju penyebaran virus kolera babi di Dairi

"Bupati ingin agar dalam sosialisasi ini diketahui pasti dampak yang timbul dari langkah-langkah pengendalian yang hendak diambil, baik secara ekonomi, maupun sosial, agar kita dapat menempatkan masalah ini secara proposional, sehingga media dan pemerhati paham dan tidak menimbulkan akses lain yang dapat menambah pekerjaan kita," tutur Palti.

Pada rapat tersebut, lanjut Palti, Ditjen Peternakan menegaskan, virus kolera babi dan virus demam babi Afrika tidak menjangkiti manusia. Untuk itu, masyarakat diimbau tidak perlu panik, apalagi sampai fobia terhadap babi.

"Dari penuturan Direktur Kesehatan Hewan Ditjen Peternakan, virus yang menyerang ternak babi di Dairi saat ini tidak dapat menular terhadap manusia. Kejadian seperti ini tidak hanya terjadi di Dairi, atau bahkan di Indonesia, saja. Di Republik Rakyat Tiongkok, virus African Swine Fever juga sedang mewabah saat ini," ujar Palti.

Palti mengatakan, pencegahan penyebaran virus kolera babi ini amat butuh peran aktif masyarakat, antara lain dengan cara tidak membuang bangkai babi terserang virus secara sembarangan, melainkan dibakar, lalu dikubur.

"Selain itu, untuk sementara para peternak babi diimbau mengkarantina ternak-ternaknya yang masih sehat hingga pengendalian terhadap virus ini oleh Dinas Pertanian selesai ditangani," ujar Palti mengakhiri.

Sebelumnya, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Dairi, Posmatua Manurung, bersama Kepala Dinas Pertanian, Herlina Lumbantobing mengatakan, serangan wabah kolera babi terjadi di 13 kecamatan di Kabupaten Dairi.

Berdasarkan pemeriksaan 12 sampel oleh Balai Veteriner Regional I Medan, tiga sampel babi mati dinyatakan positif Hog Cholera.

Sementara, sembilan lainnya masih dalam proses pemeriksaan lanjutan sebagai suspect virus African Swine Fever alias demam babi Afrika.

"Hingga saat ini, dokter hewan kita masih fokus mencegah penyebaran," ujar Posma saat konferensi pers di Sidikalang, Jumat (18/10/2019) lalu.

Posma mengungkap, hingga tanggal 17 Oktober 2019, tercatat ada sebanyak 1.004 ekor babi di Dairi mati dari jumlah keseluruhan 110.090 ekor (berdasarkan data Dinas Pertanian Dairi tahun 2018).

Tanggapan Anggota DPRD Medan yang Sekaligus Pengusaha BPK Tesalonika

Peternak babi sekaligus pengusaha BPK Tesalonika Hendri Duin Sembiring yang juga anggota
DPRD Kota Medan Fraksi PDIP mengatakan dengan adanya pemberitaan wabah kolera babi tersebut bukan hanya berdampak di kota Medan tapi juga hampir seluruh di daerah Sumut.

"Efeknya bukan hanya di Kota Medan. Hampir di daerah Sumut pasar lemah," ucap Hendri, Senin (28/10/2019).

Diakuinya, dalam satu bulan ini minat konsumen mengkonsumsi daging babi turun. Padahal, katanya, wabah kolera babi ini tidak membahayakan bagi manusia.

"Dengan adanya pemberitaan wabah kolera itu masyarakat ragu mengkonsumsi babi jadinya di pasar itu lemah. Bulan ini, omzet kami menurun 10 persen," ucap Hendri.

Meskipun begitu, ia tetap menyediakan stok BPK Tesalonika seperti hari-hari biasanya.

"Stok seperti biasa. Kami potong babi lalu dijual. Kami tidak pernah stok daging di kulkas, rasa pasti beda. Misalnya perlu daging 10 kg, kami potong babi kecil. (Sekarang) stok membludak, pembeli yang menurun," ungkapnya.

Ia mengatakan bahan baku BPK Tesalonika diperoleh dari peternakannya sendiri.

Ia mengaku babi kepunyaannya tidak terkena dampak wabah kolera babi sebab babinya sudah lebih dulu divaksinasi.

"Wabah kolera babi itu bisa terjadi karena babi tidak divaksin. Banyak peternak babi yang sepele tentang hal itu," tambahnya.

Hendri menghimbau agar konsumen tidak perlu takut mengkonsumsi babi. Bagi peternak babi yang babinya terkena wabah kolera, ia berpesan agar peternak babi itu melaksanakan tatanannya memelihara babi.

"Puncaknya bulan Desember nanti, kalau penyakit ini tidak diantisipasi. Jangan mundur. Sterilkan kandang, masukkan lagi bibit ternak babi baru, tetap bersabar. Jaga kandang supaya orang lain tidak masuk kandang itu. Babi juga harus divaksin," jelasnya.

Menurutnya, terdapat enam ribu peternak babi di Sumut.

Ketua Asosiasi Monogastrik Indonesia, Prof. Sauland Sinaga mengatakan virus hog cholera atau kolera babi tidak membahayakan manusia bila dikonsumsi.

"Wabah kolera itu memang siklus pancaroba hanya kelemahan peternak itu tidak paham, makanya babi harus melakukan program vaksinasi. Virus ini hanya menular pada babi, dan tidak menyerang manusia," kata Sauland.

Ia menjelaskan peternak babi sebaiknya melakukan sistem peternakan babi yang sesuai dengan prosedur contohnya vaksinasi terutama kolera ini, selain itu jangan sembarang orang masuk ke kandang babi, dan jangan memberikan sisa-sisa makanan babi sakit ke babi sehat.

"Berikan vaksinasi pada babi yang baru lahir satu bulan. Konsumen enggak perlu takut makan babi," katanya. (nat/cr16/tribun-medan.com/Kompas.com)

Lhokseumawe Miliki Lokasi Rukyat Hilal yang Diakui Kemenang RI, Ini Lokasinya

Tak akan Puji Pemerintahan Jokowi Meski Ada Prabowo, Haikal Hassan: Tetap Oposisi sampai Mati

Nova Minta Lelang di Media Lokal, Pengadaan Barang dan Jasa Perusahaan Migas

Artikel ini telah tayang di tribun-medan.com dengan judul Fakta Ancaman Virus Demam Babi di 7 Kabupaten di Sumatera Utara, Apakah Aman untuk Dikonsumsi?

Editor: faisal
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved